mengingat Michael Cera bermain cukup apik di Juno dengan drama simple dan sederhana yang justru mampu menggugah pemirsa, maka saya cukup “emoh” ketika menemuinya kembali di Super Bad yang kurang begitu “bagus”, dan kembali saya mencoba menguji apakah seorang Michael Cera cukup bagus?!
dari ketiga film itu, coba bandingkan mana karakter dari Michael Cera yang berbeda? saya rasa tidak ada perbedaan signifikan, jika di lakukan intersection terhadap grafiknya, maka dari ketiga film itu bisa di lihat kalau ada begitu banya ksekali kesamaan, bahkan mungkin terlalu banyak. mulai dari potongan rambut, sikap, ciri-ciri, dll…
dalam film ini Michael Cera yang berperan sebagai Nick juga memiliki perawak yang sama, jadi jangan harap melihat sosoknya yang lain, seperti melihat Daniel Craig pada Defiance dan James Bond.
drama sederhana ini cukup cheesy dan “anak muda” banget, hanya berisi sedikit konflik, dan tentu saja di bumbui dengan beberapa trik-trik sederhana ala anak muda, di bumbui tentang asmara gadis kaya dengan pria yang hanya memanfaatkan kekayaannya (saya rasa wajah pria ini mirip Tria Changcuters :p) , dan tentu saja kebimbangan tentang cinta…kisah melodramatis, berbau musik ini di balut ringan. jadi bagi anda yang berharap sebuah humor romantis yang “intelligent”, maka ada baiknya anda berpaling, namun jikalau anda memang punya waktu luang dan sekedar ingin menambah referensi musik, maka silahkan tonton film ini, karena rasanya memang benar di tarik judul “infinite playlist”, karena begitu banyak musik yang mewarnai di film ini.
kisah nya jika di tarik kesimpulan adalah, seorang remaja muda bernama Nick yang baru saja di “depak” oleh pacarnya Tris, di hadapi kebimbangan pada satu sisi ketika dia menemui seorang gadis bernama Norah, tak dinyanya kejadian menghilangnya Caroline dan acara “Found Fluffy” rupanya merekatkan mereka berdua, namun rupanya Tris punya daya, cara, dan upaya mendapatkan hati si Nick kembali? kenapa Tris ngotot mendapatkan Nick? dan apakah Nick dan Norah bisa bersama?
ahhh, tidak perlu saya jelaskan rasanya sudah cukup mengerti seberapa “chessy” drama-drama seperti ini. namun beberapa track di film membuat saya terbuai, beberapa kali saya terlepas dari kamera dan mendengarkan dengan seksama music yang berdengung pelan, namun syahdu. ah, mungkin memang yang di jual oleh film ini adalah “infite playlist” mereka.
fluffy sendiri sebenarnya adalah Bishop Allen yang di penghujung acara muncul, dan yang saya perhatikan ketika mereka muncul bukanlah “ohh, Bishop Allen”, tetapi lebih…
“Anjir, strato merahnya kerennn…”
begitu juga pada scene sebelumnya dimana Nick di hadapkan pada kenyataan kalau ayah Norah adalah “orang yang berpengaruh”, dan ketika Nick memegang strato putih untuk left handed (sebenarnya right handed, hanya saja strap pin nya di taruh secara terbalik, mirip dengan gaya Jimi Hendrix), kembali mengusik iman saya dan berkata…
“Besok gw harus punya STRATO!”
dan begitulan film ini berakhir, tidak ada memoar tentang kalimat yang di ucapkannya, tidak ada hal-hal unik yang bisa di contek, selain cara “fluffy” untuk mempopulerkan band mereka, dengan “merahasiakan” tempat dimana mereka bersembunyi untuk menggelar konser rahasia mereka. cara yang unik untuk mencari atensi, jikalau anda adalah band besar, maka taktik dan trik semacam ini benar-benar mudah di gunakan untuk menggaet peminat baru bagi musik anda. sisanya, hanya rasa “OST” yang masih terasa di kuping sampai sekarang, dan rasanya tidak sabar untuk memindahkannya dengan segerapa ke iPod dan mendengarkannya esok, sambil berjalan pelan menunggangi pesawat menuju Bali…