[review] Steve Appleton – When The Sun Comes Up

artist yang satu ini memiliki jenis suara seperti Jason Mraz, dan musik yang benar-benar Jason Mraz, but Steve Appleton still has his own taste, namun sayangnya tidak banyak orang yang membeli albumnya, mungkin karena orang sudah jenuh dengan musik jenis ini, karena kita di sibukkan di tahun 2009 oleh Jason Mraz, apakah musik dengan jenis ini sudah mencapai peak performance nya dan menunggu waktu untuk di tinggalkan.

salah satu yang membuat saya yakin adalah, tidak banyaknya informasi mengenai Steve Appleton, orang yang lebih muda beberapa bulan dari saya ini, sepertinya tidak terlihat oleh media, saya bahkan tidak melihat majalah-majalah melakukan review terhadap artis yang satu ini. bahkan gigs yang dilakukan pun sepertinya masih bertaraf bar, atau small gigs, mungkin karena dia masih berusaha meretas karirnya, mengingat dia baru terjun di dunia industri setelah dia mengeluarkan single dirty funk, pertengahan tahun 2009.

jangankan informasi, saya hanya menemukan 2 buah lyric dari 17 lagu di albumnya yang berjudul When The Sun Comes Up. bayangkan hanya 2 buah lyric, itupun masih dengan beberapa kesalahan pada kata, mungkin lyric ini disesuaikan dengan single bukan full albumnya.

albumnya When The Sun Comes Up sendiri baru meluncur bulan Agustus 2009 kemarin, namun hingga December saya belum melihat performance dari album tersebut, bahkan saya tidak bisa menemukan singles dari Steve Appleton berada pada posisi berapa di chart UK, US, Ireland, NZ, Aus, dll.

secara keseluruhan Album ini merupakan Album yang ceria that you should listen on your trip, atau ketika menginginkan feels that pump your energy, karena secara tidak langsung energi yang dihasilkan lagu ini mampu membuat anda lebih bersemangat dan meloncat dengan gembira.

beberapa single unggulan seperti Wake Up Honey, When The Sun Comes Up, Seeing Star, Dirty Funk, adalah beberapa produk unggulan karya Steve Appleton that you should listen. lyric yang terkesan sederhana dan bercerita membuat sebuah lagu seakan sebuah dongen dan cerita pendek dalam bentuk alunan nada.

namun 2 hal itu membuat Steve Appleton semakin tampak mirip dengan Jason Mraz.

kesimpulan?! this album worth to buy, if you want to get ride all of the Jason Mraz song on your playlist! :D

[Movie Review] Nick and Norah’s – Infinite Playlist

mengingat Michael Cera bermain cukup apik di Juno dengan drama simple dan sederhana yang justru mampu menggugah pemirsa, maka saya cukup “emoh” ketika menemuinya kembali di Super Bad yang kurang begitu “bagus”, dan kembali saya mencoba menguji apakah seorang Michael Cera cukup bagus?!

dari ketiga film itu, coba bandingkan mana karakter dari Michael Cera yang berbeda? saya rasa tidak ada perbedaan signifikan, jika di lakukan intersection terhadap grafiknya, maka dari ketiga film itu bisa di lihat kalau ada begitu banya ksekali kesamaan, bahkan mungkin terlalu banyak. mulai dari potongan rambut, sikap, ciri-ciri, dll…

dalam film ini Michael Cera yang berperan sebagai Nick juga memiliki perawak yang sama, jadi jangan harap melihat sosoknya yang lain, seperti melihat Daniel Craig pada Defiance dan James Bond.

drama sederhana ini cukup cheesy dan “anak muda” banget, hanya berisi sedikit konflik, dan tentu saja di bumbui dengan beberapa trik-trik sederhana ala anak muda, di bumbui tentang asmara gadis kaya dengan pria yang hanya memanfaatkan kekayaannya (saya rasa wajah pria ini mirip Tria Changcuters :p) , dan tentu saja kebimbangan tentang cinta…kisah melodramatis, berbau musik ini di balut ringan. jadi bagi anda yang berharap sebuah humor romantis yang “intelligent”, maka ada baiknya anda berpaling, namun jikalau anda memang punya waktu luang dan sekedar ingin menambah referensi musik, maka silahkan tonton film ini, karena rasanya memang benar di tarik judul “infinite playlist”, karena begitu banyak musik yang mewarnai di film ini.

kisah nya jika di tarik kesimpulan adalah, seorang remaja muda bernama Nick yang baru saja di “depak” oleh pacarnya Tris, di hadapi kebimbangan pada satu sisi ketika dia menemui seorang gadis bernama Norah, tak dinyanya kejadian menghilangnya Caroline dan acara “Found Fluffy” rupanya merekatkan mereka berdua, namun rupanya Tris punya daya, cara, dan upaya mendapatkan hati si Nick kembali? kenapa Tris ngotot mendapatkan Nick? dan apakah Nick dan Norah bisa bersama?

ahhh, tidak perlu saya jelaskan rasanya sudah cukup mengerti seberapa “chessy” drama-drama seperti ini. namun beberapa track di film membuat saya terbuai, beberapa kali saya terlepas dari kamera dan mendengarkan dengan seksama music yang berdengung pelan, namun syahdu. ah, mungkin memang yang di jual oleh film ini adalah “infite playlist” mereka.

fluffy sendiri sebenarnya adalah Bishop Allen yang di penghujung acara muncul, dan yang saya perhatikan ketika mereka muncul bukanlah “ohh, Bishop Allen”, tetapi lebih…

“Anjir, strato merahnya kerennn…”

begitu juga pada scene sebelumnya dimana Nick di hadapkan pada kenyataan kalau ayah Norah adalah  “orang yang berpengaruh”, dan ketika Nick memegang strato putih untuk left handed (sebenarnya right handed, hanya saja strap pin nya di taruh secara terbalik, mirip dengan gaya Jimi Hendrix), kembali mengusik iman saya dan berkata…

“Besok gw harus punya STRATO!”

dan begitulan film ini berakhir, tidak ada memoar tentang kalimat yang di ucapkannya, tidak ada hal-hal unik yang bisa di contek, selain cara “fluffy” untuk mempopulerkan band mereka, dengan “merahasiakan” tempat dimana mereka bersembunyi untuk menggelar konser rahasia mereka. cara yang unik untuk mencari atensi, jikalau anda adalah band besar, maka taktik dan trik semacam ini benar-benar mudah di gunakan untuk menggaet peminat baru bagi musik anda. sisanya, hanya rasa “OST” yang masih terasa di kuping sampai sekarang, dan rasanya tidak sabar untuk memindahkannya dengan segerapa ke iPod dan mendengarkannya esok, sambil berjalan pelan menunggangi pesawat menuju Bali…

[Movie Review] Defiance

berdasarkan kisah nyata yang di tulis dalam sebuah novel dengan judul yang sama, film ini di buat. mengambil latar di hutan belarusia, lengkap dengan pohon, ranting, sungai kecil, batu, dan udara sejuk yang seakan bisa di rasakan ketika kita menonton film ini…

1 hal yang patut di acungi jempol dari film berdurasi 2 jam 16 menit ini adalah, Cast! orang-orang yang berperan di dalam film ini, baik Tuvia, Bienski, dkk…punya kualitas akting jempolan. Tuvia sendiri yang di perankan oleh Daniel Craig adalah seorang Agent 007 yang sekarang sedang menyamar di tengah belantara hutan rusia…sayangnya character Tuvia jauh lebih kuat di bandingkan dnegan James Bond yang notabene lebih “mewah” di bandingkan dnegan Tuvia sendiri. selain itu setidaknya Tuvia benar-benar memiliki aksen khas ‘Belarusia’, bukan seorang Hitler dengan aksenAmerika.

alur cerita yang di alirkan cukup pas…walaupun saya cukup bergidik ngeri ketika melihat durasi film ini sampai 2 jam lebih…cuma Batman : The Dark Knight yang bisa membuat saya tahan duduk selama 2 jam untuk menyaksikannya detik demi detik, dan kali ini ada 1 buah film lagi yang bisa membuat saya tahan untuk duduk selama 2 jam lebih menyaksikan kehebatan dari seorang Tuvia.

camera view dan angle yang di tampilkan cukup menarik…walaupun kurang terlihat megah dan mengaksplore keindahan hutan Belarusia secara maksimal, tetapi ada beberapa scene yang cukup menarik, yang paling saya ingat adalah ketika ada beberapa daun maple jatuh ke sungai…sebagai tanda awal di mulainya musim gugur dan menjelang musim dingin.

dari segi cerita yang cukup menarik, dan berbagai macam konflik yang walaupun terlihat datar, namun seperti puncak gunung es, hanya terlihat data atau kecil pada permukaannya, namun sungguh begitu besar sebenarnya konflik yang terjadi pada film ini. salah satunya ketika berhasil menangkap salah seorang tentara Jerman, para pengungsi yang tadinya bisa hidup tenang berubah menjadi serigala yang buas, dan menghajar tentara Jerman itu tanpa rasa belas kasihan. perasaan mereka tentang kehilangan keluarga yang mereka cintai, orang yang mereka sayangi menyeruak, namun di sisi lain Tuvia merasakan sebuah perasaan sedih karena, mereka, para Jewish memiliki hati yang begitu hangat…

tetapi selain itu, ketika saya melihat film ini saya seperti membayangkan seorang Moses pada masa WW2. dan sepertinya memang Moses adalah karakter yang ingin di tonjolkan oleh film ini. Moses adalah seorang Nabi dari 3 agama, yaitu Islam, Kristen (baik itu Protestan ataupun Katolik), dan Yahudi. dan pada film ini di saya rasa Tuvia di gambarkan sebagai seorang Moses.

bagaimana ia ingin membantu orang lain, bagaimana ia tidak di percayai oleh orang lain, bagaimana ketika dia harus marah dan bingung menghadapi semua masalah yang ada…bukankah Moses sendiri pernah melanggar perintah Tuhan ketika dia harus berbicara pada batu untuk mengeluarkan air, namun dengan marahnya ia memukul batu itu hingga pecah dan keluar air…

selain itu saya jadi teringat ketika Moses mengeringkan laut dan membawa pendukung pergi melintasi laut, atau mungkin teringat Nuh yang mengarungi banjir bandang dengan kapal Bahteranya yang konon katanya sekarang terjebak di atas bukit?! karena pada salah satu scene, si Tuvia ini menyusuri rawa dengan memanfaatkan ikat pinggang yang saling sambung satu sama lain.

Defiance adalah sebuah movie yang bagus, jauh lebih bagus di bandingkan Valkrye yang saya pikir bisa menjadi sebuah film yang menggugah saya pada tahun 2009, namun rupanya Defiance datang dan menohok saya tepat di pipi, dan memberikan sebuah sengatan listrik tingkat tinggi hingga saya melupkan Valkrye dan mengangkat Defiance sebagai salah satu film yang patut dan wajib di tonton ketika dia sudah mulai beredar di bioskop anda.

[review movie] Wall-E

apa yang terjadi kalau manusia tidak bisa tinggal di Bumi lagi, karena Bumi sudah penuh sampah, udara yang tercemar, dan tidak layak untuk di tempati sehingga manusia harus hijrah keluar dari tanah kelahirannya menuju ke angkasa yang luas, dengan menggunakan sebuah kapal luar angkasa yang besar.

di tengah kepindahan manusia ke peradaban dan dunia yang baru, sebuah robot bernama Wall-E yang bertugas untuk membersihkan sampah-sampah yang mengotori bumi rupanya masih tertinggal dan melakukan pekerjaannya di bumi, bersama dengan seekor Kecoa (mungkin?), hanya mereka 1.5 makhluk hidup yang bertahan di bumi (karena Wall-E robot maka di hitung 0.5, ok!)

film yang di kemas dengan animasi yang menarik dan keren ini, apalagi robot-robot yang di sajikan misalnya si Alice yang seperti telur, benar-benar menggambarkan robot yang simple dan sederhana dan berkesan futuristik, di bandingkan saya melihat baju terbaru yang di gunakan oleh Kamen Rider.

alur dari film ini lambat, dan tidak ada unsur kejutan di dalamnya, yang bisa kita gali dari film ini hanya “pesan moral”, bahwa kita harus selalu menjaga kelestarian Bumi. sebuah petuah yang benar-benar cocok untuk di sebarkan pada saat ini, saat dimana manusia melepaskan pengawasannya terhadap Bumi, tempat mereka tinggal. manusia lupa untuk menjaga dan menghargai bumi, yang bisa kita lakukan sekarang hanya merusak dan menggerogoti bumi sedikit demi sedikit. dan bukan tidak mungkin, jika kita terus melakukannya maka kita akan bernasib seperti pada film Wall-E tersebut.

“Meninggalkan Bumi, dan tinggal di Angkasa!”

good film actually, namun karena segmented nya untuk anak-anak jadi untuk orang dewasa yang umumnya malas “digurui” akan merasa cukup bosan, namun akan sedikit terhibur dengan interaksi antar tokohnya, dan animasi yang di tampilkannya. tetapi bagaimanapun film dari Disney Pixar selalu film-film yang terbaik dan benar-benar bisa di katakan memiliki kualitas yang baik dan di atas rata-rata, mulai dari Toy Story, Nemo, Car, dll. dan sepertinya Wall-E akan melanjutkan tradisi tersebut.

Rating : 4 out of 5

NB : for young people who love action movie try watch Wanted…kecuali emang ada extra fund untuk menonton film, then watch Wall-E after you watch Wanted! ;)

[review] The Love Guru and Wanted movie…

hari ini saya menonton 2 buah film yang benar-benar mengasyikan, dan hebatnya lagi, saya menghabiskan waktu untuk menonton film-film itu dari sore hingga dini hari. sebuah hal yang tentu saja bisa saya lakukan jikalau saya benar-benar mendapatkan waktu luang yang benar-benar kosong.

film yang pertama saya tonton adalah The Love Guru (trailer). sebuah film yang unik dan menarik, apalagi genrenya adalah komedi, yang tentu saja bisa memberikan sebuah penyegaran kepada saya yang benar-benar sedang jenuh di rumah. jenuh karena tidak ada hal yang bisa di lakukan, dan jenuh karena saya tidak bisa berkata apa-apa ketika saya mengangkat telpon dari dia. ketika telepon itu berdering dan saya mengangkatnya, maka saya kehilangan sebuah pertanyaan kecil, yang menghilang dan pergi begitu saja dari kepala saya entah kemana, mungkin bersembunyi di balik keberanian, padahal dia sendiri tahu yang berada di balik sebuah keberanian adalah sebuah ketakutan.

oke, kembali ke The Love Guru yang saya tonton. di dalam film ini di ceritakan seorang Guru yang selalu memberikan wejangan kepada orang-orang, sebenarnya wejangan yang di sampaikan memiliki nilai atau petuah yang baik, namun dengan penyampaiannya yang kocak, dan menghibur, maka saya seakan tidak sedang di gurui ketika mendengarkan wejangan yang di sampaikan olehnya.

kisah film ini berputar antara seorang Guru yang bernama Pitka yang di tugaskan membantu sebuah team Hockey yang kehilangan sang maestro, karena dia ingin bercerai dengan istrinya. tugas sang guru adalah menyatukan mereka berdua kembali, menjadi sepasang kekasih, sehingga team hockey yang sudah terjebak di dalam kesulitan ini bisa bangkit dan menjadi jaya kembali.

Mike Myers yang bermain sebagai guru Pitka, benar-benar menggelitik, dia benar-benar bisa memerankan bagaimana cara memberikan wejangan dan petuah dengan baik. adegan-adegan humor yang di sajikan juga berlangsung baik, misalnya ketika awal film di mulai, ketika sang guru bermain gitar khas india, namun ternyata berubah menjadi lagu modern, atau lihat ketika dia menyanyikan lagi More Than Word, dengan gitarnya, atau mungkin ketika dia memainkan gitar india dengan double neck pada akhir film.

namun seperti yang saya katakan tadi, wejangan yang diberikan oleh sang guru bukan hanya isapan jempol, atau sebuah keisengan. misalnya saja salah satu wejangan yang saya ingat dan melekat di dalam kepala saya adalah: “from nowhere into now here”.

wejangan ini seakan memberi tahu, bahwa setiap orang tidak mengertahui kemana arah dan tujuan hidup mereka (nowhere), mereka tidak mengerti jalan apa yang harus di tempuh, stay at the back, dan memandang hidup sebagai sebuah dunia tanpa peta, membutakan dan mudah tersesat. namun ketika kita memberikan sebuah “spasi” pada kata tersebut, sehingga dari “nowhere”, berubah menjadi “now here”, maka sebuah keajaiban terjadi. beranjak dari keadaan dimana kita tidak mengetahui segala hal, dimana kita tidak mengerti tujuan hidup kita (nowhere), kita di ajak untuk menentukan jalan hidup kita sekarang (now here). sebuah petuah dan wejangan yang sederhana, namun dalam.

wejangan lain yang disampaikan, misalnya pada buku-buku yang di tulis oleh gutu Pitka, misalnya seperti: “If this hurt you? don’t do it!”. wejangan ini memberitahukan, terkadang orang mengerti bahwa sesuatu itu sebenarnya adalah sebuah “penyakit”, atau membuat dia menjadi “sakit”, namun entah kenapa banyak orang masih melakukannya, bahkan terkadang dengan suka cita, rela. contoh gampangnya adalah : “merokok!”.

masih banyak hal-hal lucu yang di alami Guru Pitka, dan wejangan-wejangan yang di ucapkannya. kita cukup menggali inti dari wejangan itu, dan bisa tersenyum sambil belajar, bahwa sebenarnya hidup di dunia ini begitu indah, dan setiap kalimat yang keluar dari guru Pitka, memberikan kita pencerahan, dan penyegaran.

film satu lagi yang saya tonton hari ini adalah Wanted (trailer). sebuah kisah action yang seru, bahkan menurut saya lebih seru di bandingkan Vantage Point. hanya saja dari sisi cerita dan kreativitas saya lebih suka dengan Vantage Point, karena menyuguhkan action dalam bentuk baru, dengan berbagai macam sudut pandang yang berbeda, seakan setiap sudut pandang memberikan kesan dan kepingan tersendiri yang siap di susun menjadi sebuah puzzle. namun tentu saja Wanted ini tidak kalah seru dengan Vantage Point sendiri.

bahkan ketika film baru saja dimulai kita sudah di suguhi aksi-aksi action yang menawan, penggunaan angle camera yang keren, apalagi reverse playback effect yang sungguh-sungguh menganggumkan, effect dan animasi bullet yang sekali lagi mengesankan, membuat saya sempat terhanyut di dalam film ini. walaupun begitu tetap saja ada fase jemu, terutama bagian akhir, karena penuntasan untuk bagian akhir yang terlalu cepat. jika di ibaratkan, terlalu banyak fore play, sehingga ejakulasi dini.

klimaks yang di hasilkan tidak pas, karena saya sendiri merasa kalau klimaksnya kurang greget, tetapi sungguh, action yang diberikan oleh film ini, lebih dari cukup bagi anda untuk merasakan betapa serunya film ini.

beberapa effect yang menarik dari film ini adalah “acrobatic car”, dan “swing shoot”/”swing bullet”, sebuah effect dimana peluru bergerak dengan curva untuk menuju target. saya sendiri baru tahu ketika saya menonton film ini. sebuah effect yang benar-benar keren dan asik untuk di tonton.

untuk setiap film yang saya tonton hari ini saya berikan rating 4 untuk masing-masing film.

conclusion? pada bulan july ini jika anda ingin menonton sesuatu yang segar, anda patut menunggu The Love Guru tayang di bioskop Indonesia. atau jika anda memerlukan suatu pemacu adrenalin, maka anda bisa menonton Wanted. all recommended, and all are good!

happy watching!

komitmennya mana?

saya selalu berhadapan dengan orang yang mudah sekali mengumbar komitmen dan janji. apalagi untuk urusan kuliah, dan sebuah hal kecil bernama tugas. komitmen yang di bangun itu seperti hangatnya kopi di pagi hari, namun se iring berjalannya waktu dan sang pagi bergerak menuju siang hari, ketika itu pula kopi berubah menjadi dingin, dan begitu juga komitmen orang-orang yang mirip seperti kopi itu.

contoh kongkrit dan nyatanya adalah terbengkalainya beberapa project yang ada di semester ini, berantakannya kegiatan tugas kelompok yang memaksa saya untuk begadang, sekedar mencari tambahan nilai, karena jika orang batu di lawan dengan batu, maka yang terjadi adalah sama-sama sakit. mungkin ini akibat saya berurusan dengan orang yang acuh-tak-acuh dengan nilai.

atau mungkin mereka tidak sanggup? waduh…kalau kita bicara sanggup dan tidak sanggup dalam konteks yang kecil, apalagi hanya kalangan tugas, maka menurut saya itu adalah hal yang tidak tepat. kenapa? karena ilmu pengetahuan di pelajari. jika kita tidak sanggup, maka belajarlah. Tuhan tidak memberikan kita ilmu cuma-cuma, Tuhan cuma meminjamkan sebuah tempat untuk menampung, lalu apa yang di tampung, dan apa isinya tergantung si pemakai.

nah jadi intinya adalah kembalinya kepada komitmen usaha, dan belajar dari seseorang. bukan “sya tidak sanggup” kata-kata yang harus keluar kiranya, namun ada baiknya kita berkata, “saya akan coba”. bukan “bagian mana yang gampang?” yang harus di tanyakan, namun “bagian mana tugas saya?”, adalah hal yang harus di ketahui.

apakah dengan seiring berjalannya semester, dan semakin sadarnya akan pentingnya nilai, maka mereka bisa berubah, atau setidaknya mulai berkomitment dan bertindak, jangan hanya berucap. “ayo bikin tugas”, tetapi malah sibuk melakukan hal lain.

saya tidak marah, hanya saja. jika beban di tanggung saya, maka saya menjadi jenuh, dan lagipula saya bukan superhero. ada kalanya saya merasa kalau saya adalah seorang pekerja, yang pontang-panting menghadapi sekelompok raja congkak. ada kalanya saya merasa kalau saya adalah se-ekor kuda yang membawa gerombolan preman melintasi desa. sungguh lelah dan menguras tenaga, apalagi jika hasil karya yang saya hasilkan hanya di hargai ketika presentasi di mulai, dan di kembali di acuhkan ketika presentasi berakhir.

jika berkomitmen saja begitu sulit, bagaimana mau menciptakan kepercayaan dari orang lain…

[REVIEW] Jack McManus – Either Side Of Midnight

setelah kemarin saya mencoba mengulas sedikit tentang album terbaru Jason Mraz, kali ini saya membawa sebuah penyanyi solo kembali. bukan asalnya dari solo, tapi lebih di karenakan dia menyanyi sendiri.

Album Jack McManus yang di keluarkan oleh label Polydor ini, mengandalakan sebuah Single dengan judul “Bang on The Piano” (atau Rang on The Piano, some site just say like that…), well what ever it call yang jelas lagunya cukup catchy dan asik.

Jack McManus Cover Album

album ini bernuansa pop/rock yang asik, beberapa tune nya catchy dan cheesy, namun beberapa terlihat seperti rock (batu?). over all album pop/rock yang di hidankan di depan saya ini cukup asik dan enak di dengar.

album yang di keluarkan awal bulan May 2008 ini bisa meraih urutan yang tinggi di BBC (22), pada bagian Pop. sebuah hal yang cukup mengaggumkan mengingat ini baru minggu ke-2 album ini di lepas di pasar.

selain lagu Bang on The Piano yang menjadi single hits, Jack McManus juga menawarkan sebuah lagu yang yang berjudul Amy. lagu ini dipenuhi dengan komposisi yang indah dan benar-benar menawan. penuh dengan string section yang indah.

another track that need to listen adalah Milky Way yang menjadi salam pembuka di album yang asik ini. untuk mendengar demo, coba tonton video youtube di bawah ini.

Jack McManus – Bang on The Piano

[rating : 4.0 - 5.0]

[REVIEW] Jason Mraz – We Sing We Dance We Steal Things

Get Music Tracks!


Jason Mraz - We Sing We Dance We Steal Things Coveriseng-iseng coba bikin review. kali ini coba ngereview album terbaru Jason Mraz, We Sing We Dance We Steal Things.

lagu yang cukup di jagokan adalah Make it Mine, dan memang lagu yang bertempo upbeat dan ambience ini akhirnya memberikan daya tarik tersendiri terhadap album ini. tapi lagu ini membuat saya teringat kepada KoC (King of Convenience) yang akhir-akhir ini sering di tanyakan, nostalgic uh?

ada 12 lagu di dalam album ini, dan beberapa yang melekat di ingatan saya ketika saya pertama kali memutarnya adalah Make it Mine, dan Butterfly. 2 lagu itu dengan cepat melekat di dalam ingatan saya.

penggunaan instrument yang beragam, dan style Swing, Ambience, dan R&B yang kental membuat album ini serasa es campur, yang memblend semua rasa. tidakaneh, namun enak walaupun semuanya seakan di masukan ke dalam album ini.

overall, buat yang suka jenis-jenis Malique, dan R&B khas Tompi just go buy this album, ga bakalan nyesel deh.

klo yang pengen coba-coba, try to listen the demo here. just press “Get Track” button, and you will be redirecting into my playlist site (unfortunately WordPress doesn’t allow embed a flash player). lain kali saya akan mencoba review beberapa album yang saya punya, mulai dari artist yang tenar, ataupun sekelompok manusia berlabel indie yang tidak terjangkau di luar sana.

[rating : 4.5 from 5]