apa yang menarik?!

world is an interesting place isn’t it? ada banyak hal menarik yang tersimpan di dalamnya, ada banyak hal dan misteri yang selalu muncul di dalamnya, dan ada banyak petualangan yang selalu menanti di hadapan kita. jadi pada dasarnya dunia adalah hal yang menarik, begitu juga komponen yang ada di dalamnya.

namun jujur saya sendiri jika ditanyakan, apa yang membuat kita menarik, apa yang membuat kita tertarik, maka saya hanya bisa pasrah, dan serahkan jawaban dengan sebuah kalimat…

“ummmm…”

karena dalam konteks pikiran saya, maka yang memiliki hubungan tarik-menarik yang jelas tentu saja adalah magnet, itupun jika kita menemukan south pole dengan north pole nya. jika tidak maka bahkan manget yang secara tangible tarik-menarik pun akan enggan bersentuhan. oleh karena itu saya berusaha untuk memetakan urusan “tarik-menarik-di-tarik” berikut ini dengan sang magnet.

saya berpikir kenapa saya tertarik dengan seseorang umumnya adalah karena merasa adanya “kesamaan”. dan hal ini adalah hal yang paling sering diungkapkan oleh orang banyak untuk urusan ini. entah hobby-nya sama, entah gaya rambutnya sama, cara jalannya yang sama, atau nama binatang piaraannya yang sama. semua kesamaan itu seakan menjadi daya tarik yang bisa membuat seseorang tertarik dengan kita.

padahal jka disamakan dengan “prinsip magnet” di atas, maka secara tidak langsung magnet tidak bisa tertarik pada “pole yang sama”. anda tidak bisa menggabungkan 2 buah north pole, agar dapat tertempel dengan sempurna dan baik. oleh karena itu menurut prinsip magnet, maka bukan kesamaan yang menjadi tolak ukur masalah seberapa besar kita tertarik kepada orang lain.

mungkin bisa saja, kesamaan adalah trigger awal ketika kita merasakan kalau kita tertarik dengan dia. misalnya dalam urusan musik, kita bisa saja asik mengobrol dengan orang yang satu aliran dengan kita. misalnya kalau saya suka Dangdut Koplo, maka saya akan stress ketika saya mendengar musik-musik Jazz, begitu juga pendengar Metal yang mendengar band Emo. kesamaan adalah trigger awal, namun trigger ini tidak memberikan efek continuum yang berlanjut untuk langkah selanjutnya. seperti yang Axe bilang

“selanjutnya terserah anda!”

oleh karena itu first chemistry adalah hal tidak mengikat namun sedikit banyak bisa memberikan sedikit introduction dan mendekatkan kita kepada orang lain, membuat orang menjadi tertarik dengan diri kita sendiri.

jika diistilahkan dengan prinsip magnet, maka terkadang kita sendiri tidak mengerti apakah kita dalam keadaan north pole, ataupun south pole, sehingga kemampuan kita untuk melakukan checking terkadang dilakukan pada first impression ini. apakah dia orang yang kualitas north pole nya begitu tinggi, ataukah dia seorang south pole yang memiliki karakter yang kuat?!

oleh karena itu yang melanjutkan selanjutnya adalah sisi lain dari diri anda. banyak orang yang tidak yakin dengan sisi lain dari dirinya, sisi asli dari dirinya sendiri, oleh karena itu banyak orang yang tidak suka dicampuri urusan pribadinya, cenderung introvert dan tidak mau bersosialisasi dengan orang lain. menjadi pribadi introvert memang bukan hal yang buruk, karena saya sendiri pun adalah introvert. namun yang terpenting adalah anda mengerti kapan anda harus mengedepankan sisi introvert anda, dan kapan anda harus menjaga sisi intovert anda.

dengan berusaha membuat orang tertarik, dan menilai apakah orang itu menarik atau tidak, maka orang itu harus jadi dirinya sendiri. dia harus “percaya” terhadap dirinya sendiri. so, rather than hide them self, maka ada baiknya mereka mengeluarkan dan memberikan pengetahuan kepada orang lain.

“bahwa saya itu seperti ini! this is the real me!”

dan ketika orang itu menghargai diri anda, maka believe me anda akan menarik di matanya. karena pada dasarnya ketika anda membuat orang tertarik pada diri anda yang sebenarnya maka anda sebenarnya sudah memegang langkah awal dari sebauh great race yang berinisial tarik-menarik ini.

bahkan terkadang sebenarnya tidak perlu “hal yang besar” untuk membuat menarik. you don’t need flashy things seperti orang gaul jaman dulu gunakan, misalnya BB. atau misalnya mobil pribadi. anda tidak perlu flashy things like that untuk menarik seseorang. yang anda perlukan hanyalah menemukan kecocokan, dan menyelaraskan perbedaan, lalu menyatukan semuanya to complete our self.

lalu jika muncul pertanyaan, kenapa perbedaan yang membuat kita menarik? karena pada dasarnya perbedaan yang membuat setiap orang menjadi unik, perbedaan yang membedakan satu orang dengan lain, perbedaan yang memberikan rasa dan ciri khas unik, sebuah signature yang mencerminkan kalau, this is me!

jadi pada dasarnya ketika kita bisa melihat perbedaan seseorang adalah hal yang menarik, maka itu adalah ketertarikan yang sebenarnya. dan untuk urusan flashy things, bahkan “accent” ataupun “kalimat” yang anda gunakan bisa menjadi hal yang unik. misalnya saja, saya termasuk orang yang suka menggunakan kalimat “ngerti ga?” atau “maksudnya!”, and for some reason beberapa orang sadar dengan kebiasaan saya itu dan menjadikan hal itu sebagai sisi unik saya. jadi ketika saya berbicara mereka terkadang give a joke such as…

“oke-oke kami ngerti…ga usah di tanya ‘ngerti ga?’ terus donk!”

see, they attract to my “ngerti ga?” accent, dan hal itu sangat-sangat sederhana. kenapa? karena mereka menyukai dan sadar apa yang “unik” dari diri saya!

namun jika ditanya dan dipasrahkan untuk mengurutkan sesuatu dari yang paling menarik sampai yang tidak menarik maka saya akan menyerah, karena bagi saya attraction adalah magnet, dan magnet batang, magnet tapal kuda, dll. adalah magnet dan tetap magnet, mereka tidak bisa dibedakan selain dari kekuatan dan bentuk magnet nya. sayangnya untuk mengukur kekuatan magnet kita bisa menggunakan banyak hal Maxwell Equation misalnya, atau menggunakan salah satu rumus dari Law of Force. namun setahu saya belum ada yang bisa menghitung “force field” dari sebuah attraction kepada seseorang. oleh karena itu dalam bidang urut-meng-urut-kan rank dari attraction maka saya harus menyerah dan angkat tangan.

penjelasannya sama halnya seperti teman saya yang bertanya:

“sebenarnya hati kamu ini bisa untuk berapa orang?”

maka saya secara diplomatis akan menjawab, “semua orang yang saya kenal ada di dalam hati saya, mereka semua tersimpan disana, yang membedakan hanyalah…dibagian hati mana mereka saya simpan!”. dan ketika saya ditanya apa yang membedakan antara yang paling attractive bagi saya dan mana yang bukan maka saya cukup menjawab.

“the one who’s answer my expectation of love!”

as simple as that! ;)

tersesatlah dijalan yang benar!

saya cuma membaca sebuah tulisan dari Gede Prama, dan tidak dapat ide untuk menulis, jadi saya decide menulis judul lalu berpikir masalah isi dan konteks yang dibahas selanjutnya. apakah relevan, irelevan, baik, buruk, bagus, tidak? itu urusan belakangan, toh perasaan subjektif adalah perasaan yang tidak dapat dipaksakan. kalaupun saya berpikir keras mengenai judul dan isinya, maka bukan berarti secara harafiah dan de’ facto tulisan saya menjadi hal yang bagus, bukankah seperti itu?

pada dasarnya manusia adalah jalan hidup, dan dalam perjalanan yang kita jalani, maka tidak jarang kita tersesat, kita terpinggirkan atau kita tidak mengerti arah mana yang harus kita lalui. dan begitu pula interpretasi saya dalam hidup, pada dasarnya kita semua “get lost” terhadap apa yang kita lakukan. karena kita tidak mengetahui “what exactly” yang ada dihadapan kita nanti.

oleh karena little surprise like that, maka saya merasa bergairah, saya merasakan kalau hidup adalah sebuah exciting journey, atau jika bisa mengutip Nat Geo World tag, maka saya akan berkata.

“Let’s get lost!”

karena pada dasarnya dengan berani “get lost” maka kita bisa merasakan berbagai macam hal yang mungkin tidak kita ketahui. jikalau saja saya tidak mengantar Piko kemarin, bisa jadi saya tidak mengerti kenapa ketika saya mengikuti tulisan “Pancoran”, saya bisa nyasar sampai Manggarai. saya tidak tahu, bahkan Google Maps pun tidak menjelaskan, namun setidaknya itu memberikan saya pengetahuan bahwa setidaknya saya tahu jalan-jalan yang tidak saya ketahui, and it added me some experience. benar kan?

begitu juga hidup, jika kita secara suka rela untuk get lost! maka secara tidak langsung akan ada banyak pengalaman yang menanti. misalnya anda yang hukum belajar untuk Akuntansi (semangat Ditun!), ataupun anda yang kemampuan socialnya kurang belajar untuk bicara dan menguasai seni bicara, anda yang tidak suka membaca mulai membaca sebuah buku, anda yang terlalu keranjingan internet mulai untuk berolah raga.

banyak possibilities ketika kita mendrag hidup kita kedalam hal-hal yang exciting…dan tentu saja tidak monoton!

contoh mudahnya adalah, kita senang sekali terbengong-bengong melihat hal-hal yang dikembangkan oleh orang lain. kita terheran-heran dengan kemajuan jaman, misalnya saja dalam hal pekerjaan. jika anda berkerja 20 tahun yang lalu, maka mungkin anda tidak akan mendengar Job Description seperti:

  1. Programmer
  2. Network Designer
  3. Wedding Planner
  4. Search Engine Solution
  5. dll

dan tentu saja, jika kita stick dengan pemahaman masa lalu kita, maka kita tidak akan bisa berkembang. kita stagnan di satu tempat, namun jika kita mau berusaha, dan mau berkerja dan belajar, maka ada banyak possibilities yang datang, ada banyak hal yang bisa dikerjakan, hal itu dimulai hanya karena satu hal.

“let’s get lost!”

anda tidak takut tersesat, anda tidak takut keluar dari zona nyaman anda. prilaku dinamis seperti ini adalah apa yang bisa membuat para manusia untuk bisa terus mengikuti perkembangan jaman yang ada, kehidupan yang ada, dll.

prilaku dinamis menjanjikan anda hidup yang menarik dan menyenangkan!

sama halnya seperti memulai tulisan ini, jikalau saja saya tidak menulis judulnya, jikalau saja saya tidak ingin melanjutkannya, karena takut akan isi yang tidak konsisten, takut jika menjadi terlalu buruk, takut jika menjadi bahan celaan, maka bisa dipastikan ketika saya menuliskan post ini, pada akhirnya post ini akan masuk ke draft. namun karena saya mencoba untuk tersesat dan bertualang liar dalam pikiran saya, berusaha untuk mengambil esensi-esensi yang masuk akal, dan walaupun tidak konsisten. hal itu membiarkan saya untuk tetap menulis dan mengetikan huruf-demi-huruf. sampai akhirnya muncul kalimat, dan pada akhirnya inkonsistensi itu berkontempelasi menjadi sebuah post.

oleh karena itu saya tidak takut tersesat, saya ingin tersesat, dan saya akan menjalani hidup dengan curiosity akan hal-hal yang membuat saya exciting!

tapi pada akhirnya, seperti hal-hal lainnya, maka sifat dualisme pun tidak pernah hilang dalam ketersesatan. apalagi jika dikaitkan dengan ilmu, tentu saja anda tidak ingin menjadi penganut ilmu sesat bukan? konjunggansi negatif terhadap sesat adalah hal yang membuat orang takut, sama halnya dengan Neraka. padahal menurut Gede Prama, jangan pernah takut dengan Neraka, karena Neraka mengajarkan kita untuk ikhlas. ketika kita tidak usah risau berpikir Neraka dan Surga maka semua tindakan kita menjadi ikhlas, kita tidak mengharapkan sesuatu yang kita lakukan nantinya akan dibalas oleh Tuhan, karena kita pada dasarnya ikhlas menjalankan tugas dan tujuan kita. bukankah tidak ada yang lebih indah selain berbuat ikhlas untuk tujuan yang mulia.

sama halnya Neraka di atas, maka jika anda memandang tersesat sebagai sebuah jalanan tanpa arah, maka anda sebenarnya sudah tepat, namun bedanya apakah anda mau memandang jalanan itu dan mempelajari jalan yang baru tersebut, atau anda berbalik arah dan kembali berhenti pada persimpangan yang sama.

intinya, apakah anda tersesat pada jalan yang benar atau tidak…itu adalah pilihan anda sendiri.

contoh mudah lainnya adalah hal yang selalu saya katakan kepada murid saya, dan sudah pernah saya post sebelumnya (entah tahun berapa, bulan berapa). yaitu:

“jika kita salah jurusan, bukan berarti kita tidak harus sampai tujuan kan?!”

jika di esensikan pada tersesat, maka…jika kita tersesat, bukan berarti kita akan selamanya tersesat pada tempat yang sama kan? jika kita mau mempelajarinya pelan-pelan, maka secara otomatis nantinya kita akan mengerti, dan ketika mengerti maka anda akan menambah wawasan anda, dan akan kembali mencari “ketersesatan” yang lain.

life is fun, when we think, “there’s so much possibility involve in it!”

selamat tersesat di jalan yang benar! :)

happy!

sekali lagi post dengan judul yang singkat, padat, dan jelas. mungkin karena pada dasarnya cukup susah untuk menciptakan judul yang panjang-panjang akhir-akhir ini, lagipula akan sangat aneh jika saya mencoba menuliskan judul yang panjang seperti:

“apakah anda ingin happy, sehappy happy salma, karena hanya dengan happy call anda bisa happy ketika anda menggoreng, merebus, menumis, dll”

dan anda seketika akan ayan dan gila dengan happy. selanjutnya anda akan paranoid ketika anda mendengar kata happy diteriakan, ujung-ujungnya artis Happy Salma tidak laku lagi, karena ada syndrom happynoid yaitu ketakutan terhadap kata happy di masyarakat.

namun jika ditilik, sebenarnya syndrom happynoid ini sudah terjadi dimasyarakat dewasa ini. coba anda lihat sekeliling anda, ada berapa banyak orang yang bersyukur dan selalu mengucapkan terima kasih, apapun keadaannya. coba lihat, ada berapa orang yang bisa tersenyum ketika dia dilanda kesusahan, dan ada berapa orang yang benar-benar mencintai dirinya dan hidupnya saat ini.

jangankan melihat kesekitar, anda cukup lihat kediri anda sendiri, dan saya cukup melihat ke diri saya sendiri, lalu coba tanyakan.

“apakah kita happy dengan hidup kita?!”

pertanyaan sederhana sekali bukan? dan apakah anda dengan yakin bisa menjawab pertanyaan itu 100% tanpa meragukan jawaban anda, sebuah jawaban yang bahkan hati anda sendiri berkata, “iya benar, saya happy sekali!”.

happy saat ini lebih terlihat seperti screen saver pada komputer anda. hanya muncul ketika saat idle, dan menghilang ketika mousenya baru saja digerakan sedikit. bisa bayangkan jika itu kita representasikan dalam dunia nyata. maka happy adalah hal perasaan senang yang muncul secara tiba-tiba seperti kejatuhan duren, dan menghilang secara seketika karena anda harus masuk rumah sakit akibat kejatuhan duren.

jadi happy yang muncul dimasyarakat saat ini tidak lebih dari sebuah bentuk optional dalam menjalani hidup, bahkan internet pun jauh lebih mandatory di dalam masyarakat saat ini dibandingkan tersenyum dan merasa senang.

jika kita menyalahkan teknologi sebagai biang keladi, maka kita harus bertanya siapa sebenarnya yang menciptakan teknologi? sama halnya seperti kita menyalahkan kenapa orang menciptakan benda tajam dari metal, seperti pisau, golok, kapak, dll. padahal hal itu banyak digunakan untuk membunuh. misalnya saja, oleh samurai dengan katana, oleh king arthur dengan excalibur nya, ataupun wiro sableng dengan kapak naga geni 212 nya.

namun apakah hal-hal itu tidak berguna bagi masyarakat pada akhirnya? pada akhirnya samurai bisa menjaga raja mereka, king arthur bisa mengalahkan penjahat, walaupun dengan bantuan Merlin dan Sir Lancelot tentu saja, dan tentu saja tidak lupa Wiro Sableng yang membasmi kejahatan di Indonesia akibat bantuan dan ajaran dari Sinto Gendeng!

akhirnya daripada saya bingung saya pun kembali bertanya kepada diri sendiri, masalah esensi. pertanyaan mendasar “apa sebenarnya happy itu?”

dan menurut Dale Carnegie maka kurang lebih dia mengatakannya seperti berikut ini:

“Success is getting what you want, and Happy is wanting what you get!”

jika secara vibrant dan sederhana maka kurang lebih happy adalah “perasaan menghargai apa yang kita miliki”. dan saya actually setuju dengan apa yang ada dipikiran beliau. kita semua — manusia — pada halnya diciptakan sama, tidak ada batas mental dan fisik yang mempengaruhi kita. kita lahir ke dunia sama-sama sebagai manusia yang mengemban misi yang sama.

“seberapa besar anda menghargai hidup anda!”

salah satu caranya adalah tetap berusaha untuk “complete our self”, namun tentu saja harus ada katalis kenapa kita bisa secara tekun untuk menjalankan proses “penyempurnaan” dan “penempaan” diri kita ini. dan dalam proses itu katalisnya bernama “happy”.

kita semua dilahirkan happy, kita semua diberikan anugrah untuk tetap bisa tertawa, walaupun bibir kita tidak tersenyum, walaupun suara kita tidak keluar, walaupun kita tidur. kita bisa merasakan happy kapanpun dimanapun. sayangnya seperti yang saya katakan sebelumnya, internet saat ini jauh lebih penting dibandingkan perasaan happy pada diri anda sendiri.

oleh karena itu, ketika tidur anda memikirkan untuk update status, ketika bersemedi di WC anda memikirkan untuk update status, dan ketika terjebak macet anda teriak-teriak sambil menekan tombol klakson, tentu saja tetap diikuti dengan update status.

see how affected you are with Internet?! namun bisakah anda bayangkan jika anda ganti affected anda dari internet menjadi ketergantungan terhadap “happy”.

ketika tidur anda memikirkan seperti apa langit biru besok, kira-kira Tuhan akan menggambar apa?! ketika anda bersemedi di WC anda mengucapkan terima kasih, karena hari ini anda masih bisa mengeluarkan sisa-sisa ampas kemarin, sehingga anda bisa kembali bersih dan sehat, serta memulai hari dengan cerah! dan ketika terjebak macet anda bisa tersenyum sambil mendengarkan lagu yang mengalir lewat iPod yang ada di kantong anda.

ketergantungan happy adalah hal yang asik bukan??

namun sayang sekali candu ini tidak nyata, dan tangible. dan khususnya manusia, mereka kadang-kadang agak sulit mencerna sifat-sifat tidak nyata, dan intangible seperti perasaan “happy”, karena mereka berkontempelasi dan berpikir bahwa happy diciptakan oleh orang-orang sekitar, dan apa yang terjadi pada lingkungan mempengaruhi apa yang mereka rasakan, mood mereka, dll.

padahal ada kalimat bijak yang berkata:

you’re what you think, not the other!

ya, anda adalah apa yang anda pikirkan, anda yang mengontrol hidup anda, anda yang menciptakan suasana happy ataupun tidak happy, semuanya adalah peta dan kerangka pikiran anda. dan sekali lagi saya minta bantuan dari Dale Carniege untuk menjelaskan kepada anda:

It isn’t what you have, or who you are, or where you are, or what you are doing that makes you happy or unhappy. It is what you think about.

happy adalah mindset anda tentang diri anda sendiri. jadi sebenarnya untuk merasakan how fun life could be, anda cukup merubah diri anda sendiri, anda cukup merubah cara kerja pikiran anda.

susah memang, bahkan susah sekali dibandingkan menulis theory seperti ini, karena itu mari kita…saya, anda, mereka, kita semua berusaha untuk berusaha…

life happy as long as it could be!:)

Perfect 10!

10 adalah angka keramat, namun tentu saja tidak baik membandingkan satu angka dengan angka lain, apakah itu angka 9 yang konon katanya sangat keramat juga. namun jika kita melihat ada angka 3 yang juga termasuk salah satu angka keramat yang disegani, dan ada banyak yang menggunakan angka 3 sebagai tanda keberuntungan mereka, misalnya saja, Trio Kwek-Kwek!

begitu juga angka-angka yang lain, misalnya 5 yang digunakan oleh Power Rangers, walaupun pada akhirnya menjadi 6, karena secara tidak langsung Ranger Hijau ingin masuk geng Power Rangers. 4 juga digunakan oleh Kura-Kura Ninja, dan 3 tentu saja tetap dengan Trio Kwek-Kwek sekali lagi.

inti dari 2 paragraf di atas adalah, angka satu dan angka lainnya adalah sebuah komponen spesifik yang unik, dan tentu saja bisa membangkitkan gairah antusiasme dalam situasi dan kondisi tertentu. aih-aih, bahasa saya sungguh berat, ribet, dan penuh perhitungan. seperti cendikiawan salah arah, ataupun ilmuwan yang lupa rumah. namun maksud saya adalah:

“jangan pernah membandingkan angka mana yang lebih baik! karena every one of them are FASCINATING!”

jika ditarik garis yang lebih besarnya lagi, mau angka apapun jua…tidak masalah! jadi jangan bersedih jika ujian anda dapat 4, karena 4 adalah representasi dari Kura-Kura Ninja. dan jangan takut jika anda mendapatkan 1, karena satu adalah manifestasi dari Robocop!

namun jika dilihat, banyak yang mengartikan 10 sebagai perfect number. dan karena saya kemarin tadi pagi menuliskan post yang bertema perfect. maka hari ini saya terkesima dengan apa yang saya dapatkan ketika saya menahan kantuk yang sudah diujung mata ketika pak Agus menjelaskan tentang Jasa Luar Negeri.

kemarin, tepatnya 18 hari yang lalu, maka kita mengalami sebuah fenomena yang cukup unik, yaitu:

10-10-10 10:10

tentu anda mengerti kan maksud di atas? karena percuma jika anda tidak mengerti dan anda tetap melanjutkan membaca post ini. namun karena saya sedang baik hati, dan saya tahu anda bingung dengan angka di atas, maka saya jelaskan sedikit saja.

maksud saya adalah tanggal 10, bulan 10, tahun 2010, jam 10, menit ke 10! bayangkan ada berapa angka 10 di sana, dan pattern-pattern seperti ini benar-benar menarik manusia. saya pun penasaran dengan angka sepuluh jika orang Indonesia bilang, ten jika orang Inggris bilang, dan dasa jika nenek saya yang bilang.

jika kita mengurutkan angka di atas menjadi

10101010

maka kita bisa memisah atau memilah angka di atas menjadi bilangan biner 4 digit (2^4), maka kurang lebih akan menjadi seperti berikut ini!

1010 1010

jadi kita mendapatkan 2 split part, dan jika bilangan biner itu diterjemahkan, maka guess what…apa hasilnya??? anda tidak tahu??? oh…tidak! saya sudah mencoba menjelaskan maksud angka di atas dan anda masih tidak mengerti dengan bilangan biner. oke, karena saya belum mandi, dan saya masih baik, jadi saya jelaskan sekali lagi mengenai bilangan biner.

there’s a simple way to find decimal dari sebuah binary number. caranya adalah dengan melakukan perpangkatan. mudahnya kurang lebih seperti berikut ini:

jika kita memiliki biner 1010, maka kita bisa mengurutkannya menjadi berikut:
0
1
0
1

nah bisa dilihat kalo saya menuliskannya secara reverse, jadi saya menulis dari belakang terlebih dahulu jika anda masih tidak mengerti maksud dari reverse tersebut. setelah itu anda cukup tambahkan 2^n di belakangnya, sehingga:

0 * 2^0 = 0
1 * 2^1 = 2
0 * 2^2 = 0
1 * 2^3 = 8

setelah itu lakukan penambahan maka anda akan mendapatkan hasil 10! yap 10 lagi! jadi kita sekarang tahu decimal dari binary 1010 adalah 10.

lihat! saya mengajarkan hal yang baik kan kepada anda melalui post saya? karena memang saya lagi baik hati. oke jika 1010 1010 tadi diterjemahkan maka ia akan menjadi

1010 1010 –> 10 10

dan seperti kita lihat 10 10 == ?, ya 10 lagi!! seakan-akan semuanya dimulai dengan 10 dan diakhiri dengan 10. sebuah perfect 10, pantas saja jika 10 akhirnya menjadi nilai yang sakral, utamanya dalam pelajaran dan raport para siswa.

setidaknya walaupun tidak berguna, tidak berdasar, tidak beragumen sesuai kaedah yang berlaku, namun setidaknya saya mengerti kenapa orang menyebutnya sebagai perfect 10, karena pada dasarnya semua bilangan 10 akan kembali ke 10.

dan begitu juga manusia, pada dasarnya kita semua diciptakan sempurna, dan jika kita percaya bahwa kita bisa, maka secara bertahap dengan belajar, berusaha, dan berkerja, maka kita bisa mengejar kesana, hingga nanti akhirnya kita sadar kalau kita tidak sia-sia menghabiskan waktu didunia, walaupun pada akhirnya kita sadar kalau kita masih belum bisa menjadi seorang perfect 10.

namun seperti halnya raport, bukankah anda lebih baik mendapatkan nilai 8 karena anda mau belajar dan berusaha, dibandingkan anda mendapatkan nilai 4 karena anda selalu bersuka ria, dan berfoya-foya?!

complete your self!

ada myth kuno masalah “soulmate”, jelas ini bukan dari buku Chicken Soup for the Soul, karena pada buku itu tidak ada kata Mate setelah kata Soul. salah satu myth kuno yang terkenal dari Soulmate sendiri ada pada Plato’s Symposium.

Plato mengatakan bahwa:

manusia purba dahulu kala memiliki 4 buah tangan, 4 buah kaki, dengan total delapan. mereka bisa bergerak dengan bebas sesuai kehendak hati. mereka memiliki 1 buah kepala, dengan 2 wajah. kekuatan yang dimiliki oleh mereka sangat besar, bahkan mereka berencana untuk membantai dan menjadi satu-satunya spesies yang hidup di dunia ini. oleh karena itu Zeus marah terhadap manusia, namun Zeus menggunakan cara bijak untuk memperbaiki manusia, dibandingkan memusnahkan para manusia Zeus membelah manusia menjadi 2 bagian, sehingga mereka kini berjalan dengan 2 kaki, dan 2 tangan. dan jikalau manusia tetap bertingkah maka Zeus akan kembali membagi manusia, sehingga nantinya mereka akan berjalan menggunakan 1 buah kaki saja,

saya membayangkan imajinasi orang jaman dahulu, bagaimana mereka berusaha memahami bahwa sebenarnya manusia diciptakan secara “tidak sempurna” oleh Tuhan, dan secara tidak langsung tujuan utama dari manusia turun ke Bumi adalah untuk “complete his self”.

namun jika dibayangkan sungguh seram sekali, dari manusia laba-laba, kita dibelah menjadi manusia saat ini, lalu dibelah lagi menjadi kura-kura ninja dengan 1 buah kaki. seram sekali kawan!

tapi secara tidak langsung dengan konsep sederhana itu, sebenarnya ada beberapa hal yang bisa ditarik, dan bisa dijadikan kesimpulan, utamanya untuk orang yang sedang berat jodoh seperti saya.

  1. setiap manusia diciptakan berpasangan, jadi pasti ada jodoh untuk saya. bedanya saya belum menemukan siapa pasangan hidup saya. namun susahnya saya urung bertanya dan mencari siapa sebenarnya jodoh saya. namun jika kita dibagi kembali oleh Zeus bisa dipastikan saya harus punya 3 istri kura-kura ninja dengan sebuah kaki.
  2. atau yang lebih “global” lagi, misalnya saja: pada dasarnya “complete” sudah ada di dalam diri kita sendiri yang perlu kita lakukan adalah membiarkan sang “complete” untuk berkembang di dalam diri kita.

mari bahas satu-satu sebelum mata saya kehabisan tenaga dorong ke atas untuk tetap terjaga membuat post ini.

manusia diciptakan berpasangan! saya percaya ini, namun saya urung hitung berapa pasangan yang ciptakan oleh Tuhan untuk saya. apakah saya hanya berpasangan dengan 1 orang, 2 orang, atau malah 1 kampung. namun setidaknya hal ini memberikan semangat bagi orang yang berat jodoh, dan memberikan kesempatan berpikir bagi orang yang lancar jodoh, untuk mulai memperhatikan kualitas hubungan yang di jalani oleh si lancar jodoh.

kalau istilah teman saya untuk yang satu ini, “kalau punya pacar disyukuri, kalau ga punya pacar sukurin!”

namun dibandingkan point 1, saya lebih suka melihat point 2, karena jujur urusan jodoh bukan hal yang bisa dipetakan secara reasonable dalam otak saya. apalagi belum ada yang bisa membuat peta jodoh yang komplit, atau buku panduan:

finding soulmate for dummies!

oleh karena itu, bagi saya point 2 jauh lebih masuk akal!

menurut saya yang kurang paham filosofi ini, secara tidak langsung Tuhan menciptakan manusia sebagai sebuah pribadi yang “sempurna” dalam sifatnya, hanya saja kesempurnaannya dibatasi dengan hambatan-hambatan fisik dan mental sehingga manusia cenderung selalu merasa tidak sempurna.

saya tidak pernah merasa sempurna, namun pernahkah anda mendengar kalimat. “kesempurnaan adalah milik Tuhan, dan kami memang tidak pernah sempurna, namun kami selalu berusaha menuju hal tersebut“. jadi sebenarnya kesempurnaan diciptakan oleh Tuhan untuk membuat manusia bisa lebih maju, dan mau terus belajar. sama halnya lagu Bintang Kecil di ciptakan untuk Anak TK, ataupun Ranger Hijau untuk mengkomplitkan Power Rangers.

jadi secara tidak langsung kesempurnaan adalah titik dimana kita berpikir kalau “kita masih bisa berkembang”, dimana kita merasa kalau “kita masih perlu berjuang”! bukankah hidup adalah ujian dan perjuangan dari lahir sampai liang kubur, perjuangan dari hidup kita dimulai hingga umur kita expired.

untuk menjadi sempurna yang kita butuhkan bukan orang lain, namun perasaan dan keinginan kita untuk selalu memperbaiki diri dan belajar, serta berusaha untuk selalu menempa diri, setiap hari…sehingga ketika matahari pagi bangun dan melukis langit pagi, kita siap berkata bahwa…

saya adalah orang yang lebih baik dari hari kemarin, dan akan selalu seperti itu!” in order to complete our self, demi menuju sebuah titik dan menjadi “versi terbaik dari diri kita sendiri!“.

happy completing! :)

di bawah semburat jingga!

kawan…ada bulan di pagi hari…

masih terang di balik semburat jingga mentari…

pada saat itu aku berjanji…

nanti kawan, nanti…aku akan mencarimu nanti…

dan mencintaimu sepenuh hati…

seperti janjiku pada semburat jingga di pagi hari…

lobbying!

saya baru sadar sekarang saya suka judul yang pendek-pendek, namun hal ini saya dapatkan ketika saya terpekur melaksanakan semedi pagi di WC, bahkan rencananya post ini sendiri saya tulis nanti malam saja, namun rupanya pikiran saya yang kebetulan sudah terset “jika bisa lakukan sekarang kenapa harus nanti” ini berontak.

saya suka dengan seni bicara, karena pada dasarnya saya adalah manusia yang menggunakan seni bicara untuk berkomunikasi, bukan sekedar SMS atau telepon. kenapa telepon tidak masuk seni bicara?? bukankah dalam percakapannya sendiri telepon juga menggunakan suara, dan kita berbicara disana untuk menyampaikan pesan atau maksud kita?

hal ini dikarenakan seni bicara bukan berasal dari “suara” saja. namun ada faktor lain seperti body language, situation control, dynamic, dll.

dan tentu saja hal itu tidak bisa dilakukan oleh telepon, yang walaupun berkhasanah 3G, namun kita tidak bisa melakukan situation control, mengambil attraction, ataupun mengatur dynamic dari group yang kita ajak bicara.

seni bicara sendiri sebenarnya banyak memiliki manfaat, salah satunya menambah rasa PD, utamanya ketika kita berbicara didepan orang banyak. bukankah terlihat PD di mata orang lain adalah hal yang baik, dan tentu saja mengangkat value proposition diri kita sendiri?!

namun yang saya tadi pikirkan sambil terpekur di WC adalah “lobbying!”

banyak orang yang mungkin secara tidak langsung, atau tidak sadar, mengamini bahwa “lobbying” adalah hal yang essential di dalam bisnis, utamanya tentu saja dalam menjalin partner, mendapatkan kepercayaan, dan menciptakan sustainable consumer. namun secara tidak langsung kita semua lupa, apa dasar dari lobbying itu sendiri!

lobbying pada arti dasarnya adalah keinginan atau kemampuan untuk mempengaruhi sebuah keputusan yang dibuat oleh orang atau kelompok lain.

oleh karena itu, kadang mata rantai bisnis selalu terhubung dari hal yang bernama lobby, karena secara tidak langsung lobby yang mempengaruhi apakah orang atau kelompok bisnis tersebut mau bersatu dengan rantai yang sudah ada.

namun walaupun pada harafiahnya lobbying ini muncul pada sisi legal (seperti pengacara, government, dll), namun terms lobbying ini cenderung negatif jika beredar dimasyarakat, seakan semua lobbying adalah shortcut untuk mendapatkan costumer, bahkan terkadang sustainable nya dipertanyakan.

namun sesuai study case yang pernah diberikan kepada saya masalah lobby-me-lobby, maka secara tidak langsung lobbying yang baik adalah lobbyist yang melakukan lobby dengan menjadi dirinya sendiri, dan tidak bertindak dalam bentuk sesuai jati dirinya.

karena ketika kita mendekati orang dengan menjadi diri sendiri, orang lain secara tidak langsung akan tetap menghargai kita, walaupun nantinya mereka sadar kalau kita punya hal yang ingin disampaikan, atau kita ingin memberikan influential di dalam decision yang mereka buat.

Dale Carnegie terkendal dalam ilmunya untuk mencari teman yang dituangkan dalam bukunya Public Speaking and Influencing Men in Business, sudah menjelaskan bagaimana caranya memberikan influence kita kepada orang lain, dalam kata yang lebih sederhana buku ini mungkin dapat diartikan, “tata cara mudah melakukan lobby!“. sayangnya Dale Carnegie lupa kalau jaman sekarang sudah ada Woman in Business, bukan hanya Men. namun apapun itu esensinya tetap buku yang dibuat pada tahun 1913 ini adalah buku yang wajib dipelajari untuk mengetahui seni berbicara.

selain itu saya juga suka dengan Larry King. pembawa acara TV senior yang berawal dari seorang penyiar radio ini adalah salah satu orang yang memiliki kemampuan social dan berbicara yang baik. bahkan seni berbicara pertama kali saya baca dari bukunya yang berjudul, How to Talk to Anyone, Anytime, Anywhere : The Secrets of Good Communication.

di dalam bukunya Larry King sendiri berkisah bagaimana kita berbicara, apa yang harus diperhatikan, topik apa yang menarik, and interestingly ternyata topik yang paling menarik adalah cuaca! misalnya saja, ketika kita takut untuk memulai berbicara maka membicarakan cuaca adalah hal yang baik, karena banyak hal yang bisa ditarik dari sana, misalnya saja:

“ahhh, hari ini mendung…padahal saya baru saja mencuci motor!”

cobalah berbicara seperti itu kepada stranger yang juga menunggu diluar tempat parkir, maka dia akan menoleh anda dan menjawab pertanyaan anda, padahal anda sendiri secara tidak langsung hanya menyatakan bahwa anda belum mencuci motor, anda tidak bertanya kepada orang itu secara langsung kan? and believe me it works!

selain itu seni bicara juga mengajarkan bagaimana cara bersikap yang ramah ketika berbicara, salah satunya adalah rumus SMILE, yang mungkin nanti saya bahas, kalau ada waktu! ;)

jadi apa kesimpulannya?? saya mungkin masih bisa menulis beratus-ratus kalimat lagi, berlembar-lembar lagi page, namun pada dasarnya kita semua sebagai lobbyist terlalu fokus pada apa yang ingin kita capai dari lobby tersebut. misalnya saja, anda melakukan lobby untuk mengambil Payroll sebuah perusahaan Multi National di Indonesia, maka umumnya kita berpikir “apa yang bisa kita dapatkan, apa yang bisa kita berikan dari ‘payroll’ kita!”

kita berpikir masalah produk, kita berpikir masalah “kita!”

padahal seni berbicara sendiri berkata, “untuk memulai konversasi, dan melanjutkan konversasi, maka yang harus anda ketahui adalah apa yang diinginkan lawan bicara anda!”, apakah dia merasa bosan? apakah dia merasa tertekan? apa cara approach kesukaannya? apa hobbynya? dll. kita harus memandang lobby bukan sebagai object tapi sebagai “person”. karena pada dasarnya ketika anda melakukan negoisasi, anda berhadapan dengan seorang “PERSON!”.

coba ingat kembali arti dari lobby! lobby adalah influential dari kita untuk mempengaruhi keputusan orang lain, adakah yang menyatakan yang mempengaruhinya adalah produk kita? tidak bukan?

jadi jika anda mau berbicara, ingin berbicara, akan berbicara…coba pikirkan sekali-sekali…

“apa yang orang ingin dengarkan dari anda! apa yang mereka inginkan! itu yang terpenting!”, karena ketika mereka sebagai person berkata, “THAT’S WHAT I WANT TO HEAR!”. maka anda sudah berada dalam tahap dimana anda sudah mengerti bahwa lobbying adalah sebuah seni!

selamat berbicara! :)

dicap!

hari ini seperti biasa beberapa SMS selalu mengalir di HP saya, terkadang hanya saya lihat, beberapa saya balas. sampai akhirnya si Piko sms:

“adi kamu kok kalo sms jadi ga begitu lucu ya…”

kesimpulan saya ketika saya baca sms itu adalah:

  1. saya anak anjing kecil yang putih, dengan bulu gondrong, bau harum
  2. sms itu adalah kumpulan humor jenaka
  3. memang pada dasarnya saya jayus

saya memilih opsi-3 sebagai jawaban saya. karena jujur, pada dasarnya act yang saya lakukan adalah “what represent my self”, makanya kalau lucu ya bagus, kalau tidak ya tidak kenapa. toh, menurut prinsip saya, membuat orang tertawa adalah pahala, jadi tidak ada salahnya kan membuat orang tertawa. namun membuat orang tidak tertawa, bukan berarti kita berdosa kan?? worth to try lah untuk membuat orang tertawa…as everyone having one, maka secara tidak langsung emosi positif kita terdorong dan kita juga jadi having fun!

namun jika mau dikata, maka saya bisa bilang kalau diri saya sendiri “jayus”! not to mention anything, karena terkadang saya hanya punya beberapa topik pembicaraan, saya bukan topic builder, oleh karena itu saya sering kali mampet ide kalau urusan lucu-lucuan. harusnya untuk urusan ini Piko nanya sama Cok, bagaimana cara yang bagus untuk bisa lucu di SMS.

tapi sampai sekarang saya tidak menemukan logika, kenapa saya pun harus lucu di SMS? apakah dengan cap saya sebagai orang “lucu” (walaupun lebih sering jayus) pada dunia nyata, maka saya harus lucu dimana saja? termasuk post di blog saya? termasuk di status facebook saya? termasuk di SMS saya? ada banyak pertanyaan yang mengganjal, misalnya seperti:

“kenapa CAP bisa mempengaruhi hidup kita?”

saya di CAP LUCU, maka otomatis saya harus lucu dalam setiap kondisi, oleh karena itu saya memilih untuk tidak menjadi lucu saja, karena untuk membuat orang selalu tertawa adalah pekerjaan sulit untuk orang jayus macam saya. jadi buat apa susah-susah berusaha agar “lucu” kalau toh akhirnya lucu tersebut dipaksakan, sehingga pahala yang kita dapat tidak maksimal.

lalu saya mulai berpikir masalah representasi, misalnya seperti kalimat:

“tulisan terkadang jauh lebih jujur dibandingkan dengan omongan!”

namun ada yang membatin dan berkata dengan ketus, ahhhh…kalau tulisan kan bisa diketik, dihapus, dibuang, tidak jadi dikirim, dll. jadi selalu ada proses pembenaran…jadi ketikan bukan hal yang JUJUR donk!

masuk akal bukan? saya juga berpikir seperti itu? bahkan bisa dikatakan saya tidak bisa menghitung ada berapa kali backspace yang saya pencet hanya untuk menghapus sebuah huruf, sebuah kata, atau sebuah kalimat. sungguh, saya tidak pernah hitung berapa kali!

jadi apakah kalimat itu harusnya menjadi:

“terkadang omongan jauh lebih jujur dibandingkan tulisan!”

nahhhh, sekarang giliran yang mendukung tulisan berkata ketus, katanya. aih-aih, masa iya omongan bisa lebih jujur, bukannya orang lebih sering bohong waktu ngomong. misalnya aja waktu bolos! kita bohongnya pake bibir kan? ngomong kan? emang ada yang bolos ngasi taunya pake tulisan?! jelas omongan tidak lebih jujur dibandingkan tulisan!

nah lhooo, jadi bingung kan? jadi sebenarnya siapa yang benar?! nah daripada si omongan dan si tulisan berantem saya akhirnya pilih jalan tengah.

“bohong itu bersumber dari keinginan!”

kalau memang pada dasarnya kita ingin untuk bohong, maka mau menggunakan tulisan, omongan, semaphore, morse, sandi rumput, caesar chiper, enigma, maka kita bisa saja bohong. intinya bukan kepada “cara” atau “bagaimana” saya mengungkapkan sesuatu, namun lebih kepada bagaimana saya menghargai hal tersebut. apakah saya menghargainya sebagai sebuah kejujuran atau kebohongan.

dan kembali kepada masalah saya yang jayus! saya sadar…mungkin saya jayus, karena memang saya jayus, dan saya yakin saya jayus…

jadi walupun saya dicap lucu, maka dalam hati sebenarnya saya adalah makhluk jayus yang bingung kenapa saya bisa tersesat dan dicap lucu oleh orang-orang…malang sekali kawan, malang!

NB : Piko, sorry ya smsnya Adi jarang yang lucu! soalnya kalo SMS Adi emang kurang menggigit, masih ompong! :)

it doesn’t need long time!

akhirnya saya balik juga dari PUSDIKAJEN (Pusat Pendidikan Ajudan Jendral), setelah seminggu ditepa agar memiliki attitude yang baik, dan bermental positif. walaupun alasan itu tidak masuk akal, kenapa saya selalu alpa mengisi blog saya, but somehow let’s take “masalah umum” seperti alpha nya saya mengisi blog dengan apa yang saya dapat disana.

for some people, mendengar istilah SAMAPTA, dan PUSDIKAJEN adalah sebuah bagian nyata dari kisah horor. apalagi jika kita menyandingkannya dengan hal-hal yang bersifat disiplin, dan fisik, seperti: lari keliling lapangan, push up, selalu di hukum, dll.

fear about something yang masih rumor seperti itu seakan-akan mempengaruhi kita bagaimana mental yang kita bawa ketika kita dalam suasana fait accompli dimana kita mau tidak mau, harus mau mengikuti pendidikan militer!

dan ternyata pada akhirnya saya sendiri membuktikan bahwa, rumor masih rumor dan semua hal tentang “kekerasan” dan “ketidak betahan” selama pendidikan militer menguap. karena sesungguhnya ada banyak hal yang bisa kita dapat disana.

misalnya masalah kedisiplinan, seperti bangun, dan melaksanakan kegiatan sederhana seperti makan. kita diajarkan bagaimana rasanya hidup dengan disiplin, setelah kita secara mudah menolak disiplin yang diterapkan dalam kehidupan kita saat ini. saya termasuk orang yang malas bangun pagi, namun alasannya bukan karena saya tidak ingin masuk kantor, namun lebih kepada….”saya tidak bertekad untuk bangun pagi!”.

oleh karena itu sugesti itu mempengaruhi saya, dan ujung-ujungnya saya tidak jadi bangun pagi. sama halnya dengan olahraga, saya termasuk salah satu pecinta olahraga yang benci melakukannya secara fisik. jadi omongan saya tentang akan lari pagi, dll. selalu menguap dan berakhir dengan kalimat…”besok saja dimulainya!”

sebenarnya inti dari sikap kita adalah “tekad kita sendiri!”, jika kita bisa memelihara tekad kita maka kita tidak perlu bingung, dan tidak perlu alasan, “untuk apa saya melakukan ini!”.

dan untuk menyadari hal itu tidak perlu waktu yang lama, cukup beberapa hari di tempa di PUSDIKAJEN saya menyadari bahwa sebenarnya tidak perlu lama untuk “BERTEKAD!”, utamanya bertekad untuk berubah menjadi lebih baik!

selain urusan tekad, saya disana juga diajari bagaimana caranya kita membangun relationship dan membentuk jaringan social dengan cara mengasah social skill kita. ketika kita digabungkan kedalam sebuah kelompok yang hampir sebagian besar kepalanya tidak anda ketahui, maka anda harus menyiasatinya dengan cara melakukan adaptasi untuk dapat blended dengan lingkungan baru tersebut. seperti kalimat dari Komandan Dana di hari pertama.

“life is adjustment, adjustment is decision, decision is alternative”

maka untuk hidup kita harus melakukan adjustment terhadap diri kita. ketika kita memasuki sebuah kelompok baru maka kita harus mengadjust diri kita dengan kelompok tersebut, berbaur, dan berakrab serta menjual value proposition kita kepada mereka, agar kita dihargai, dan secara tidak langsung hal ini hanya bisa dilakukan jika kita menghargai mereka.

jadi sebenarnya untuk mengawali sebuah hubungan yang diperlukan adalah adjustment untuk menentukan “bagaimana caranya agar hubungan ini bisa terjadi”. dan hal seperti itu tidak perlu waktu lama untuk diketahui, cukup 1 minggu, dan saya mengerti bahwa untuk bisa membangung rasa pertemanan dan keakraban kita hanya perlu ADJUSTMENT terhadap diri kita dengan lingkungan. tidak perlu waktu lama untuk tahu hal seperti itu!

selain masalah tekad dan adjustment, hal yang sering saya temui adalah, bagaimana rasanya suka dengan seseorang dalam waktu “kilat”. lebih kilat daripada petir, lebih kilat daripada cuci cetak foto!

dan hal seperti itu tidak perlu waktu lama untuk disadari bahwa anda telah “fell” for her! tidak perlu waktu lama untuk menyadari bahwa kita jatuh cinta!

apalagi hanya sekilas melihatnya ketika dia maju kedepan mengambil Name Tag dengan tulisan lengkap namanya. hanya sekilas melihat ketika sedang baris berbaris, sekedar untuk mengetahui apa yang dia kerjakan. hanya sekilas bertanya-tanya kepada orang bagaimana sebenarnya dirinya. hanya sekilas…tidak kurang tidak lebih…

benar kata orang, waktu itu relative, maka ketika ada yang bertanya…”seberapa lama?” kepada sebuah hal, maka saya akan menjawab…

“it doesn’t need long time!”

karena pada dasarnya kita tidak perlu waktu lama untuk bisa bertekad, berubah, dan mencintai! tidak butuh waktu lama untuk memulainya…namun butuh kesabaran dalam prosesnya…

saya mencoba untuk memulainya…dan mohon doa dan bantuannya selama prosesnya! :)

sampai jumpalitan lagi di lain waktu!

diam-diam!

lama tidak post, dan akhirnya bulan ini bertelur juga…post ini lahir juga setelah beberapa kali dimasukan kedalam draft, sebuah penjara tanpa kepastian…

“diam itu emas”, itu adalah salah satu kalimat bijak yang selalu terngiang ditelinga saya, dan berdengung dikepala saya. oleh karena itu faham itu saya junjung setinggi mungkin, dengan harapan nantinya mendapatkan “emas”, tentu saja secara metafora.

namun sayangnya memang manusia selalu memiliki kelemahan, saya yang berencana untuk “diam”, maka menjadi tidak bisa “diam”. oleh karena itu saat ini saya takut! saya takut suatu saat nanti saya tidak bisa dapat emas karena saya tidak bisa diam.

namun ada satu hal yang bisa membuat saya diam. bahkan lebih dari sekedar diam dan tidak bicara, saya bisa diam tidak beraksi!

hidup adalah kumpulan “action”, dan action tentu erat kaitannya dengan seberapa berhasilnya anda dalam mencapai tujuan anda. misalnya anda ingin membeli Mobil Aston Martin DB9, namun anda hanya memasang poster mobil tersebut, dan membayangkan anda menaiki mobil tersebut, tanpa mau menabung dan berkerja lebih giat. maka niscaya sang Aston Martin akan tetap berada di mimpi anda, dan dinding kamar anda.

seperti yang orang bijak katakan, dream without action tidak akan mendapatkan hasil apapun, begitu juga action without dream, akan membuat anda tersesat. oleh karena itu untuk mencapai tujuan anda, maka harus ada keseimbangan antara “dream” dan “action” yang anda lakukan.

dan dalam hal yang bertema “cinta”, saya mati kutu. bukan karena shampoo pantene, tapi saya mati kutu, karena saya tidak mau bertindak!

saya sedari dulu selalu saja diam-diam jika urusan cinta. saya tidak pernah terus terang, bukan karena saya tidak menggunakan philips, namun lebih karena saya tidak jujur pada hati saya. merasa being “unworthy”, dll. ada banyak hal, ada banyak alasan yang muncul, namun sebenarnya satu hal yang membuat saya menjadi “diam”.

“no action!”

nah kenapa saya menjadi no action, saya pun melakukan reasoning, entah karena afraid of rejection, dll. saya benar-benar clueless dan membiarkan bahwa “diam dalam urusan cinta” adalah penyakit moral kritis yang sudah saya alami sejak dulu, dengan harapan suatu saat ada obat yang bisa menyebuhkannya, atau ada spare part penggantinya pada bengkel terdekat. sayangnya sampai saat ini, obat itu belum saya temukan! ujung-ujungnya beberapa hal menjadi sesuatu yang kita “regret” pada akhirnya!

karena kita lupa bahwa “action” yang menentukan, dan pada saat ini saya sadar, ada yang lebih menyedihkan daripada cinta yang bertepuk sebelah tangan. cinta yang dirasakan diam-diam! karena pada akhirnya semua yang memulai cinta secara diam-diam, akan selalu berakhir dengan penyesalan dan sendirian!

namun batin saya tergerak membela saya dari jeratan logika, dia bertanya…

“apakah kita salah untuk mencintai seseorang secara diam-diam?”

logika saya diam…lalu menjawabnya, “setidaknya semuanya akan lebih baik jika tidak dilakukan diam-diam!”

namun batin saya tidak mau kalah lalu berkata, “bukan lebih baik, hanya lebih jelas!”

moral of the post?! jangan pernah jatuh cinta diam-diam, utarakan, ungkapkan, dan beritahukan! karena setidaknya itu yang memberikan kita kejelasan bahwa cinta yang kita rasakan itu nyata adanya!