teori tentang hasil itu mudah, tapi prakteknya susah bukan main! Juni 30, 2009
Posted by adi martha in a pint of milk, love is always in the air, my mind, my mind, body, and soul.add a comment
sungguh, hari ini saya tidur lelap sekali. sayangnya saya tidur pada waktu sore hari, jadi bisa di pastikan saya akan stay up, malam ini sekali lagi…
oke, at least saya bisa mencoba untuk menlanjutkan library database yang nanti akan saya gunakan pada code::wrox. pada rancangan awal, saya ingin menggunakan PDO sebagai base terhadap database, ingin menentukan koneksi nya bisa di tentukan secara bebas dan menyenangkan.
namun akhirnya saya berpikir untuk sementara menggunakan MySQL saja, toh database ini begitu melekat dengan PHP. lagipula saya belum memiliki dokumentasi yang lengkap dari PDO, tentang issues, dll. sehingga cukup sulit untuk berpikir tentang, apa masalahnya, dll.
class database ini nanti saja kita bicarakan…
…
ketika saya bangun, sebenarnya karena saya lapar, dan jelas sekali saya belum mandi…karena saya ingat, kalau saya terakhir mandi adalah pagi tadi. dan tentu saja ini sudah lewat 12 jam, yang tentu saja membuat badan saya berkeringat dan lengket, lagipula tidur di kamar sewaktu sore hari adalah sauna tersendiri, akibat pengurangan jatah kipas di rumah ini…akibat begitu intens digunakan hingga rusak, dan menyebabkan, kipas saya harus di gilir untuk menghangatkan ruang tamu.
ketika sampai di ruang tamu, seperti biasa, saya menghidupkan komputer saya, dan mencoba mencari tahu…apa yang sedang terjadi di luar sana…sekedar leyeh-leyeh sambil menunggu makan.
lalu saya melihat, kalau dia online. tadi sebelum tidur saya sempat menyapanya…
“kaku!!!”
entah saya yang kaku, karena sudah kehilangan udara, atau memang dia berusaha menghindar?! atau jangan-jangan kami berdua terjebak pada situasi yang sama. situasi dimana sebenarnya kami sadar, kalau semua hal ini hanyalah sebuah koma, bukan titik…dan tentu saja tidak mungkin mengakhiri sebuah kalimat dengan koma.
sepertinya isu film ci(n)ta sedang melanda saya?! what ever lah…
lalu saya coba untuk menyapanya…lama sekali, bahkan saya sendiri tidak yakin apakah saya bisa menuliskan pesan dan menyapanya. atau lebih tepatnya mencoba menggairahkan kembali udara di sekitar saya.
jujur ketika saya mengirimkan pesan, saya berpikir “mau di balas, ataupun tidak…terserah! at least I’m try to be kind!”
namun ketika menit berlalu menit, detik di ganti detik, tidak ada jawaban yang keluar…entah karena dia sedang sibuk, tidak ingin di ganggu, atau memang sedang keluar…
ketika itu saya sadar…segela sesuatu menjadi berat, ketika kita merasakan betapa susahnya berpraktek dibandingkan berteori! dan sebenarnya saya pun masih dipengaruhi hasil, masih selalu bertanya…
“bagaimana jika?!”
karena hanya hal itu yang membuat kita sadar…kalau sebenarnya kita ini ada di dalam batas…dan ketika menyentuh batas itu, maka ada beberapa hal yang bisa di lakukan…
“terus menggedor pintunya, atau berbalik dan pergi…”
dan saya belum bisa memastikan…apakah saya akan terus berdiri menunggu pintu itu dibuka…atau saya harus berbalik dan pergi…mencari pintu lain yang masih bisa diketuk?!
“sigh…” Juni 29, 2009
Posted by adi martha in a pint of milk, love is always in the air, my mind, my mind, body, and soul, my soul.add a comment
saya membuka Yahoo! Detector hari ini, melakukan hal yang seharusnya tidak saya lakukan…saya mengetikan beberapa kata yang menguntai menjadi sebuah hal yang bermakna, seperti mengandaikan seseorang dengan metafor, mencoba membayangkan kalau dirinya adalah soerang tokoh kartun.
saya, anda, dan semuanya pasti memiliki hal yang sama…karena kita suka sekali berimajinasi…
dan ketika saya usai mengetik kalimat itu, saya menekan entar sambil melihat sebuah “loading bar” yang seakan menjadi sebuah seek time, di dalam otak saya untuk mencari…
“kenangan apa yang sebenarnya tersimpan di balik lipatan memory ini?!’
dan ketika saya berusaha mengontrol semua udara yang bergerak, saya di hadapkan pada sebuah keputusan…
“kalau saya bukan pengendali udara yang berkeliaran di sekitar saya…setidaknya untuk saat ini!”
ketika saya melihat sesuatu tercetak, dalam rona pixel, dan balutan warna 16-bit…maka semuanya menjadi jelas. lipatan memory saya berakselerasi cepat, berusaha untuk menutup semua lembaran yang terbuka. namun emosi memang adalah sebuah komputer yang jauh lebih cepat di bandingkan dengan olah pikiran. dan sekali lagi!
emosi saya menang!
saya lalu berucap…menahan nafas, lalu menghembuskannya perlahan…seperti menghisap lagi perasaan yang dulu terbang di udara, untuk sekedar masuk ke paru-paru…toh perasaan itu pernah menjadi bagian dan warna dalam hidup saya. pernah menjadi salah satu balutan warna pelangi dalam indahnya dunia yang saya diami…dan pernah menjadi kuas yang melukis…
“betapa indahnya cinta…”
dan ketiga.. “sigh!” itu terhempas…saya sadar. sebenarnya saya belum berakhir, dan saya tidak pernah berakhir. saya lalu berpikir tentang “konsep esok” yang saya pikirkan beberapa hari sebelumnya, namun saya urung untuk menuliskannya…karena mungkin begitu banyak hal yang menggoyang titik nadir saya, dalam menjalani hidup…setidaknya seperti memberikan sebuah gempa kecil, dan guncangan sederhana…namun mampu memecah molekul udara yang tersimpan dalam rapatnya CO2…carbonat itu pecah…dan meluap-lupa…muntah, berceceran di lantai…
ahhh…sigh! tinggal 2 ujian lagi…dan saya bisa menginstall ulang semua yang ada di dalam diri saya… secara sederhana…dengan bantuan Bunda… :”> …
wismilak…
…
emotionally uncharged… Juni 28, 2009
Posted by adi martha in a pint of milk, love is always in the air, my mind, my mind, body, and soul, my soul.add a comment
akhir-akhir saya merasa begitu letih. entah karena memang saya sedang sakit, atau ada hal-hal lain yang menganggu pikiran saya. yang saya sendiri bingung untuk mendeskripsikannya seperti apa…
seperti note yang saya tulis di laptop saya, namun belum sempat saya post. saya sedang dalam kuasa “hal” yang tidak bisa dijelaskan secara teori, dan tidak bisa dijelaskan dengan penjelasan yang begitu logis. sepertinya otak kiri saya enggan memetakan apa yang sebenarnya terjadi pada saya akhir-akhir ini…
semester ini, saya sungguh emotional, begitu banyak hal yang terjadi yang menggoyang emosi saya. dimulai dari titik didih yang meledak dan membuat saya menjadi “lebih ketus” kepada orang-orang disekitar saya. saya merasa kalau saya sudah tidak “ramah” lagi, walaupun orang-orang pun tidak pernah secara langsung bilang kalau saya ini ramah.
bahkan beberapa orang mengatakan kepada saya…
“how naive is your face!”
karena Tuhan menset wajah saya untuk menjadi seseorang yang begitu angkuh dan terlihat kuat. namun sayangnya setiap keping diri saya begitu rapuh. seperti wafer tanggo. bedanya saya tidak memiliki ratusan lapisan, dan tentu saja cream vanila, atau strawberry di setiap keping perasaan saya.
selain itu, emosi saya di aduk dengan perasaan indah, seperti perasaan “fell in feel”…kepada seseorang, atau menghabiskan semalam penuh dengan seseorang, memandang bagaimana wajahnya mengantuk, tersenyum agar dia begitu tegar, ataupun memberikan sebuah kejutan ketika dia jatuh sakit…
emosi-emosi itu mengisi hari-hari saya pada semester ini, dan memberikan warna yang berbeda. saya tidak mengatakan semester ini begitu baik, dan semester sebelumnya begitu abu-abu. karena setiap kehidupan dan waktu punya warna yang berbeda…begitu juga semester ini…
semester, dimana emosi saya begitu di pompa…
namun sekarang, ketika akhir semester menjelang. saya baru merasakan, kalau semester dengan emosi yang membludak akan membuat saya menjadi tidak stabil, dan begitu mudah untuk lelah…begitu juga sekarang…entah besok…
I’m emotionally uncharged!
ketika rasa-rasa emosi itu begitu sepi. ketika tidak ada orang yang bisa membuat saya menjadi labil. ketika saya merasa kalau dia begitu jauh dan mencoba untuk menjauh…maka saya seperti handphone kehilangan charger…
begitu lelah, dan begitu malas untuk bergerak…seperti bergerak dalam moder Power Saving. dan begitulah saya akhir-akhir ini. at least, saya ingin mengakhiri semester ini tetap dengan sebuah GLORY di tangan…and this emotionally uncharged…tidak bisa mengatur apa yang saya inginkan…
apa yang saya dapatkan, tergantung dari apa yang saya lakukan…bukan dari apa yang saya rasakan…
…
mungkin ini pengaruh honesty?!
argh, kalimat itu terngiang lagi…
“it doesn’t mean I like being dishonest. it’s as easy as telling ‘I Love You’, but in fact it kinda hard when you think. What should I do if you don’t Love me too?!”
am I too honest…or too dishonest?! anyway….just keep up with any situation, do the maximum…
wismilak…
…
berlari, menjauh! Juni 26, 2009
Posted by adi martha in a pint of milk, love is always in the air, my mind, my mind, body, and soul.add a comment
ada sebuah film yang berjudul, “kejarlah daku…kau kutangkap”.
dan sepertinya saya sedang di coba dengan syndrom ini. karena akhir-akhir ini saya dikenai sindrom ini. saya disuruh berlari keliling lapangan, untuk mengejar sesuatu yang saya pikirkan. saya mengejar “udara” yang ada di sekitar saya…
entah kenapa si udara sekarang berlari menjauh, mungkin seperti ingin berkata…
“what would you do, if I run away?”
atau mungkin ingin berkata…
“please, stop chasing me…”
jadi saya hanya dipilihkan pada 2 pilihan…
- berlari terus, dan jatuh kelelahan…ujung-ujungnya adalah pingsan…
- diam dan mundur perlahan…
namun yang jelas, apapun yang saya pilih…saya berada di luar jangkauan untuk bisa meraih “udara” yang ada di sekitar saya. semua pilihan di atas tidak memberikan saya jalan pintas kepada “udara” saya. malah, saya rasa…saya semakin jauh. entah karena saya pingsan, atau karena saya terdiam…
tadi saya berpikir, saya ingin bertanya kepada teman wanita saya…yang tentu saja notabene memiliki sifat yang mirip seperti si “udara”…selalu melayang dan bebas…serta…
“siapapun bisa menghirupnya…”
tentu saja dalam konotasi positif…dimana sebenarnya dia tidak memiliki ikatan terhadap suatu makhluk…dia seperti eternal sunshine yang bisa menjadi “senyum” di tengah-tengah dunia…bedanya dia berbentuk gas, dan melayang…atau disebut “udara”…
oke kembali ke pertanyaan saya kepada teman wanita saya…
“apakah wanita jika di dekati, pada suatu titik dia akan menjauh?!”
jika dia menjawab “tidak”, maka habis sudah pertanyaan saya, dan saya yakin tidak ada opsi ke-3 untuk saya…dan saya rasa memang tidak ada opsi ke-3 untuk saya…bahkan mungkin saya tidak diberikan memilih 1 dari 2 opsi tersebut. namun jika jawabannya adalah “ya”…maka pertanyaan berikutnya akan berlanjut…
“apa artinya jika mereka menjauh?”
jika dia menjawab “jenuh”, maka saya akan mengulangi langkah yang sama pada nomor 1…namun jika dia menjawabnya berbeda, misalnya, “mengetest!”. maka pertanyaannya akan berlanjut lagi…
“ngetest apa?? seberapa besar saya menginginkan dirinya?”
jika dia berkata “tidak”, maka kemungkinan besar dia merasa terganggu oleh kita. dan oleh itu saya sudah siapkan kalimat yang setidaknya bisa membuat saya mundur dengan tenang…
“apa aku ganggu kamu? kalau iya…aku benar-benar minta maaf.
kali ini, besok, lusa…aku ga akan ganggu kamu lagi…
tapi…kalau kamu butuh bantuan…kamu tahu kalau aku akan selalu membantu kamu…
dan kalau kamu butuh bantuan…kamu tahu kamu bisa telepon siapa…”
agak lebay sebenarnya, namun 2 kalimat di bawah sebenarnya hanya untuk menghangatkan suasana, dan supaya lebih hangat lagi…saya rencananya akan menambahkan kalimat ini…
“tapi kamu tetep kan…jadi temen aku?! as a friend…”
oke…berarti 3 kalimat di bawah adalah pemanis. dan sayangnya tidak semua orang suka manis. namun saya yakin, karena wanita lebih suka coklat, maka kemungkinan besar kalimat saya di terima akan cukup besar…karena ini terlalu manis!
itu jika dia menjawab kalau “saya ini mengganggu hidupnya”. namun jika dia menjawab “iya”, maka saya merasa tersinggung. kenapa hanya wanita yang bisa mengetest pria? kenapa wanita tidak…
oke…yang di atas cuma intermezzo, toh yang mengejar dan dikejar sebenarnya adalah object tidak kasat mata. karena saya mengejar perasaan, bukan mengejar maling rokok.
namun saya berpikir…jika dia berlari menjauh maka??? apa yang akan saya lakukan…
dan ketika saya merasa kalau dia sudah berlari menjauh, maka yang saya lakukan adalah…
“diam…”
tolol?! oke…anggap saja begitu. namun, saya berpikir…kalaupun saya berlari, saya yakin saya tidak akan sampai pada tujuan, karena saya penuh keraguan. bahkan untuk melangkah pun saya masih menimang-nimang, apakah saya perlu melangkah…atau sekedar berwacana dalam pikiran saja. menghayal dalam pikiran saja. atau bermimpi dalam pikiran saja.
ada banyak yang saya ingin ungkapkan. ada banyak yang saya ingin rencanakan. ada banyak hal yang ingin saya lakukan. namun semuanya menguap…seperti “udara”…bedanya dia tidak menyatu dengan udara yang saya “inginkan”. dia terbang ke angkasa, dan tidak kembali lagi.
lalu saya menyeduh segelas Cokelat panas, untuk menghangatkan tubuh di pagi buta ini, lalu saya teringat pada lyric yang pernah saya buat…jaman dulu…
“lucky me that world is round-and-round
although we know, we ran in a different way!
we will know someday…we will see again…
we will know someday…we will meet again…
meet again!”
ya…dunia ini begitu bulat sebenarnya…dan kemanapun kita berlari…kita bisa bertemu kembali pada suatu titik yang berbeda…mungkin tidak sekarang, tidak besok, tidak lusa…
namun, saya masih ingin sekali mencoba untuk berlari, untuk kali ini…hingga nanti saya menyerah dan mengangkat bendera putih ke udara. dan kalaupun nanti saya hanya bisa terdiam duduk lemas, terkulai. maka saya yakin…
“someday…we will meet again. in another time, at another place…”
karena dunia itu bundar….
…
why I kept smiling? Juni 25, 2009
Posted by adi martha in a pint of milk, love is always in the air, my mind, body, and soul, my soul.add a comment
hari ini saya pergi ke Alfamart seperti biasa, saya mendengar lagu yang biasa saya dengar, dan membeli apa yang biasa saya beli. 1 buah Greensand dengan rasa original, dan 1 buah Chitato rasa ayam bakar, lengkap dengan tambahan You C-1000 untuk mengobati sariawan yang menyerang lidah saya.
namun bukan itu yang ingin saya bicarakan…ketika saya mendengar lagu-lagu itu…saya selalu tersenyum…
ketika saya melihat rak dan mengambil You C-1000 saya tersenyum…
ketika saya melihat 1 buah buavita…saya tersenyum….
lalu saya bertanya…why I kept smiling?! lalu saya pun sadar, ada beberapa memoar yang unik di dalam diri saya, terhadap 3 barang itu…You C, Buavita, dan lagu-lagu itu…
saya sadar, kalau saya pernah mencurahkan perasaan saya terhadap barang-barang itu, membagi perasaan dengan orang lain melalui perantara barang-barang sederhana itu. melalui bagaimana saya bertindak dan memberikan barang tersebut sebagai salah satu bagian dari perasaan saya…sekedar untuk menguatkan, walaupun dia tidak perlu sama sekali untuk di kuatkan…karena toh dia memang sudah kuat!
saya pun sering berpikir seperti itu…untuk apa saya menguatkan dirinya, sementara dia sendiri sudah begitu kuat. jadi istilah umunya adalah, dia tidak butuh saya…
namun kenapa saya tersenyum untuk hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan…lalu saya berpikir, menelisik kedalam…dan ketika lyric dari The Adams bersenandung…
“hanya kau yang bisa…
memastikan semua…
segala yang kurasa…
hanya kau yang bisa merubah semua….”
akhirnya saya sadar…kenapa saya tersenyum…karena hanya dia yang bisa merubah semua perasaan saya…
dan butuh ataupun tidak butuh, yang terutama saya sadar…
“kalau cinta ini masih ada di hati saya!”
…
something invisible! Juni 24, 2009
Posted by adi martha in a pint of milk, love is always in the air, my mind, my mind, body, and soul.add a comment
bukan bicara masalah saya dan status YM! saya yang senantiasa memiliki kalimat seperti itu, bukan pula bicara status orang yang suka invisible, bukan…sama sekali bukan…walaupun jaman sekarang invisible jauh lebih terikat dengan sebuah Yahoo Messenger di bandingkan kamus bahasa Inggris. apa mereka pikir kalau Invisible itu kata yang di ciptakan Yahoo?!
ini masalah kalimat yang saya tulis kemarin, dan kebetulan teman saya yang menemukan “spot” nya, bahwa sebenarnya kalimat itu sungguh kontradiktif. dan saling berlawanan….kalimat itu kurang lebih berbunyi…
“it doesn’t mean I like being dishonest. but some how it’s hard to be honest. It’s just like as easy as telling ‘I Love You’, but in fact it’s kinda hard when you think, what should I do, if you don’t Love me too?!”
ketika teman saya menuliskannya di status Facebook saya, saya jadi ingin sekali menulisnya, tentu tidak straight away, karena saya sendiri membatasi posting saya at least 1-2 perhari, dan saya sendiri tidak mau terlihat seperti orang gila yang kurang kerjaan, karena menulis terus…walaupun untuk diri sendiri.
lalu spot apa yang teman saya temukan? spot yang dia temukan itu berasal dari komentarnya terhadap kalimat saya…
“such a honest word!”
padahal jelas-jelas saya menuliskan pada awal kalimat…
“it doesn’t mean I like being dishonest…”
in a certain reason, ketika saya menuliskan kalimat itu sebenarnya saya sedang bingung terhadap perasaan saya, apakah saya yang mengawang, ataukah memang hal-hal kecil seperti ini tidak bisa di lanjutkan, padahal I thought, it gonna be fun kalau misalnya bisa kami, atau mungkin saya…karena intepretasinya hanya dari pikiran saya…ke jejak selanjutnya…ke langkah berikutnya…
konsep dasarnya dalah kalimat terakhir sebenarnya…
“it’s as easy as telling ‘I Love You’, but in fact it’s kinda hard when you think, what shoud I do, if you don’t love me too?”
saya mencoba mengaitkan perasaan saya, kenapa saya bisa seperti itu…dan munculah kalimat…”honest” dan “dihonest”, yang dimana tentu saja memiliki korelasi dengan perasaan saya, cinta saya, dan udara yang ada di sekitar saya…
apakah saya terlalu banyak membohongi perasaan saya?!
saya sering menulis, berkata…
“Love isn’t matter of result…it’s the matter the way you find it!”
namun sungguh-sungguh-sungguh-sungguh susah sekali di lakukan, terkadang kalimat itu kelu sampai kerongkongan, terkadang hanya terucap di lidah, terkadang hanya di getarkan pita suara…bahkan terkadang tidak sampai pada diafragma…
jika kalimat adalah nafas, maka saya yakin…saya ini sudah asma akut…dan kambuhan…
tetapi dari kalimat itu saya sadar…
“there’s a certain HONEST in our DISHONEST!”
karena seperti apapun perasaan kita, kita sebenarnya sadar tentang apa sebenarnya yang menjadi perasaan kita…apa sebenarnya yang kita rasakan, dan apa yang sesungguhnya ada di dalam diri kita…secara tidak langsung, kita selalu sadar tentang apa yang kita lakukan.
khilaf, dll. itu sebenarnya adalah titik dimana seseorang mencoba dishonest terhadap perasaannya…
…
dan tentu saja, ketika saya sadar kalau saya sedang membohongi diri saya…maka saya sebenarnya jujur terhadap diri saya, saya sedang being honest terhadap apa yang ada di hadapan saya…
namun ketika saya berpikir tentang “being honest” terhadap diri saya, saya lalu berpikir…
“apakah memang benar, dia bisa saya miliki atau hanya sekedar mimpi?”
ahhh…lagi-lagi pertanyaan yang mempertanyakan perasaan…ternyata selain,
“there’s a certain honest in our dishonest, ada certain dishonest in our honest…”
jadi…sebenarnya apapun yang terjadi, kita terjebak pada situasi yang satu ini…selama…
“selama saya masih belum mau bergerak dari tempat ini…selama saya hanya masih bisa seperti ini…selama saya hanya bisa mengintepretasikan cinta, harapan, dan udara dari satu sisi…”
selama itu maka saya akan menjadi sesuatu yang “invisible”…tidak terlihat…dan tidak berbekas di mata orang lain…
dishonest! Juni 23, 2009
Posted by adi martha in a pint of milk, love is always in the air, my mind, my mind, body, and soul.1 comment so far
ketika saya ingin mandi sore, entah kena sambit apa, tapi saya berpikir tentang sebuah hal…
“dishonest!”
saya lalu mencoba memikirkan, sudah berapa kali saya membohongi diri saya, mengibuli diri saya, menutupi perasaan saya, mengaburkan rasa saya, ataupun menghentikan rasa sayang saya!
rasanya begitu banyak dan tidak bisa di hitung. perasaan-perasaan dishonest itu sepertinya begitu banyak, bahkan saya sendiri sampai bingung, kenapa bisa sebanyak ini, dan apa yang menjadi penyebab utama dari dishonest tersebut. otak saya yang di pimpin oleh otak kiri mencoba mencari solusi, tentu saja tetap tanpa kompromi dengan otak kanan.
namun tidak ada solusi yang bisa saya temukan, yang saya temukan hanya beberapa algoritma 2 lokk OLL, dan 2 look PLL yang saya gunakan memecahkan Rubiks Cube di kamar mandi tadi.
ahhhh, saya pun bingung…hingga tiba-tiba sebuah kalimat terlintas….lalu dengan cepat saya menuliskan sebagai status saya di Facebook…
“it doesn’t mean I like being dishonest. but some how it’s hard to be honest. It’s just like as easy as telling ‘I Love You’, but in fact it’s kinda hard when you think, what should I do, if you don’t Love me too?!”
sama seperti yang saya ungkapkan kemarin sebenarnya…
Love isn’t that easy to tell…karena kita sendiri takut pada hasil akhir…dan tidak berfokus kepada tujuan. hal ini membuat saya menjadi dishonest terhadap perasaan saya sendiri, saya sendiri berusaha mengcompress perasaan saya, dan rasa yang saya dapatkan…bahkan terkadang saya berpikir…
“apakah saya terlalu mengawang-ngawang? terlalu jauh berpikir ke atas…padahal hati dan kaki saya berpijak di bumi…atau mungkin hati dan kakinya berpijak di bumi, dan tidak ikut terbang bersama saya?!’
menebak perasaan adalah hal yang paling rumit, karena bahkan kita sendiri tidak yakin terhadap perasaan kita…oleh karena itu terkadang kita tidak jujur terhadap perasaan kita…
sepertinya dishonest adalah pandora box di dalam diri saya…jika saya mencoba untuk honest, saya tidak yakin, apakah saya bisa menerima semua yang terjadi! namun jika saya dishonest, maka saya terjebak pada lingkaran yang sama untuk kesekian kalinya…
ough…susah!
…
kalau pusing, jangan bicara cinta! Juni 22, 2009
Posted by adi martha in love is always in the air.add a comment
Langit mendung, awan-awan sedang bermusyawarah di langit, mereka berkumpul bergerak perlahan seperti berbicara. Mungkin hari ini ada arisan antar awan, bahkan matahari pun enggan turut campur ditengah arisan itu, hingga dia tertelungkup di balik lipatan awan, hanya menyimak sesekali. Sinarnya pun redup ditelan kelambu awan yang tipis, seakan berkata, “jangan ganggu kami! Kami sedang arisan”. Rupanya dalam kasanah langit, bukan cuma UAN yang tidak boleh diganggu, ternyata arisan pun tidak boleh di ganggu gugat.
Belum lama aku mengamati awan-awan yang bergerak perlahan, seperti mencari tempat untuk bernostalgia, temu wicara antar satu awan dengan awan lain. Ada yang berasal dari samudra hindia, ada yang berasal dari laut Cina selatan, ada yang berasal dari selat Sunda, selat Bali, bahkan ada yang dari Bogor. Rata-rata dari mereka membawa secarik cendera mata yang disimpan di lipatan kantung mereka yang tipis, yang membuatnya dari bumi terlihat begitu muram, kelam, dan hitam.
Tidak begitu lama, lalu turunlah hujan. Jikalau saja hujan tidak di alamatkan sebagai berkah, maka aku akan segera mengguman pelan, berkata “kenapa harus hujan?”. Namun karena hujan adalah berkah, maka aku hany terdiam pasrah, tersudut di pinggir angkutan kota, yang akan membawaku menuju kampusku yang tersisa 300 meter di depan mata. Hujan ini menghalangi aku untuk berjalan, dan berlari menuju kampus.
Aku hanya bisa diam, toh nantinya hujan ini akan reda, dan aku akan tetap tiba di depan kampusku, tanpa basah kuyup, tanpa perlu capai. Lagipula, tidak ada satupun jua yang aku cari di dalam kampus, selain koneksi internet gratis, dan ruang kelas penuh AC yang nyaman digunakan untuk beristirahat. Mungkin dogma kampus sudah berubah dalam diriku, definisinya berubah menjadi sebuah tembok kenyamanan, bukan rentetan kalimat dan aktivitas dalam barisan tembok kata-kata.
Susah membaca tulisan di atas? Memang, lagipula aku sendiri bingung untuk apa aku menceritakan diriku sendiri? Untuk apa aku menceritakan bagaimana aku tertidur di dalam kelas? Dan untuk apa aku menceritakan betapa hujan begitu menyebalkan. Bukankah hujan adalah sebuah anugrah?!
Ahh, sastra memang complicated, sama rumitnya dengan pikiran manusia, bercabang kemana-mana, bersinggungan kemana-mana, bahkan tidak jarang saling jepit antar satu dengan yang lain. Orang yang ideologis, dan pura-pura berbelas kasihan akan membalut kalimatnya dengan metafora, seperti saya.
Ketika saya di tolak, maka saya akan bertanya, “Am I a Cold coffee…”, padahal jelas-jelas yang ditolak adalah saya, bukan kopi itu. Ketika saya di damprat, dan di lecehkan oleh orang lain, maka saya berkata, “kecipratan oli padahal ga punya motor”. Padahal si motor tidak memiliki salah dengan saya, lagipula saya tidak benar-benar kena oli. Begitulah saya, penuh metafora, dan tidak berterus terang. Penuh dengan tedeng-aling-aling, ingin bicara A pergi ke B dulu…ujung-ujungnya saya tersasar pada daerah C. mungkin itu salah satu nasib menjadi pecinta metafora kelas wahid.
Lain lagi dengan orang lain, yang sifatnya lebih tegas. Ketika turun hujan dan dia tidak suka, maka dia akan berkata, “Ah…hujan menyebalkan”, tanpa perlu memikirkan makna bahwa hujan sebenarnya adalah angurah. Menurutnya mungkin saja, “iya anugrah untuk dirimu, namun tidak untuk saya”. Pikirannya yang simetris dan logis membuat kita dan orang lain dapat dengan mudah menebak kemana arah pikirannya akan dibawa, apakah pergi ke kanan, melenceng ke kiri, atau berada di tengah, sekedang pembuktian bahwa otaknya masih center, dan belum miring kiri ataupun kanan.
Orang seperti ini, akan membuat orang penuh metafora menjadi “tertekan”, karena adanya sisi yang berlawan satu sama lain. Yang satu sembunyi di balik lipatan topeng, yang satu lagi jelas-jelas tidak memiliki muka. Susah untuk menentukan mana yang lebih seram…apakah manusia dengan dengan topeng tanpa memiliki kejelasan wajah, atau manusia tanpa kepala. Coba bayangkan sendiri!
Saya pernah menulis 7 buah rangkaian kalimat yang saya anggap seperti arti cinta. Namun sekarang tanpa seperti rangkaian kalimat tanpa arti yang digunakan sekedar untuk menarik simpatisan dari rekan sejenis, sama-sama manusia maksudnya…namun berbeda gender. Waktu itu saya berpikir tentang judul yang cantik, dan yang keluar adalah : Arti sebuah cinta.
Padahal dalam kenyataannya, saya sendiri tidak mengerti arti dari cinta. Jika saya mencari di kamus, maka saya di hadapkan pada kalimat Love. Dan ketika saya mencari arti dari Love saya di bawa kembali kepada Cinta. Absurd sekali kawan, namun saya tidak menyerah…dan saya mencoba kembali membaca 7 buah rangkaian kalimat yang saya susun dalam judul, “Arti sebuah cinta”.
Namun bukannya menolong, kalimat-kalimat itu malah membuat saya semakin tersesat, seperti berjalan-jalan di kota Jakarta dengan menggunakan peta Roma. Bukannya bertamasya saya malah tersesat ketika mencoba mencari makna dari cinta.
Namun teknologi sudah begitu maju, saya mencoba mencari solusi ke luar sana, dimana banyak orang yang rela untuk membagikan definisi mereka tentang cinta dan kehidupan. Daripada saya tersesat ketika membaca arti sebuah cinta seri 7, yang bertulis:
“cinta itu asa…harapan dari seorang manusia. Cinta itu tidak berperasaan, namun dia pandai memainkan perasaan kita. Dari hal itu, dapat ditarik kesimpulan”.
Dan otak saya yang setengah berisi ini berkata, “cinta itu mainan”. Oleh karena keabsurdan itu saya sadar, kalau SMA adalah masa-masa jahiliah tentang makna dan arti kehidupan. Ketika kita berpikir kalau kita mengerti kehidupan, kita tidak sadar kalau sebenarnya kita disesatkan kedalam pemahaman dan perspektif sempit tentang kehidupan, karena kita sendiri tidak mau mencoba mencari arti lain dari sebuah kehidupan, selain…
“makan, minum, dan tidur…”
Oke kembali ke masa di mana teknologi sudah maju, sudah banyak orang yang berpikir tentang hal-hal yang dulu mungkin tidak mau dan tabu untuk diungkapkan. Sudah banyak yang terhubung lewat sebuah jaringan dnegan nama “internet”.
Dengan internet saya mencoba untuk mencari pembendaharaan kata cinta yang lebih jelas. Namun semakin saya mencari semakin saya tersesat dibuatnya. Ternyata bukan tulisan saya yang salah, bukan 7 buah seri “Arti cinta” itu yang salah, bukan masa SMA saya yang salah.
Saya sendiri yang salah, karena saya begitu banyak menyerap…”Apa sebenarnya arti cinta!”
Lalu dalam kebingungan yang mendalam saya mencoba mencari arti dan definisi sendiri tentang cinta, “cinta itu huruf, terdiri dari C, I, N, T, dan A”, jika di urutkan maka akan menjadi ACINT…yang jelas-jelas tidak punya arti, jadi jelas…Urutan huruf memiliki peranan penting di dalam cinta.
Ah, semakin bingung dan semakin tidak jelas…lalu saya membuka document ke – 3 dari file Arti cinta…mungkin seri yang ini bisa membantu saya. Lalu saya membaca sebuah kalimat yang cantik, ah masa SMA!
“aku hanya ingin bertanya, dimanakah hatimu terpaut. Apakah pada gelombang pasang di lautan bebas, atau kau sudah terpaut pada dermaga hati biduan tampan, di sebuah daratan yang hijau dan luas”…
Aku pun tersenyum lalu semakin bingung…cinta ini sebenarnya perasaan, atau keinginan berlayar? Apakah cinta membuat kita menjadi seorang pelaut? Jika begitu, maka jujur, akan susah bagi saya untuk menjadi “cinta”…karena saya sendiri lebih menyukai pergi lewat udara.
Dan dalam titik akhir kebingungan saya, saya mengambil sebuah kesimpulan…
Cinta itu membingungkan…
Lalu ada sebuah suara yang menimpali…”tentu tidak! karena saya minum combantrin”….oh, bukan! Bukan seperti itu, namun lebih kurang seperti ini…
“cinta itu membingungkan, karena kau membutuhkan seseorang yang membimbing dan mengisi hati mu dengan cinta…”
Lalu saya pun bertanya, “maukah kau mengisi hatiku dengan cinta?!”
Dia terdiam, terpekur, dan aku pun berlalu…menelisik sebentar sambil tersenyum, menunggu jawaban yang sama untuk kesekian kalinya…pada titik yang sama untuk kesekian kalinya…
Cinta memang membingungkan…sama seperti tulisan saya ini…sama seperti saya…sama seperti udara di sekitar saya…
define love! Juni 22, 2009
Posted by adi martha in a pint of milk, love is always in the air.add a comment
aih, masih terngiang-ngiang bagaimana saya beberapa hari yang lalu (lusa tepatnya), mencoba memetakan sebuah definisi tentang “cinta”.
seperti kalimat Basejam…
“mungkin aku bukan pujangga…”
maka ketika saya berusaha memetakan apa arti cinta di dalam diri saya, saya cuma bisa berdiri pada kata-kata yang saya kuasai, saya tidak begitu memikirkan apakah struktur kalimat saya benar atau tidak, ataukah berpikir…apakah kalimat ini jamak, majemuk, metafora, ataupun imbisil…
yang jelas saya menemukan fakta bahwa definisi ini saya temukan dalam sebuah skenario singkat, tentang beberapa rentetan kejadian yang mempengaruhi udara disekitar saya…yang entah kenapa, seperti tirus terhadap oksigen, namun miskin karbondioksida…penuh helium. sedikit disentuh meledak…namun hanya sebentar, dan hanya menyisakan asap-asap yang justru membuat pekat…membuat saya bingung, apakah saya masih berpijak di bumi, atau sudah melayang di angkasa?!
bingung? berarti anda harus jadi saya untuk mengerti hal di atas…sama halnya seperti definisi saya terhadap cinta. mungkin anda tidak setuju, tidak suka…tidak kenapa…
toh, kita adalah semesta untuk diri sendiri bukan??
saya mendefinisikan cinta dengan hal berikut ini…
“aku tahu kau mencintai orang lain, maka aku bisa melakukan 3 hal…
- aku akan menembak kepalanya…
- aku akan menghajarnya…
- aku akan meninggalkanmu…
tetapi dari seluruh pilihan itu…yang aku tahu hanya satu…
apapun yang aku pilih, aku tidak akan pernah memilikimu…namun satu hal yang pasti, apapun yang terjadi…aku akan tetap mencintaimu!”
oke…I had write it…
…
on a little note…hari ini adalah hari tidur sedunia, barusan tidur jam 3 sore bangun jam 9 malem…dan blom sampe jam 12 malem, gw udah ngantuk…hehehehehe. oke, i’ll grab my cadburry and eat it instead!
…
find a ticket bound to Irish home… Juni 21, 2009
Posted by adi martha in a pint of milk, love is always in the air, my mind, my mind, body, and soul, my soul.add a comment
saya menonton The Notebook kemarin, sedikit nostalgia, dan tetap saya terkesima dengan bagaimana alur cerita, dan cinta yang terjadi pada Allie dan Noah. apalagi tulisan pada bukunya yang bertuliskan…
“the story of love Allie and Noah. Read me this Everyday, and I’ll come back to you!”
saya selalu merinding melihatnya…melihat betapa sebenarnya cinta itu begitu indah, dan sebenarnya cinta itu begitu kekal, bahkan seseorang rela dan mau membacakan, dan menceritakan hal yang sama setiap hari…hanya untuk membawa seseorang yang pergi jauh kembali…kembali sadar, kalau sebenarnya masih ada orang yang mencintai dirinya…
saya juga penasaran dengan bagaiman cara Noah menggaet Allie yang begitu “elegant”…saya benar-benar jatuh cinta dengan gaya Noah mencari seorang wanita…menurut saya Noah jauh lebih “Cassanova”, dibandingkan film “Cassanova” sendiri…
ketika saya menonton film itu saya sadar…bagaimana sebenarnya cinta itu harus diperjuangkan, bagaimana sebenarnya cinta itu harus di pertahankan, dan bagaimana sebenarnya cinta itu harus di dapatkan…
dan ketika saya hari ini mencoba mengirimkan pesan untuk sekedar bertanya…apakah kondisinya sudah membaik, namun saya dihadapkan pada sms yang tidak berbalas…
hal yang pertama saya pikirkan adalah…
“ah, dia pasti istirahat…tidur…”
hal yang terakhir saya pikirkan adalah…
“ah, dia pasti ke Ambasador…belanja…”
lalu saya berpikir…kalau sebenarnya saya masih belum punya “hak” atas lahan di hatinya…
seperti kata Noah kepada anak mereka, ketika mereka tiba ke panti jompo, dan membujuk agar Noah kembali pulang kerumah, dan meninggalkan Panti Jompo…lalu Noah berkata..
“No…I’m stay here. I wouldn’t leave her…this is my home now! SHE IS MY HOME!”
lalu hati saya berteriak…
who is my home?!
saya sendiri tidak dapat berpikir siapa…banyak bayangan yang muncul, banyak bayangan yang hilang…namun saya sadar, bahwa tidak ada gunanya berpikir…
“siapa yang tepat untuk saya, siapa yang pas untuk saya, siapa yang cocok untuk saya…karena yang terpenting adalah….cinta, dan cinta bukan masalah siapa dan bukan pula masalah kenapa…”
lalu hati saya berkata…
“let’s find a Ticket bound to Irish HOME! you can make it…”
toh kalaupun saya tidak mendapatkannya…I guess a trip at his yard has enough, and there’s still a plenty of house to visit for…
…
