a random thought!

ketika kita sadar kalau kita mencintai seseorang, tatap matanya dan genggam tangannya karena ketika kita mengetahui bahwa nanti ketika di pagi hari dia tidak ada disamping kita, maka kita sadar…that you really love her!

couple of story that left by me ketika SMA. masanya anak muda, masa yang berapi-api! begitu kata bang rhoma, atau mungkin “ali topan anak jalanan”, kata ikang fauzi.

tidak usah mengkaitkan 2 kalimat di atas dengan post saya, karena pada dasarnya saya cuma ingin mengatakan kalau semua ini saya dapatkan ketika saya SMA, ketika saya baru mengenal dan mencoba bertindak serius dengan yang namanya cinta dan wanita…

saya kenal dengan seorang Wanita, my own Laudya Cintya Bella…nah you should knew it. saya baru sadar ada wanita yang menggugah iman saya ketika saya kelas 2 SMA, ketika kelas 1 SMA saya dekat dengan Sintia (ada banyak nama berinisial Sintia, Cintya, dan Sintia lagi..dalam hidup gw, what a market-name [nama pasaran], dan ini Sintia yang itu…bingung?!)

seseorang that I completely forgot ketika saya kelas 2. namun my own Laudya Cintya Bella merubah segalanya, sampai sekarang saya masih bisa mengingat wajahnya, suaranya, dan tinggi badannya…lol…

everything goes as it to be. saya kenal dia semenjak SMP, namun ketika SMP saya cuma menaruh perhatian kepada teman 1 gang nya. Novi…ahahahaha, damn Novi, anak kecil cerewet dan kurus kering (which is sering di compare dan di mirip-miripin dengan gw), kemana dia sekarang? sorry to make you as a bet, sampe sekarang gw nyesel…and Damn Eka that makes me do that…

masih teringat waktu gw ama Novi, Ratna, Eka, ama Hendra lari pagi tiap minggu…pulang-pulangnya beli keripik singkong berbumbu borax dan formalin, lengkap dengan MSG…

and gw jadi teringat dengan Ratna…si imut putih, juragan keripik, teman sekelas gw selama SD, orang yang tidak bisa menggoyah posisi Gw, Dwi, ama Renata di posisi top 3 kelas selama SD…

and gw jadi inget ama Herlyn (bukan Herlyn yang gw kenal waktu SMA, dan gw baru sadar, nama yang beredar selalu repetitive) sewaktu SD…si bocah cewe berkaca mata, satu-satunya yang pernah bilang di depan muka gw…

“Gede keren…”, lol…

gw jadi inget ama rambut jalin-2-nya si Herlyn, bahkan gw inget gw yang bujuk dia waktu dia ga mau sekolah…tapi yang paling terkenang jelas si Retno, jadi inget ama Hafid + Ratna waktu jalan naik sepeda gayung ber-4 ke area persawahan, waktu jalan bareng ama Retno pulang dari Les, dst…

di tampar ama cewe?? ahahaha…the one that inspire me entire SMP?!

kalau inget semua itu, gw jadi pingin ketawa…Live is FUN!

gosh…jadi ngelantur.

and gw rasa begitu juga perasaan gw ke semua wanita yang ada dalam hidup gw ketika gw SMP, dan entah harus bersyukur, harus mengucap terima kasih, atau harus berkata…

“I should more serious!”

kepada semua wanita yang pernah meninggalkan bekas-bekas kecil dalam hidup saya.

saya cuma bisa mengingat how I approach her, dan membiarkan seluruh ikatan ini terangkai sebagai hubungan tanpa status, atau hanya sekedar teman baik, bahkan beberapa berakhir sebagai seorang sahabat.

I kinda love it…

karena pelajaran pertama gw, dateng dari my own Laudya Cintya Bella, ketika gw ingin approach dia, berusaha untuk serius dan menjadikan dia sebagai the only one that I see, maka yang saya temui adalah ketika saya dalam titik serius, saya berpaling ke wanita lain…wanita yang memiliki daya tarik yang berbeda, dan membuat saya merasakan kalau, damn she’s better than my own Laudya Cintya Bella.

saya masih berusaha mendekati my own Laudya Cintya Bella, bahkan dia satu-satunya orang yang saya berikan hadiah Valentine berupa NOVEL! yap NOVEL! yang gw bikin sendiri, gw karang sendiri, gw ketik sendiri, gw print sendiri, tapi jilidnya di bantu orang lain…

I still remember the cover, warna cover coklat dengan gambar daun, yang dirancang sedemikian rupa seperti sebuah perpotongan gelombang sinus, menggelombang begitu atraktif dan konstan, seni dalam bentuk perpaduan posisi daun yang sederhana dan tata tulisan, dengan judul…

Cerita Cinta

what a shit! ahahahaha…dan lebih tololnya lagi gw bikin sequelnya dengan judul

Bukan Cerita Cinta

double shit!! ahahahaha…

dan unfortunately, gw jadi tenggelam dalam tulisan-tulisan lama gw, puisi-puisi lama gw…puisi tanpa judul, tanpa makna, karena tanpa sadar gw jadi kangen dengan suasana itu, suasana ketika gw berusaha untuk take serious sebuah hubungan, ketika gw sadar bahwa

I WANT MY OWN LAUDYA CINTYA BELLA!

namun ketika seluruh hubungan itu memadat, dengan mudahnya gw berpindah ke kapal yang lain, untuk mengulangi sebuah hubungan dengan wanita yang lain…dan gilanya, gw sadar ketika my own Laudya Cintya Bella bilang…

“Martha lagi deket ama Febri ya? tadi gek lihat di perpus berdua…”, and I still remain silence.
“kalo gitu, mending Martha deketin Febri aja..daripada sama gek nanti ujung-ujungnya pasti ga enak!”, gw udah mulai gelisah…bukan nahan kebelet jelas…
“karena hubungan itu dimulai dari rasa percaya dan yakin, kalo Martha ga yakin ama gek, mending ga usah dilanjutin, ga usah di seriusin…end it here, as a friends!”, lalu dia tersenyum, dan gw pingsan!

ahahaha…gw di ajarkan sebuah hal…

when you love someone, katakan kalau kau “cinta” kepadanya ketika kau jatuh cinta kepadanya, genggam tangannya ketika kau jatuh cinta kepadanya, tatap matanya ketika kau jatuh cinta kepadanya, be brave!

karena ketika dia pergi, dan kau sadar betapa kau mencintainya…maka dia tidak akan berbalik dan kembali lagi…

my own Laudya Cintya Bella adalah orang yang paling “menarik” di hati gw…she’s number one! tapi itu bukan berarti tidak ada “number two“, “number three“, atau “number n” di dalam hati gw.

yang jelas dia memberikan aturan yang jelas!

“CUKUP ADA 1 NOMOR DALAM HATI KAMU UNTUK KAMU CINTAI! NO MORE NO LESS!”

and that’s the lesson  that she taught me…diberitahu oleh seseorang yang masih saya damba, namun tidak bisa saya genggam…not now…

mungkin nanti…someday…somewhere! :)

if you love someone?!

saya banyak membaca beberapa hal, dan banyak pula tidak setuju dengan hal-hal yang saya baca. entah karena saya ingin mencari solusi lain, alternatif lain, atau sekedar tidak ikut-ikutan dengan orang lain…tidak hanya pada bacaan, pada hal lain pun saya suka sekali mencari jalan yang berbeda…an adventure I think!

beberapa yang sering saya tidak setuju adalah…”cinta”…

it’s kinda hard to tell what is the “ideal” criteria to love someone?! dan menurut saya sendiri, cinta itu unik dan harus di ungkapkan dan dijelaskan secara unik. tidak hanya memandang satu sisi, namun dari berbagai sisi, dan dari titik-titik yang berbeda…oleh karena itu saya benar-benar terinstpirasi dengan lagu More Than Words nya Extreme.

saya terkesima dengan pilihan lyric dan nadanya, terutama pada bagian…

What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn’t make things new
Just by saying I love you

saya terkesima, bagaimana Extreme mengungkapkan cinta dalam posisi yang unik…tidak hanya berakar pada kalimat “I Love You” yang menjadi patokan diseluruh dunia, namun mereka mendobraknya dan memikirkan hal baru…serta memberikan kesimpulan…

“Cinta itu lebih dari kata-kata!”

love is an action! dan saya setuju tentang hal ini, saya ingin suatu saat ini, ketika saya ingin mengucapkan “I Love You”, dia menempelkan telunjuknya pada bibir saya dan berkata…

“I already now what you would say…”

romantic isn’t it?!

namun jika dilihat dari segi “action”, maka saya bisa membagi 2 hal…yaitu “action” sepihak, dan “action” about love. dan kebanyakan hal-hal cinta yang saya baca adalah “action” dalam hal sepihak.

contoh sederhananya:
“orang yang mencintaimu, adalah orang yang selalu mengirimkan pesan ‘selamat pagi’, ‘selamat siang’, ‘selamat tidur’…walaupun kau tidak pernah membalasnya!”

if I were that boy, than I’ll blame my self! dalam hal perhatian, dia benar…kenapa?! karena dalam hal ini perhatian kepada pasangan jauh lebih baik di bandingkan sebuah kalimat “I Love You!“, namun perhatian tanpa balasan?! come on…

bagi saya ini lebih terlihat seperti katak merindukan bulan, sayang bulan ga bisa ngomong.

one side note tercipta ketika saya membayangkan, kenapa orang suka dengan note-note seperti itu. karena mereka membayangkan mereka dalam posisi di tunggu, dan mereka jarang sekali berpikir dalam posisi menunggu. padahal…secara tidak langsung, seperti yang saya ucapkan tadi…cinta itu harus di pandang dari berbagai sisi…dan orang yang mencintai anda, ketika anda mengirimkan pesan ‘selamat siang’, dan anda sedang tidak ingin “mengobrol”, maka ia akan mengirimkan pesan…

“maaf, saya, tapi aku lagi pingin nenangin diri…ngobrolnya nanti malam aja, oke darling!”

a piece of small talk like this can grew up a relationship, and make it last long. sekarang coba kita berkaca pada diri sendiri, seberapa sering anda mengungkapkan apa yang anda inginkan kepada pasangan anda…seberapa sering anda berkata…

“that look cool, but really…I don’t like it!”

kepada pasangan anda, terhadap hal yang anda tidak suka dari pasangan anda. dan seberapa sering anda menerima kalimat yang sama dari pasangan anda?!

kadang bara-bara kecil itu dimulai dari kurangnya “small-talk” di dalam hubungan anda. sekedar curhat, bertanya tentang masalah, berkeluh kesah, memikirkan bersama solusi dari suatu masalah…hal-hal seperti itu jarang sekali dilakukan, dan ujung-ujungnya apa yang terjadi?!

ketika pasangan anda berbuat salah, anda akan berkata…

“syukuriiinnn, kan udah di bilangin ga usah begitu…masih aja bandel!”

padahal, pada dasarnya anda tidak pernah mengucapkan hal itu secara langsung pada pasangan anda. anda mungkin hanya mengucapkan…

“yaa, itu sih terserah kamu sayang!”

dan anda menganggap diri anda berkata…

“jangan saya…aku tidak suka!”

dan seujujurnya, there’s a big difference between that two sentece!
one side note
lagi, cinta adalah honest!

dan pada dasarnya kita mengungkapkan rasa cinta kita kepada “orang” lain yang kita cintai, dan kita patut sadar bahwa manusia tidak sempurna, dan tugas cinta bukan membuat orang itu menjadi sempurna! namun memberikan kita sebuah kekuatan untuk menyadari bahwa

“manusia itu tidak sempurna, oleh karena itu mereka belajar!”

dan yang menjaga mereka ketika mereka “belajar” adalah cinta…coba lihat ada berapa banyak orang yang dalam hubungannya mau memperbaiki kesalahan pacarnya, dan berusaha bersama-sama memperbaikinya. berapa orang yang berkata seperti ini..

“kamu tahu kan kalau kamu salah, tapi aku tahu kalau kita bersama…kita pasti bisa memperbaikinya, we are a team right?!”

dan “belajar menghargai kelebihan dan kekurangan orang yang kita cintai” adalah another one side note.

jadi jika kita tarik kesimpulan, love is:

  1. action
  2. honest
  3. person

dan jika kita gabungan…

act honest to a person!

that is LOVE! nothing about being honest about your self into another person

dan oleh karena itu saya percaya…
“cinta itu bukan dari saya untuk dia, tetapi dari kami untuk kita!”

Morning Tears

something called me this morning! entah kenapa, tapi saya merasa kalau pagi ini saya di berikan petuah untuk men-tuned gitar dengan alternated tuned, sebuah tune yang sebenernya tidak biasa saya pakai.

non-standard tune yang saya pilih saat ini adlah : DADGAD, dan yang umum menggunakan tuned ini adalah para finger picking guitar, dan air tapping guitar, seperti Andy McKee. namun jujur, ketika saya mendapatkan ide ini, saya sama sekali tidak membayangkan akan bermain seperti Andy McKee, menciptakan lagu seperti Andy McKee. apalagi menciptakan Drifting.

pada dasarnya DADGAD memberikan sebuah chord ketika kita menstrum nya open string, yaitu D Sus…oleh karena itu, membuat chord di tune ini terlihat gampang-gampang susah. Gampang karena cukup menggerakan sedikit tangan dan merubah Root note, susah karena belum terbiasa…tapi setidaknya ketika mendengar nadanya bergeming, saya sadar…saya harus menggunakan gitar accoustic untuk menciptakan suara yang asik.

maka dengan segera saya menyiapkan Boss AC2 dan mencari setting yang enak untuk di ajak bermain dengan tune ini.

dan setelah mencoba sedikit, dan mencari nada yang pas…maka saya memutuskan untuk merekamnya dengan Cubase SX 3, sekedar untuk mengingatkan saya bahwa saya pernah menciptakan lagu dengan alternated tune.

karena ilham dan jiwanya ketika bangun pagi, maka judulnya harus ada Morning, dan karena ada rasa sedih maka ada baiknya saya menambahkan Tears di belakangnya…maka jadilah lagu dengan judul Morning Tears ini.

masih banyak yang harus di rubah, seperti durasi (I think 5 minutes terlalu lama buat sebuah sappy song…I’ll work on it later on!), dan lyric…walaupun saya sendiri tidak yakin lyricnya akan berbentuk seperti apa…hohohoho…

any way, bagi yang berminat…silahkan download disini

Lost and Found…

hari ini saya di paksa untuk berkerja pada komputer lama, yang sudah bersuara layaknya Jet Pump yang sedang on-fire untuk menyedot habis air tanah yang berada di bagian bawah Jakarta tercinta ini.

setelah puas melanglang buana, dan di kagetkan dengan peristiwa putus nyambung seperti BBB, karena komputer ini memang tidak tahan panas, tidak tahan air, dan tidak tahan hujan…

mungkin karena tidak di buat dengan bahan yang di gunakan oleh APBoot, maka komputer ini menjadi sedemikian rentannya terhadap mara bahaya yang selalu menghadangnya, oleh karena itu seringkali dia mengambek ketika terjadi masalah pada system di dalamnya, entah karena memang karena usianya yang sudah tidak produktif lagi, atau karena sekedar alasan untuk ngerjain saya aja….

tapi tidak jarang juga dia berhasil bertahan hidup dalam waktu yang lama…sama seperti ketika saya menulis post ini, komputer ini berhasil hidup dalam waktu yang lama…dan saya rasa masih akan berlangsung terus, sampai nanti saya menekan tombol Shut Down dan beralih pada laptop saya yang sudah kembali ke pangkuan saya.

ketika saya mencoba melihat-lihat data-data yang saya buat di komputer lama, saya terkejut pada beberapa draft cerita yang konon katanya akan berbentuk novel, namun beberapa masih dalam bentuk yang terpisah, seperti puzzle namun dalam bentuk yang berbeda…mungkin karena saya memang orang yang inkonsisten, atau karena memang semuanya di buat pada masa yang berbeda, dan emosi yang berbeda, sehingga setiap perwakilan kalimat yang saya temukan dalam keadaan kontras luar biasa, seperti iluminasi pada pagi hari, atau bias-bias cahaya terik pada siang hari…

namun ada beberapa draft yang saya temukan menarik, dan membuat saya berkata…

“God, ga nyangka ada cerita bagus begini kaga gw kembangin!”

dan salah satu yang saya temukan adalah seperti ini:

Aku duduk di balcony, bersandar pada sebuah tiang dan memainkan handphone yang sudah sedari tadi kupegang. Terkadang kuputar, terkadang ku mainkan tombolnya, hingga tanpa henti dia berkelap-kelip menirukan sorotan lampu panggung dangdut yang berlangsung heboh lusa kemarin.

Aku terdiam sejenak lalu menekan tombol bawah untuk mengakses Phone Book yang ada di handphone ku. Sejenak aku membeku, menahan stimulus darah yang tiba-tiba mengalir deras, seperti sedang terjun bebas, atau tertatih-tatih melawan gelombang di arung jeram.

Aku hanya menghela nafas dan membayangkan jika saja aku punya keberanian saat ini, namun entah kenapa ketika aku menekan tombol bawah, keberanian yang sedari tadi aku pupuk kini kabur dan menghilang entah dimana.

Akhirnya aku menekan tombol kanan yang berarti keluar dari phone book, dan sekali lagi ketika layar menunjukan wallpaper, dari handphone ku, sekali lagi aku menekan tombol bawah dan mengakses phone book nya. Begitu terus berlangsung berulang-ulang. Gejalan repetitive ini terjadi ketika aku mengalami demam panggung tingkat lanjut, dan kali ini tingakatannya sudah naik menjadi akut.

Akhirnya dengan segala keberanian yang aku punyai, dengan bulir-bulir semangat yang tersisa aku menekan tombol bawah, mencari sebuah nama yang menarik diriku belakangan ini, seperti magnet, jika aku berkutub utara, maka aku yakin di dalam dirinya tertanam sebuah magnet berkutub selatan. Sehingga aku bisa tertarik sedemikian hebatnya.

Setelah menemukan nama Nadhia, aku menekan tombol panggil yang sudah pudar warnanya menjadi kebiruan itu. Seketika layar handphone ku berubah.

calling Nadhia 00:00:01”, jantungku semakin keras berdegup. Ini bukan telepon kami yang pertama, namun rasanya telepon yang kali ini adalah sebuah awal, atau sebuah akhir untukku, karena berhadapan dengan jalan buntu yang bisa kita lakukan hanya 2. menghancurkan tembok di depan kita, atau kembali pulang ke tempat dimana kita berasal, dan sepertinya telepon kali ini memegang kunci, kemana aku harus melangkah selanjutnya.

“Halo…”, suara di seberang menyapa.

Aku hanya terdiam tidak mampu bicara, namun dengan menahan gugup aku membalas sapa dari suara di seberang nun jauh disana.

”Malem nona!”, sahutku sambil tersenyum kecil.

”Ada apa Ya?”, tanya si nona cantik dari seberang.

Aku terdiam, bingung harus menjawab apa. Alasan apa yang harus ku buat sehingga aku bisa terhindar dari segala macam pertanyaan menjurus yang membuat aku tidak bisa berkutik, sehingga harus menutup telepon dengan cepat, sama seperti keadaan-keadaan sebelumnya.

”Iseng aja, ga ada kerjaan!”, sahutku sambil tertawa kecil.

”Ooh”, dia hanya membuat sebuah jawaban simpul yang merontokkan nyali ku.

Setelah mendengar jawaban sederhananya aku seakan berada di persimpangan, apakah aku harus membunuh handphone ku saat ini, atau melanjutkan pembicaraan yang sudah tidak berbobot ini.

”Nad…”, aku bicara lalu tertahan barang sejenak. Menunggu reaksi di seberang apakah dia merespons terhadap ucapanku atau tidak.

”Ada apa Ya?”, sekali lagi sebuah pertanyaan deja vu yang membuat aku tersentak sekali lagi dan harus menelan ludah pelan-pelan. Aku bertahan, begitu batinku berkata saat ini.

”Nad, mau denger cerita aku ga?”, tanyaku sambil melihat mega-mega yang menutupi bulan malam ini.

”Yap”, dia menjawab tetap dengan jawaban simplenya yang membuat jantungku semakin rapuh dan mudah copot.

”Sudah beberapa kali gw nyoba buat deket ama cewe. Everything goin’ smooth at the first sight, I guess”, kata ku sambil bersandar di tiang balcony. “But somehow, ketika kita sudah berada pada jalur yang lebih luas dan lebih lebar, aku ngerasa kalau cewe itu selalu berlari menjauh dan pergi, hingga aku hanya bisa menyaksikannya hilang di balik tikungan di depan”. Kataku sambil mendesah dan mengambil nafas berat yang panjang, kali ini dalam posisi duduk di bangku dekat tiang balcony.

“Hahahaha…”, Nadhia yang berada di seberang tertawa, namun dengan segera tawanya aku potong dengan sebuah kalimat.

“Dan kali ini, aku ngerasa kalau kamu itu menjauh!”, kataku dengan nada penuh selidik dan pertanyaan yang penuh dengan rasa ingin tahu.

Kami berdua terdiam, hampir saja aku memutuskan hubungan saluran telpon kali ini, namun rupanya di dalam keheningan kami sedang berpikir, tentang apa yang harus di utarakan setelah statement bodoh itu keluar dari mulutku sendiri.

belum selesai memang karena memang baru sampai di sana paragraf yang saya tulis, namun dari tulisan itu pikiran saya menyerang dengan liar, menyebar seperti tree, meluas seperti arraya 2D, bahkan mungkin hingga beberapa variable dalam kepala saya menjadi overflow dan tidak berhasil menampung hal-hal yang berkembang…

such a good story, tapi sayangnya saya sudah menyangsikan ke-sahih-an saya dalam menulis hal-hal seperti itu kembali, dan ketika saya melihat tulisan itu saya terkenang ketika saya SMA dan bisa membuat hal-hal gila.

sebuah Lost and Found yang membuat saya terkenang, dan kembali bernostalgia, serta sedikit membangkitkan amarah saya, emosi saya, semangat saya untuk mulai menulis cerita lagi…lebih sederhana, lebih singkat, dan lebih bermutu…dan semoga saja…ya semoga saja saya tidak malas untuk mewujudkan impian itu, bukankah:

“you need to fake it till you make it!”

jadi sekarang saya cukup menghayal sudah melakukannya saja…urusan bisa atau tidak, berhasil atau gagal adalah urusan nanti…toh kita cuma “fake it” aja toh?!

jika hidup ini seperti enigma…

sudah beberapa hari ini saya bingung menentukan arah mana yang harus saya ambil, apa yang harus saya lakukan, bagaimana cara saya melakukannya. alih-alih bisa melakukan semuanya dengan baik, akhirnya saya malah tertidur di buai mimpi, di ajak bertualang di exosphere…melihat nebula kembali! dan akhirnya saya tidak bisa mengerjakan satu hal pun yang terlintas di pikiran saya…

mungkin memang pikiran saya begitu banyak berlalu-lalang di udara, seperti terbang di atas…melayang sedikit, dan perlu gapaian tangan atau sahutan orang lain untuk bisa sekedar kembali masuk dari kuping kiri, dan melayang sebentar di otak, sebelum keluar kembali melalui kuping kanan dan melayang kembali di atas kepala perlahan…seperti menari…

jika di ibaratkan ENIGMA, maka hidup saya seperti tidak jelas, tidak terarah, dan tidak berubah dari arah sebelumnya. masih tetap sibuk dan mencoba bertahan dengan semua tekanan yang datang, baik dari samping kiri, maupun kanan…ataupun tekanan dari depan yang menekan dada…sakit.

namun seperti ENIGMA yang tersusun dari huruf yang tidak jelas dan tidak berurutan, tanpa ucapan, dan tidak bisa di eja..bahkan jika anda nekat mencari ke kamus terdekat, atau menuliskannya ke google translate, maka yang anda dapatkan hanya sebuah pencarian NULL tanpa hasil karena memang ENIGMA adalah sebuah susunan huruf tanpa makna secara implisit.

namun jika kita mengetahui kuncinya, dan menggunakan mesin yang benar untuk mengejanya maka dengan mudah kita bisa menerka maksud dan tujuan dari susunan kata tersebut…sama mudahnya seperti berbicara, dan menemukan, bahkan sebenarnya dalam sebuah kata yang berantakan ini tersimpan sebuah kata-kata yang mengandung arti…

dan jika hidup ini seperti ENIGMA, maka saya cukup mencari MESIN dan KUNCI yang bisa memecahkan ENIGMA yang ada di dalam diri saya…

mungkin tidak langsung sekarang, mungkin tidak besok pagi, atau mungkin bukan lusa sore saya bisa menemukan kunci dari ENIGMA saya…namun ketika saya mendapati sebuah pelajaran bahwa “tugas” adalah “tanggung jawab” dan tanggung jawab berurusan dengan waktu…dan waktu adalah hal yang berjalan seimbang lurus ke depan, kecuali saya tinggal di bulan, dan setiap tahun harus menambah waktu putar saya terhadap bumi sebanyak 5cm. saya menemukan sebuah kunci kecil untuk memuka sedikit huruf dari ENIGMA yang ada di dalam diri saya…dan kata itu bertuliskan…

Jangan mau bikinin mereka tugas, enak aja…situ yang cape, mereka yang dapet nilai

melihatnya saya hanya bisa tersenyum lalu berkata…

soalnya gw juga mikirin nilai gw NYET! kalo aja ini Individual….bodo dah ama mereka…

sahut saya sambil tersenyum lalu menggulung ENIGMA itu kembali ke dalam lipatan batin saya.

Bertualang di Exosphere…

hari ini ketika aku sampai di rumah, maka aku merasakan kalau seluruh tulangku rontok, hanya bersisa kulit, dan tanpa tenaga hingga hanya bisa berbaring pasrah. aku merasakan kalau sudah saatnya aku mengistirahatkan diri setelah lama sekali aku bersua dengan istirahat, rasanya pertemuan ku dengan istirahat kali ini adalah sebuah perjumpaan panjang, seperti penantian terhadap kekasih yang telah pergi, di telan waktu dan jarak…kangen sekali rasanya….

dan ketika aku mempasrahkan diri, aku mulai merasakan kalau kali ini Zeus dan Akash Bhairab, mengajakku untuk berjalan-jalan melihat luasnya ruang angkasa. pertama-tama mereka mengajak ku terbang sedikit, dan memperlihatkan awan-awan Stratokumulus. lapisannya yang tipis dan hangat membuat aku merasa begitu tenang dan nyaman, di bawah aku melihat kumpulan kabut putih yang berwarna pekat, entah itu Stratus yang sedang mengunjungi bumi, atau kumpulan asap pekat yang di hasilkan denting melody kendaraan yang lalu lalang di sekitar jalan raya ibu kota.

setelah itu kami naik perlahan menuju Trofosfer, disini aku bisa melihat birunya samudra, dan liukan gunung dan bukit hijau yang seakan menampilkan deretan tangga nada. dan ketika bumi bernyanyi maka partikel-partikel kecil yang berada di Trofosfer mulai bernyanyi dan menari, seakan mengikuti irama bumi, mereka bergerak selaras dan searah dengan bumi, sebuah gerakan yang anggun, dan baru kali ini aku sadar, kalau ternyata mereka bisa menari…entah sejak kapan?!

setelah itu Zeus dan Akash Bhairab kembali mengajaknya naik sedikit lebih tinggi menuju Stratosfer, disini aku melihat samudra yang luas dalam sekali bentangan mata, dan seakan semuanya berbatas. ternyata di dunia adalah tempat kecil, yang kebetulan hanya aku saja yang malas untuk menemukan batas-batas dunia ini sendiri. aku melihat beberapa pesawat udara berkecepatan tinggi yang bergerak meliuk di antara kami mengantar beberapa orang menuju tempat lain yang jauh, mungkin mereka mencari kerinduan yang hilang akan kerindangan, atau mencari keributan dan kesibukan di tempat lain… melihat itu aku berkata dalam diri, “Ah, masih kurang tinggi!”…lalu aku melongok ke atas dan Zeus serta Akash Bhairab melambaikan tangannya menunggu aku menyusul mereka…

aku segera terbang lebih cepat dan bersama dengan Zeus dan Akash Bhairab aku menembus Mesofer. bumi masih terlihat begitu besar dari sini, walaupun sekarang aku sudah bisa melihat batas samudra dan perlahan bentuk bumi yang datar menjadi bundar, namun aku merasakan kalau aku masih terlalu dekat dengan bumi. namun disini ada banyak sekali meteor yang berjalan turun, seakan ingin bermain-main dengan bumi, mereka saling silih berganti turun bergantian menghujam bumi, seperti seorang anak kecil yang berteriak kegirangan ketika melihat perosotan di kolam berenang, mungkin begitulah perasaan para meteor ketika mereka meluncur menuju bumi. aku melihat bagaimana meteor yang terbakar secara perlahan ketika memasuki atmosphere bumi, lalu tiba-tiba lenyap dan hilang berubah menjadi beberapa serpih debu untuk kembali terbang di angkasa…mungkin mereka batal mengunjungi bumi, karena merasakan bahwa sebenarnya bumi sudah tidak seindah dulu lagi…

setelah itu aku terbang cukup lama hingga akhirnya tiba di Ionosphere, disini pemandangannya lebih indah. aku melihat gerakan magnitude dari biasan magnet yang terkena cahaya. seperti selembar kain sutra yang lembut, dia bergerak perlahan seperti tertiup angin, padahal sudah sejak tadi aku tidak merasakan angin, walaupun udara cukup dingin di atas sini…lembaran tipis itu memiliki struktur warna yang ajaib, terkadang mereka terdiri dari sebuah warna cerah yang tipis dan bergradasi, serta berliuk indah, beberapa memiliki beberapa kombinasi warna yang saling menyapu antara gradasi satu dengan yang lainnya, namun tanpa titik potong yang memisahkan antara satu warna dengan warna lainnya…sungguh sebuah kombinasi dan karya yang indah…dan ketika aku berangkat ke atas aku di beri tahu bahwa lembaran tipis itu bernama Aurora…

sambil berjalan ke atas, aku melihat beberapa Space Shuttle yang bergerak hilir mudik, mereka seakan terbang ke angkasa, namun mereka terikat ke bumi…mereka bergerak selaras dengan bumi, dan tentu saja suatu saat mereka akan kembali ke bumi…bagi mereka mungkin bumi “feel so far, yer so close!”, karena mereka suatu saat menantikan dirinya kembali ke bumi…aku sendiri ingin kembali ke bumi…tetapi tidak sekarang, karena aku melihat bahwa di atas sana masih banyak hal yang lebih menarik untuk di lihat, sebelum aku kembali terbang dan turun menuju bumi…

aku melintasi Karman Line, sebuah batas imajiner yang di gunakan untuk membatasi yang mana masih daerah bumi, dan yang mana merupakan ruang angkasa yang sebenarnya. aku tidak melihat garis di dekat sini, naamun ketika kau melihat ke atas aku tahu kalau aku sudah lepas d ari bumi…

di atasku bergantungan begitu banyak bintang yang saling berkerlap-kerlip seangka mengerlingkan matanya menggoda diriku yang baru pertama kali pergi ke angkasa, mereka sungguh genit sekali! beberapa di antara tampak bergoyang dan menggerakan diri mereka…seperti menari, namun aku tidak menemukan sebuah untaian simfony disini, mungkin karena disini tidak ada instrument musik, seperti knalpot kendaraan bermotor seperti di Bumi…disini tenang sekali…namun kenapa para bintang bisa begitu indahnya menari?

aku memperhatikan sekeliling dan melihat sebuah gambaran komposisi terbesar sepanjang masa. sebuah karya lukis indah yang pernah di ciptakan oleh sang pencipta, hingga ketika aku melihatnya aku terbius dan terdiam, karena begitu indahnya paduan warna yang di berikan, sapuan halus yang menawan, cahaya yang berpendah warna-warni, dan gerakan untaian nya yang lembut, seakan memberikan tempo, simfoni, nada, instrument, dan koreografi kepada bintang untuk mulai menari…dia adalah kondektur dari para seniman di angkasa, sebuah ke ajaiban warna tanpa batas, yang berada jauh di ujung angkasa…mungkin dia menjauh dari bumi, karena tidak ingin warnanya menjadi pudar, atau mungkin dia sudah begitu enggan mengunjungi bumi…nama pemimpin seni itu adalah Nebula

aku lalu melihat turun ke bumi, lalu membayangkan sudah seberapa jauhkah aku dari bumi?? aku melihat…langit begitu luas, dan begitu besar…jika tadi aku hanya bisa terbang ke atas, maka sekarang aku bisa melakukannya di semua sisi. langit seperti tidak bersisi, dan tidak berujung, aku lalu berpikir…kapan perjalanan ini akan berakhir jika aku mencari ujung sebuah langit? apakah perjalanan itu akan berakhir atau tidak akan berhenti…hingga nanti aku tahu, bahwa sebenarnya langit itu tidak berujung?!

aku memandang lekat bumi yang sudah sebesar bola kasti…rasanya aku bisa meremas atau melempar bumi jauh, namun tangan kecil ini ternyata hanya bisa membayangkan namun tidak bisa menjangkau…tiba-tiba aku rindu bumi. aku tersenyum kepada Zeus dan Akash Bhairab, dan mereka membalas senyumku sambil melambaikan tangan…aku segera menuju bumi, turun perlahan…kembali ke tubuhku dan terbangun…

“Ah…jam 8…udah berapa jam Gede tidur?”…

“Lama…se akan kamu itu terbang dan menungjungi angkasa”, sahut tanteku tidak melepas pandangannya dari TV…

aku tersenyum lalu berkata, “Ya…dan ternyata disana indah sekali…”, sahutku sambil berjalan pelan menuju dapur mengatasi rasa lapar yang mendera. ternyata mengunjungi angkasa sangat melelahkan dan sekarang aku benar-benar lapar…

suatu saat nanti aku akan mengunjui Exosphere sekali lagi…bertualang kembali dengan Zeus dan Akash Bhairab…mungkin ke tempat yang lebih jauh di bandingkan Exosphere, mungkin lebih tinggi lagi…dan lebih indah lagi…

mencari target…

saya sering sekali membaca beberapa buku yang di rekomendasikan oleh orang lain, baik itu om saya, atauapun review-review singkat dari orang lain. sepihak memang, karena saya sendiri tidak memikirkan keuntungan langsung nya untuk saya, tetapi saya tahu, buku apapun itu, suatu saat akan membuat saya menjadi beruntung.

dalam setiap buku business, baik itu berupa management, maupun pengembangan prinsip, hal yang sering di jumpai adalah : “kejar target mu dan fokus pada target mu”. menyatakan bahwa fokus pada target adalah hal yang terpenting, untuk mencapai apa yang kita inginkan, semoga saja tidak terlupa kalimat “berkerja keras”, dan “beristirahat”. karena kita bukan Tuhan, dan kita bukan Robot yang bisa berkerja 24 jam non-stop.

tapi saya sendiri, sebagai seorang manusia tentunya, suka sekali berputar-putar. mungkin karena pengaruh lingkungan, dan DNA yang di bawa dari orang tua, maka saya suka sekali untuk berputar-putar sebelum mencapai sasaran, cara yang sebenarnya adalah pemborosan massal, karena membutuhkan banyak “bensin”, tapi toh batin ini berkata, “jahhhh, bensin sekarang 5000 coi, udah turun geblek”.

tapi tetap saja, namanya orang gila, dan kurang kerjaan seperti saya pasti selalu berpikir kenapa saya bisa berputar-putar seperti gasing ketika mencari sasaran? apakah karena saya ini minderan sehingga tidak berani langsung ke pokok permasalahan? ataukah karena saya ini orangnya suka basa-basi? atau saya ini hanya skeptis terhadap target yang saya cari?

setelah saya teliti apa yang ada di dalam diri saya, saya berpikir bahwa : “untuk mencapai sebuah sasaran di butuhkan dukungan dan fondasi yang kuat dari lingkungan, oleh karena itu saya suka sekali berputar-putar untuk menyusun kekuatan pada lingkungan sehingga nantinya saya bisa lebih mantab ketika menuju sasaran”, misalnya ketika saya menyukai wanita, maka saya akan dekati orang tuanya terlebih dahulu, setelah dekat, urusan anaknya gampang….mau langsung Pacaran? atau langsung Kawin? itu gampanggg…

tiba-tiba teman saya nyeletuk, “Kawin?! lu kira ayam…!”

Rasanya posting blog dari Word??

Setelah beberapa lama kutak-kutik, kutak-kutik di Microsoft Word 2007, dari dulu pingin banget rasanya klik New Blog Post yang selalu muncul setiap saya mengklik tombol New ketika mengerjakan sebuah tugas. Dan hari ini ketika saya iseng, akhirnya saya mencoba mengklik tombol itu dan mencoba apa yang terjadi, dan merasakan rasanya blogging via Word. Rasa strawberry kah? Apple kah? Coklat kah? Atau mungkin hambar tidak berasa?

Setelah melakukan beberapa setting yang saya tidak tahu benar atau salah saya mencoba menuliskan beberapa kalimat ini dan mencoba merasakan fasilitasnya, bukankah enak kalau saya cukup mengetik di Word dan menyimpannya lalu mempublishnya ketika saya sudah sampai di rumah. Ide-ide yang saya temukan ketika saya berada di kampus tidak akan buyar di makan oleh ilmu, tidak akan di timpa oleh kagiatan, dan tidak akan hilang oleh angin yang menerpa saya ketika saya pulang kerumah menaiki sebuah angkot dengan tariff yang baru saja naik 50% di tempat saya.

Dan ketika saya masih menerka-nerka apakah posting dari Word ini mungkin atau tidak, saya sudah menekan tombol Publish dan berharap suatu keajaiban muncul di Blog saya.