considerly a higher place!

hari ini saya melakukan presentasi Agama untuk mata kuliah Character Building, setelah berjuang semalam, dan berusaha menciptakan presentasi yang mempesona, saya di hadapkan pada puluhan pasang mata yang ingin menyaksikan…

bagaimana sih tata cara dan ibadat dari Hindu sendiri?!

saya tidak ingin membicarakan tentang mata kuliah Character Building, ataupun membahas agama lain, yang justru saya dapat dari presentasi saya kali ini adalah:

“Gunakan tempat tinggi selama presentasi!”

saya tidak bohong untuk hal ini, dan sudah di buktikan. entah karena malu, tidak siap atau lain sebagainya, namun teman-teman saya yang lain malah sibuk berkutat di lantai ketika melakukan presentasi. hal ini menyulitkan bagi mereka untuk mengontrol orang-orang di bagian belakang, karena yang terlihat hanya beberapa kepala pada bangku bagian depan saja.

padahal di dalam kelas terdapat sebuah panggung kecil yang bisa di gunakan untuk beraksi dan memberikan presentasi, namun saya lihat tidak satupun kelompok yang menggunakan sarana kecil itu. tidak satu kelompok pun yang mau mencoba naik dan berbicara dari atas podium, atau panggung kecil di kelas kami. namun, rupanya hal ini berpengaruh besar terhadap presentasi yang di hasilkan.

ketika saya menapaki dan mengucapkan salam, saya merasa kalau respons yang di berikan audience kurang, dan fokus mereka tidak pada apa yang saya utarakan, sehingga saya harus segera mengambil langkah untuk mengalihkan koordinasi pikiran dan fokus mereka agar mereka bisa mendengar apa yang saya ucapkan, dan apa yang ingin saya utarakan.

sedikit “joke” yang membangkitkan suasana, adalah hal yang cukup baik untuk memulai presentasi. suasana riuh, ketika presentasi di mulai dapat di gunakan untuk menakar beberapa banyak penonton yang fokus kepada saya. dengan itu saya bisa memfokuskan suara saya dan pandangan saya kepada teman-teman saya yang kurang begitu fokus kepada apa yang saya bicarakan.

oleh karena itu, dengan menempati panggung yang cukup tinggi saya dengan jelas dapat melihat ekspresi masing-masing orang, dan menciptakan suasana yang bisa nyaman…memperdengarkan suara saya dengan tegas, sehingga tidak terlihat “sekedar” berbicara, dan membuat semua orang sadar…

“bahwa saya sedang berbicara tentang hal yang menarik di depan!”

dan ketika itu saya sadar…pilihan saya untuk naik dan presentasi dari atas panggung adalah “hal” yang paling kuat membantu saya untuk melakukan presentasi ini

mungkin saya di bantu oleh intonasi, nada, ataupun gerak tubuh…namun jelas yang saya temukan membantu saya kali ini adalah panggung kecil yang berwarna coklat dan dekil. selain itu tentu penjelasan yang saya utarakan menggunakan point-point sederhana yang menjadikan orang awam pun mengerti apa yang saya ucapkan…

hal yang terakhir ini saya justru dapatkan dari pengalaman mengajar saya, karena kebanyakan orang mengajar menginginkan muridnya memiliki impresi seperti berikut:

“aihh, keren banget yang ngajar, pinter banget!”

oleh karena itu, mereka umumnya menggunakan istilah rumit, bahasa planet, ataupun hal-hal yang terlihat “keren” padahal sebenarnya tidak membantu murid untuk memahami keadaan mereka…murid malah semakin tersesat, dan bingung tentang suatu pokok bahasan, sementara si pengajar dalam mimpinya sendiri…mimpi ketika dia di sebut sebagai salah seorang “pengajar” keren!

contoh mudahnya…

“baiklah kawan-kawan kita akan belajar variable, dimana variable adalah sebuah alokasi memory yang digunakan oleh aplikasi kita untuk menaruh suatu data. data tersebut bisa berupa bilangan integer, float, ataupun bisa kumpulan huruf. namun pada intinya, memory tersebut tidak menyimpan data itu pada keadaan sebenarnya, baik itu angka, huruf, dll. semuanya disimpan dalam bentuk binary…hanya bilangan 1-0-1-0, dst.”

saya sendiri jika menghadapi orang seperti itu akan angkat tangan, dan berkata…

“kak, ini MP3 player…tolong kakak rekam yang tadi…nanti saya denger pelan-pelan di rumah!”

kalau saya, pada intinya senang menggunakan plesetan dan hal-hal yang bersifat general dalam menjelaskan sesuatu…contohnya masih sama…saya akan menjelaskan variable, dengan gaya saya!

“oke…kita ini kan mahasiswa. nah, biasanya mahasiswa bakalan bawa kotak pensil donk?! nah…yang ga bawa, ketauan blom jadi mahasiswa!

nah…kotak pensil itu gunanya apa sih?! (buat nyimpen pensil!)
oke…kalo gitu kotak pensil saya pake buat nyimpen KFC boleh ga? (yey, ga boleh lah kak…)
nah, berhubung bicara KFC saya jadi laper nih…ada yang punya dompet isinya KFC?! (hahaha…dompet isinya duit kak?)
ya udah duitnya buat beli KFC!”

setelah tawa sedikit mereda, maka saya kan melanjutkan…

“masing-masing kotak tadi punya fungsi tersendiri, ada yang buat simpen pensil, ada yang buat simpen makanan, ada yang buat simpen duit…dan blom ada yang buat simpen istri, atau pacar simpenan…

nah…begitu juga di program! program juga punya kotak pensil! namanya “variable”…jadi kalo variable kotak pensil…jadi, apa guna variable?!”

secara otomatis mereka ngerti kalau guna variable itu nyimpen! setelah itu saya cukup jelaskan.

“sama seperti kotak pencil, variable juga punya isinya sendiri-sendiri…ada yang berisi angka, dan ada yang berisi huruf!”

setelah itu saya cukup menjelaskan tentang (kotak angka) integer, float, (kotak huruf) char, dll…dengan cara yang sederhana! simple right?! saya tidak ingin melihat pembelajaran sebagai beban…saya ingin ketika orang melihat ilmu baru, mereka menjadi “excited” dan tergerak, serta termotivasi untuk mau maju dan berusaha untuk belajar!

jujur, saya sendiri tidak merasa kalau ilmu mengajar saya baik, tata cara saya berbicara kadang kurang jelas, ucapan saya kadang tersendat di tengah, dan terkadang susah menguak contoh-contoh unik yang bisa di jadikan suatu hal yang menghidupkan suasana! salah satu contoh unik yang saya sukai adalah pelajaran System Basis Data, ketika kita memulai membuat sebuah Tabel…

“okeee…kalian sekarang adalah seorang pembuat database yang hebat, bahkan presiden sampe minta ketemu untuk minta di bikinkan data sensus. bayangkan, seorang presiden sms anda…

‘cui, ntar bikinin gw database sensus yak…’

bahkan dengan bahasa gaul?! bayangkan betapa kerennya anda…dan betapa gaulnya presiden anda!”

umumnya, murid akan tertawa sejenak mencoba membayangkan presiden gaul, ataupun gembira membayangkan dapat proyek dari presiden. dan ketika suasana menghangat maka kita coba tarik logika dan kemampuan dari murid…

“oke…untuk mencatat orang, apa yang harus kita catat?!”

maka mereka akan bercuap-cuap dan mengucapkan…

“nama, alamat…nomor telepon…”

lalu saya akan menambahkan “status”…lalu umumnya mereka akan bertanya?

“status-nya apa kak?!”

lalu dengan santai saya akan jawab…

“saya?! it’s complicated…”

itu jika cewe, jika cowok maka saya akan bilang “married“, maka kembali tawa sedikit riuh akan terdengar…lalu saya akan menghapus status tersebut, dan melanjutkan pelajaran…

kurang lebih saya menggunakan metode seperti itu ketika mencoba menjelaskan sesuatu kepada orang lain, dan ketika saya berpresentasi tadi…methode itu benar keluar, dan saya mendapatkan methode baru…

“considerly a higher place! ketika kita berbicara atau menjelaskan sesuatu kepada orang lain!”

karena ini sudah saya buktikan secara nyata…

selain itu latih kemampuan verbal, dan pengetahuan anda tentang apa yang akan anda bicarakan…anda tidak perlu bingung membaca materi dan mempersiapkan semuanya sebelum pelajaran di mulai. karena jauh lebih bagus orang yang “mengerti” apa yang harus di sampaikan namun tanpa persiapan, daripada orang yang “belum” mengerti namun penuh persiapan…karena saya cenderung type pertama… :)

selain itu…gunakan ilmu yang paling “ampun” ketika kita menjelaskan sesuatu…

“NGELES!”

selamat berpresentasi ria! ;)

dimana Pancasila kita?

Hidup bermasyarakat membuat kita merasakan perasaan dan hal-hal yang di hadapi oleh orang lain, baik kita menghadapinya secara langsung, hanya mendengar sekilas dari pembicaraan orang lain, atau melihat dengan mata kepala sendiri.

Hal-hal yang menyentuh perasaan kita itu memberikan pengaruh kita untuk peduli dengan sesama. Rasa peka itu menyentuh dan menjarah seluruh isi tubuh kita dan membuat kita mencoba sekedar membayangkan atau merasakan apa yang di rasakan oleh orang lain. Rasa yang kita bayangkan dan rasakan itu memberikan stimulus bagi kita untuk bertidak dan berlaku untuk sekedar membantu orang lain.

Gambaran seperti itu banyak sekali bertebaran di masyarakat, namun terkadang hanya berupa illustrasi tanpa aksi. Sebuah mimpi tanpa realita. Karena memang saat ini banyak manusia yang terjebak oleh mimpi atau masa lalu. Dan ketika manusia mulai terjerat dengan mimpi, maka rasa peka menjadi semakin pasif, dan ketika rasa peka memudar, maka muncul sikap individualisme yang mulai terlihat pada akhir-akhir millenium ini, sebagai sebuah sikap baru yang menjadi trend setter di masyarakat.

Namun rupanya bukan hanya gejala individualisme yang menjadi salah satu faktor menghilangnya kepekaan masyarakat. Pihak-pihak yang di kasihini juga menjadi salah satu faktor yang menciptakan menghilangnya rasa peka di masyarakat. Misalnya kebohongan publik dengan cara menggendong anak orang lain yang di sewa, sebagai modal ”kasihan” dari orang-orang agar memberikan sekedar uang receh kepada oran tersebut. Jaman sekarang ”dikasihani”, rupanya merupakan suatu lahan kerja yang potensial, dan saya lihat akhir-akhirnya golongan pekerja di kalangan ini sudah mulai membludak.

Ketika masyarakat sadar, sudah terjadi penyimpangan dan manipulasi terhadap rasa peka di dalam bersosialiasi maka dengan segera masyarakat merespons dengan menanggapi rasa peka sebagai angin lalu. Dan tentu saja keadaan ini akan membuat rasa kebersamaan semakin parah, rasanya tidak akan ada orang yang ingat dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, 20 tahun mendatang.

Apalagi akhir-akhir ini ada sebuah test kepada selebriti di salah satu stasiun TV Swasta, tentang Pancasila. Test itu di adakan pada saat Hari Kebangkitan Nasional. Pertanyaan yang di ajukan cukup sederhana, yaitu: ”Sebutkan sila-sila dari Pancasila”. Namun hasil dari test itu sungguh mencengangkan, beberapa selebriti malah benar-benar lupa akan Pancasila, atau menaruh sila secara terbalik, atau bahkan lebih parah, menggubah isi dari Pancasila.

Apakah nilai Pancasila sudah benar-benar pudar dari masyarakat, semboyan bangsa Indonesia yang mencerminkan rasa peka satu sama lain, rasa kebersamaan satu sama lain mulai hilang di telan bumi, di gantikan oleh semboyan-semboyan ”gaul” yang meraja lela di masyarakat. Atau mungkin karena Pancasila hanya di ucapkan setiap hari Senin pagi, dan hanya dilakukan oleh kalangan terbatas, maka ketika kita tidak rutin melakukannya, dengan seketika Pancasila hilang dari dalam diri kita.

Jika iya seperti itu, maka pengamalan Pancasila seperti apakah yang di terapkan oleh masyarakat di dalam bermasyarakat. Jika pada Pancasila yang menyokong negara ini saja sudah lupa, apalagi dengan negara ini, apalagi dengan orang lain.

Ketika orang lupa dengan pegangan yang teguh, ketika manusia lupa kepada pijakan-pijakan di dalam masyarakat, ketika manusia lupa dengan pagar-pagar yang membatasi dan jalan-jalan yang menerangi hidup di dalam bermasyarakat, ketika itu rasa peka dan peduli terhadap sosial memudar, dan ketika masa itu tiba. Maka, mungkin kita tidak akan mendengar kisah-kisah usang, tentang bagaimana semangatnya pada pemuda dan penduduk berjuang bersama membersihkan lingkungannya. Kelak itu akan menjadi sebuah kisah usang, dan bagian dari sejarah dimana Pancasila telah di tinggalkan, dan kepekaan di tanggalkan dari baju masing-masing orang yang hidup di negara ini.

Jika kita ingin menyelamatkan bangsa kita, mulailah dari diri sendiri, mulai lah belajar tentang hidup, dan mulailah belajar tentang bagaimana seharusnya kita hidup di dalam masyarakat, karena dalam setiap hidup manusia, aspek sosial berpengaruh sangat besar terhadap perkembangan dan kemajuan dari manusia, bangsa, dan negara. Namun tentu saja kemajuan tidak boleh menghilangkan satu aspek, seperti Pancasila. Kemajuan yang di dapat harus di gunakan untuk menujunjung Pancasila, bukan menguburnya.