jump to navigation

di tuduh maling… Januari 31, 2009

Posted by adi martha in a pint of milk.
2 comments

suara teriakan menggema di sisi lorong panjang dan kelam, beberapa orang membawa benda dengan sikap di acung-acungkan, mirip seperti para pengantri beras atau BLT yang ingin mendahului orang lain, berdesak-desakan dan mengancungkan tangannya agar di layani terlebih dahulu.

jalan yang licin tidak membuat mereka tergesa-gesa dalam melaluinya, sinar matahari yang enggan tembus di antara tumpukan batu bata merah dan tinggi ini membuat gang ini semakin senyap, sepi, dan lembab. bahkan genangan air kemarin sore masih belum hilang, atau mungkin genangan air itu adalah genangan air banjir bulan lalu yang membuat kami sejenak haru pergi meninggalkan rumah kami, dan bernaung di atap orang lain untuk sementara.

mungkin sekitar 5 orang yang berteriak dan mengacungkan benda-benda keras, baik tumpul, maupun tajam itu. namun suara gaduhnya mampu mengundang kucing untuk sekedar menengok, bahkan pipit menghentikan pekerjaannya demi melihat apa gerangan yang sebenarnya terjadi di gang kecil yang bau kencur itu.

jauh di depan 5 orang itu ada sekelebat bayangan kecil yang berlari pontang-panting seperti di kejar setan, mungkin karena 5 orang di belakangnya bertampang setan, maka si kecil yang terlihat kurus itu menjadi takut dan berlari tidak karuan arahnya, yang terpenting dalam setiap jengkal jejak yang di tinggalkannya dia berharap kalau dia bisa menjauh dari orang-orang yang mungkin di anggapnya sinting itu.

tanpa perlu berhenti ia bergerak berbelok dan masuk ke sela-sela tumpukan kardus kecil yang biasa di gunakan untuk menampung buah-buahan yang akan di jual di pasar inpress dekat perkampungan kecil dan kumuh itu. beberapa buah busuk masih tertinggal disana, menyebabkan bau menyengat yang anyir, mungkin beberapa bangkai hewan juga di campur adukan ke dalam tumpukan kardus-kardus kecil dengan tulisan china di sepanjang bodynya.

tidak beberapa lama, 5 orang yang kesetanan itu lewat dan berpencar arah, karena rupanya mereka telah kehilangan jengkal si kecil yang batang hidungnya sudah menghilang secara tiba-tiba, seperti ninja, ia lenyap di telan bumi.

setelah menyadari posisinya aman, maka dengan gerakan dan langkah kecil, ia keluar dari tumpukan kardus dan berjinjit pelan, bergerak laksana kucing, diam, lugas, tegas, dan cepat. bahkan kucing yang berada di tembok dekatnya pun terheran-heran melihat ada manusia yang menyalahi kodratnya, dan berjalan selayaknya kucing. “gila”, mungkin begitu desis kucing itu, namun sayang sekali aku tidak mengerti bahasa kucing.

belum beberapa langkah, seorang pria berbadan tidak kalah kurus di tabraknya, dengan tatapan gugup dan takut dia memandang ke atas, mencoba melihat dari balik sela-sela sinar matahari yang menyinari punggung pemuda kurus yang baru di tabraknya itu.

“ga kenapa dik?”, tanya si pemuda dengan harap cemas, sambil menjulurkan tangannya ingin membantunya untuk bisa bangun.

mendengar kalimat itu, sejenak hatinya menjadi tenang, raut mukanya berubah menjadi sedikit cerah, walaupun mendung masih saja sedikit menggantung, dan rona wajahnya sudah seterang sinar matahari yang tadi menerangi punggung pemuda itu.

“ga kenapa bang!”, sahutnya sambil meraih tangan pemuda itu dan bangun, lalu menepuk-nepukkan tangannya di seluruh tubuh, mencoba membersihkan debu yang menempel, toh sebenarnya debu itu bukan berasal dari tanah tempat ia terjatuh, namun lebih kepada sudah berapa minggu ini bajunya belum di cuci.

si pemuda lalu duduk di sebuah kursi panjang yang berada di dekat kardus itu, biasanya para kuli yang membawa kardus itu ke tempat ini beristirahat sejenak sambil berbicara ngawur untuk melepas penat mereka ketika sibuk membawa kardus-kardus kecil itu. di kursi itu biasanya para kuli tenaga peras itu berbicara tentang hal-hal yang tidak jelas juntrungannya, bahkan mungkin tidak berpengaruh untuk hidup mereka. mereka berbicara tentang kebijakan presiden, tentang langkah-langkah yang di ambil oleh DPR, dan tentang hal-hal berskala major yang ada di setiap warta yang mereka baca, hanya dari bungkus nasi kuning yang mereka beli di ujung depan pasar sana, entah tahun berapa namun aku melihat sebenarnya para kuli ini memiliki nafsu membaca yang besar.

sedangkan disana jauh di depan sana, ada sebuah kursi plastik kecil, biasanya di gunakan oleh cukong buah untuk memantau anak buahnya berkerja, disana ia juga mengobrol, walaupun dalam kaidah kalau dia mengobrol kepada dirinya sendiri, dan topik yang di obrolkannya pun hanya berskala minor, “sudah berapa buah busuk yang dia terima hari ini”, hanya itu ceracaunya setiap kali ada buruh yang membawa sekardus kecil buah busuk menuju tempat ini.

aku lalu menepuk kursi di sebelahku dan mempersilahkan anak itu untuk duduk, sambil melihat kanan-kiri dia mendekati aku dan duduk dengan santai di sebelah ku. sambil tersenyum di pandang mata anak itu yang berbinar, sebuah mata masa depan di tengah gang kumuh ini.

“tadi lari-lari kenapa dik? sampe ngumpet begitu?”, tanya pemuda kurus itu sambil tetap tersenyum kecil ke arah si anak kecil.

“eh?”, si anak kecil tergagap dan bingung harus menjawab apa, apakah dia harus memberitahukan semuanya, berbicara jujur, atau malah mungkin menciptakan sebuah kebohongan yang tentunya akan selalu di ikuti oleh kebohongan-kebohongan yang lain.

pemuda itu mengernyitkan alisnya seakan ingin bertanya, “kenapa diam?”, dalam bahasa symbolis praktis, karena tidak ada gunanya membuang tenaga untuk sebuah hal seperti itu, toh sekarang makan susah, sehingga tenaga harus selalu di hemat.

“Anu bang…”, sahut si anak tergagap, nampak sekali kalau dia dalam keadaan tertekan, entah tertekan oleh hidup, oleh nasib, oleh jaman, oleh waktu, atau oleh 5 orang pemuda yang kesetanan tadi.

si pemuda kembali mengernyitkan alisnya sekali lagi, seakan ingin bertanya, “ada apa?”, sebuah dialog symbolis praktis yang benar-benar manjur dalam situasi seperti ini.

“Saya di bilang mencuri!”, sahut anak itu sambil menundukan kepalanya tidak berani menatap wajah si pemuda, padahal baru tadi aku melihat matanya yang berbinar penuh cahaya masa depan, luap, gegap, dan gempita oleh semangat. namun sekarang matanya berubah sayu dan mendadak kelu, tenggelam dalam perasaan tertekan.

melihat hal itu, tangan si pemuda bergerak, si anak dengan cepat menggeser posisi duduknya, berpikir akan segera di gampar oleh si pemuda, namun rupanya pemuda itu tidak bermaksud untuk menghajar seorang anak kecil yang tersudut pilu dalam sudut hatinya, ketika ia di kejar oleh 5 pemuda kesetanan, karena ia di tuduh mencuri. tangannya yang kasar dan kurus itu mengusap pundak anak kecil itu, sambil membelainya perlahan, pemuda itu menciptakan sebuah suasana hangat untuk menenangan hati si anak.

“kenapa kamu di tuduh mencuri?”, tanya si pemuda tanpa bermaksud menyelidiki, karena dalam untaian nadanya sama sekali tidak ada kalimat selidik. tutur nya yang sederhana itu semakin membuat si anak untuk merani menatap si pemuda yang berada di sampingnya dan menepuk pundaknya untuk membesarkan hatinya.

“Gini bang…”, sahutnya setengah tergagap, mungkin karena dia menahan bulir air mata yang akan jatuh ke pelipisnya, akan tumpah kepipinya, dan akan ruah ke tanah pertiwi ini. sedikit sesenggukan, namun aku bisa melihat kalau sekarang dia sudah mulai tegar dan bisa berbicara, walaupun masih belum hafal benar dengan huruf yang akan dia ucapkan, karena ia masih tergagap dalam mengeja kalimat yang dia ucapkan, mungkin belum sepenuhnya sedih itu hilang dari sudut hatinya.

“Jadi tadi, saya bawa dompet merah hasil nemu di jalan, trus tiba-tiba ada orang yang dateng terus teriak, ‘Eh tu anak bawa dompet emak gue, kampret!’”, dia menatap pemuda itu tajam, lalu pemuda itu menganggukan sedikit lehernya memberi tanda, “lanjutkan”, agar si anak melanjutkan ceritanya yang baru saja berjalan beberapa detik.

“Nah, belom sempet saya kasi tau yang sebenernya, eh saya malah di uber…padahal saya udah teriak-teriak kalo saya nemu dompet ini!”, katanya seraya mengeluarkan dompet yang terselip di saku bajunya.

aku memperhatikan dompet dengan motif bunga dengan renda emas itu, pemuda itu tersenyum dan mengambil dompet itu, lalu ia mengelus kepala si kecil sambil bertanya, “memang mau kamu bawa kemana dompet ini dik?”, tanyanya.

si anak kecil dengan mantap menatap si pemuda lalu berkata, “saya pingin baliki ke orang yang punya bang! saya liat disana ada KTP, nama pemiliknya Listiana Yulianti Tahir, dia tinggal di komplek seberang rel kereta, makanya saya tadi ke sana buat balikin ni dompet!”, sahutnya tanpa ada keraguan sedikit pun, pemuda itu kini tersenyum lebar dan mengucek rambut anak kecil itu sambil berkata, “hebat!”.

mendengar pujian dari pemuda itu, si anak kecil tersenyum lebar dan bangga, namun tidak lama sebelum beberapa gerombolan datang dan berteriak.

“Woi maling!”, sahut seorang pemuda sambil bergerak mendekat, dia lalu berteriak, “Woiii…malingnya disini…”, kepada teman-temannya yang tidak beberapa lama datang dari beberapa arah yang berlainan.

si anak kecil diam meringkuk ketakukan dan merasa di pojokkan, matanya yang tadi binar kembali kelu untuk kedua kalinya, seperti prekuel, ia kembali tersudut dalam sudut hatinya. pemuda itu bangun dan menarik anak kecil itu ke arah dekatnya, sambil memperhatikan ke 5 pemuda yang sudah kerasukan setan itu.

“Ohhhh….jadi elu penadahnya!”, sahut pemuda dengan topi di kepalanya, terlihat lusuh dan kucal, di tangannya terpampang sebuah botol minuman keras yang berwarna hijau, cukup besar dan keras untuk di jadikan sebuah senjata, beberapa lainnya ada yang membawa payung, gagang sapu, dan rantai sepeda motor, “edan” pikirku dalam hati.

pemuda itu tidak takut, dia bahkan tersenyum lalu berkata dengan sopan, “Abang-abang ini ada apa ya kok malah teriak-teriak ga jelas begitu?”, sahutnya tetap dengan senyum yang terkembang di kedua sudut bibirnya.

“Diem lu…lu penadah dari maling kecil ini kan?”, sahut pemuda bertopi itu kembali, lalu dengan santai ia menunjuk dompet merah berenda emas yang kupegang, “Nah itu dia dompet emak gue!”, sahutnya sambil menunjuk-nunjuk dompet itu, seperti menemukan barang bukti, seperti seekor monyet yang melihat kacang, seperti petani yang melihat hujan, seperti buruh yang baru terima gaji.

si pemuda itu lalu menatap heran ke-4 pemuda lainnya, lalu bertanya, “Trus 4 orang yang lain ini ngapain?”, tanyanya kepada 4 makhluk lainnya yang menguntit pemuda bertopi ini.

“Kita bantuin abang ini, katanya ni anak nyolong dompet emaknya!”, sahut seseorang dengan kulit hitam dan rambut kriwel seperti jalinan tali layang yang menyangkut di antara ruas-ruas kabel tiang listrik yang membentang dan berseliweran di atas kampung ini.

lalu si pemuda kembali bertanya kepada 4 pemuda itu, “trus yang bilang ini dompet emaknya siapa?”, dan dengan spontan tanpa ada yang memberikan komando ke 4 pemuda itu menunjukan tangannya kepada pria bertopi dengan botol minuman keras di tangannya.

tanpa ragu, kembali si pemuda bertanya, “trus, ada yang tahu bener ga ini dompet emaknya?!”, tanya si pemuda. namun pemuda bertopi itu memotong ucapannya dan berteriak, “ahhh, banyak bacot luu…hajar!”, sahutnya yang bukannya di ikuti oleh 4 pemuda lainnya, namun mereka malah diam mematung seperti di lilit oleh sihir medusa, seperti di kutuk seperti maling kundang, membatu dan kelu.

“Heh, kenapa lo pada?”, tanya si pemuda bertopi kepada 4 punggawa yang menguntitnya tadi.

“Nah…sekarang kalo anak kecil ini bilang, kalau si pemuda ini bencong, homoseks, penyuka sesama jenis, tukang garot, pedofilia, dll…kalian bisa langsung percaya ga?”, tanya si pemuda kepada 4 orang yang diam membatu itu.

lalu dengan tergugup seseorang di antaranya menjawab, “ga bisa percaya bang…”, sahutnya sambil menunduk di ikuti oleh tundukan dari 3 orang yang lain.

“Terus kenapa kalian bisa percaya kalau ini dompet emaknya? padahal kalian sendiri belum kenal dengan emaknya?”, tanya si pemuda yang kembali di ikuti oleh tundukan yang lebih dalam lagi, seakan berpikir dan mencoba berpikir, walaupun mungkin beberapa dari mereka sudah memindahkan isi kepala mereka ke bagian dengkul atau betis, sehingga sulit baginya untuk berpikir. tanpa bisa di potong si pemuda berkata, “Apa karena dia anak kecil maka dia tidak harus di percaya? apa karena dia tidak pernah membawa uang maka ia bisa di katakan rampok?, kalau begitu berarti saya juga tidak salah berkata bahwa pemuda ini homoseks, karena dia tidak pernah saya lihat membawa wanita, yang saya lihat dia punya 4 orang penguntit pria di belakangnya!”, sahut pemuda itu sambil menyeringai seperti mengejek ke-4 pria tersebut.

dengan sedikit berdehem lalu kuliah tujuh menit itu di mulai kembali, “Ehm, terkadang kita terlalu berpikiran negatif terhadap seseorang, memandang dari satu sisi, misalnya apakah oran ini punya kuasa atau tidak, atau kah orang ini berpengaruh atau tidak, dan terkadang memang makhluk kecil dan nista jarang sekali di dengarkan kalimatnya. coba kalian lihat ada berapa bait kalimat yang rakyat kecil ungkapkan, dan berapa yang berhasil di wujudkan, yang saya tahu kalimat-kalimat itu berubah wujud menjadi lagu, dan di dendangkan sehingga yang mendendangkan mendapatkan uang! dan ketika kalian mempercayai bawah anak kecil ini maling, maka di detik itu pula saya percaya kalau dia homo! namun salahkan penilaian saya terhadap si kampret homo ini, dan anda terhadap maling kecil ini?”, semuanya terdiam, dan kembali di mulai sebuah mimbar kalimat yang panjang dan penuh metafora ini, “fakta itu harus di cari bukan di beri, dan ketika anda di hadapkan pada sebuah hasutan, dan anda tenggelam pada hasutan itu, maka ketiak fakta yang sebenarnya muncul maka anda akan tenggelam dalam hasutan itu, dan cuma ada 2 hal yang bisa di lakukan oleh orang yang tertipu oleh hasutan. yang pertama, membela secara membabi buta. yang kecua, tertunduk pelan dan malu!”.

setelah itu ia mengangkat dompet ini lalu berkata, “dompet ini punya emak gw…namanya Yulistiana, gw tinggal di seberang Rel…kalo lu ga percaya boleh ikut gw sekarang”, sahutku sambil mengancungkan dompet itu ke atas. pemuda bertopi itu tepos melolos seperti dilolosi, tulangnya remuk bahkan untuk berdiri pun rasanya ia sudah goyah, ke empat penguntitnya sudah tenggelam dalam ke-malu-an yang mereka gali sendiri, akibat hasutan kecil dari seseorang.

si anak kecil yang sedari tadi terpekur di sudut kaki pemuda itu kini berdiri tegak dan tersenyum memandang pemuda itu, seperti berkata, “you’re my hero Boss!”, ternyata si anak kecil ini juga bisa mengungkapkan hal dengan kalimat symbolis praktis.

setelah itu pemuda itu mengajak si anak kecil untuk pergi menjauh dari ke-5 orang yang kesurupan setan, dan sudah habis etelah di kotbahi habis-habisan.

ketika sudah berjalan menjauh dari para pemuda itu, si kecil ini bertanya kepada pemuda itu, “Bang emang bener yak itu punya ibu nya abang?”, tanya si kecil sambil tersenyum ke arah pemuda itu.

si abang itu lalu tertawa kecil dan berkata, “Ah, gw boong doank barusan…sekarang kita kembaliin ini dompet, sapa tau dapet komisi trus bisa beli cendol di pojok pasar, di sana cendolnya enak”, katanya sambil tersenyum kepada si anak kecil. lalu di lanjutkan oleh si pemuda, “pelajaran moral, jangan cepat tarik kesimpulan dari apa yang kau dengar, dan kau lihat, karena fakta itu harus benar adanya, bukan sekedar karangan belaka, apalagi hasutan!

“masa iya baru kita jalan ama cowo di bilang homo, baru jalan ama banyak temen cewe di bilang play boy, lebih banyak punya temen cewe di bilang bencong, baru banyak dandan di bilang banci, baru aja bisa sesuatu di bilang sombong!”.

mendengar hal itu, si anak menjadi tergelak tidak tahan untuk melepaskan semua tawanya, sedangkan si pemuda cuma tersenyum dan menggandeng anak itu melintasi rel kereta api menuju rumah, tempat di mana pemilik dompet itu sebenarnya berada.

gelap hari ini… Januari 31, 2009

Posted by adi martha in a pint of milk, my mind, my mind, body, and soul, my soul.
add a comment

dari balik sekat transparan aku melihat keluar sana…
di atas, langit bergulung, seperti terlipat…
membentuk jilid seperti sebuah buku, dengan sampul kelabu…
tebal dan berarak menutup anggunnya mentari…
menggeser sinarnya, dan menutup bumi, dalam kalbu dan sendu…

aku berjalan pelan menyusuri padatnya ibu kota…
di selingi asap yang saling bersahutan berkoreografi…
di iringi orkestra tua dari lubang pembuangan kendaraan yang berliuk bagai harmony…
membentuk sebuah simfoni yang mengiringi perjalananku menembus kelabu…
di tengah gelap hari ini…

dan ketika gelap semakin merasuk…
aku melihat para angin berdansa…
se akan ingin mengejek lipatan langit yang bergantung di atas bumi…
agar urung mengeluarkan pasukannya untuk menyerang bumi…
agar urung membasahi bumi dengan bulir-bulit halusnya…
agar urung mengairi bumi dengan tetesan lembutnya…

angin semakin nakal bergerak…
dengan genitnya ia menggoda kelabu hingga secercah sinar bisa menyelinap masuk…
memberikan sedikit cahaya pada gelap hari ini…
memberikan harapan bahwa hujan tidak jadi datang hari ini…

namun kelambu begitu sendu…
tanpa melihat angin, tanpa memandang mentari ia menjatuhkan beberapa bulir pertama…
riak kecilnya terdistorsi pada genangan air di bawah sana…
menimbulkan frekuensi kecil yang menggetarkan ruang…
memberikan resonansi pada sekitarnya…
membuat gaungan kecil berbentuk lingkaran pada genangan air tersebut…
beriak pelan, seperti memulai intro…akan di mulainya sebuah orkestra hujan…
pada gelap hari ini…

hujan mulai turun…
menandai akan gelapnya hari ini…
entah sampai kapan?! namun setahu ku…nanti…
iya, nanti ketika hujan mulai reda…
akan ada biasan warna pelangi indah di ujung barat sana…
ketika matahari mulai bersinar…
ya, ketika matahari mulai bersinar…

a thing without no meaning… Januari 30, 2009

Posted by adi martha in a pint of milk, my mind, my mind, body, and soul.
add a comment

huahhh…at last this post gonna make me feel sleepy. setelah bangun ga jelas cuma buat cuci muka + gosok gigi, akhirnya saya di jaga oleh malaikat malam, dan bidadari bulan untuk menemani mereka hingga pagi hari…buktinya hingga jam berdetik di angka 4, saya masih saja tetap bangun dan tidak bisa melanjutkan tidur saya…mungkin saya terkena “an Acoustic distraction” malam ini.

setelah iseng melanglang buana, dan kebingungan pada satu arah, karena sudah habisnya tujuan, maka saya akhirnya mencoba menghabiskan waktu saya untuk menuliskan post ini karena saya melihat sesuatu hal, fenomena, atau mungkin kenyataan, bahwa sebenarnya dalam kenyataan ada sebuah hal yang tidak memiliki makna sama sekali…

sama halnya seperti sepeda gayung dengan gas spontan…salah posisi, salah letak, dan salah guna…namun lebih bagusnya, belum ada orang yang mengaplikasikan gas spontan motor pada gayung, karena setahu saya, kaki orang yang menggenjot sepeda itu tidak bisa di ‘colok’ sembarang kabel…

tetapi dalam kasus ini, saya menemukan banyak sekali orang yang terkadang tidak sadar makna di balik sesuatu, dan meninggalkan maknanya terlepas, dan tersesat, lalu memasangnya sebagai aksesoris, tanpa memikirkan makna yang telah hilang di telan bumi. dan hal yang paling sering saya temukan sebagai “a thing without no meaning” adalah “tulisan”, “kata”, “kalimat”, dll. dan media yang umum dalam hal ini adalah sebuah “foto”.

banyak yang memasang tulisan dengan warna mencolok, berusaha tegas agar tulisan itu lebih terlihat di bandingkan wajah mereka, atau mungkin di buat kontras agar bisa di mengerti kalau mereka begitu “berjaya” dalam bahasa inggris, atau mungkin dalam bahasa-bahasa lainnya…bahasa prancis, bahasa jerman, bahasa jepang, atau bahasa alien.

namun sayangnya terkadang, ke “berjayaan” itu tidak selaras dalam penggunaan makna yang di cantumkan oleh orang tersebut…dan hal yang paling banyak saya temui di dalam sebuah foto adalah sebuah tulisan kuning dengan kumpulan abjad seperti berikut:

“bitchy me”

rather than use “bitchy”, bagi saya untuk menunjukan kalimat menarik maka saya lebih suka menuliskan beautifull, sexy, atau mungkin charming. namun tentu saja kalau benar itu maksud mereka memasang tulisan seperti itu…

namun jika ternyata pikiran mereka bertolak belakang dan benar-benar mengaplikasikan kalimat itu karena mereka benar-benar “bitchy” dan bukan sekedar “bitchy-bitchy-an”, karena setelah saya cari di kamus arti bitchy (bitch), sendiri adalah:

anjing perempuan, wanita jalang, penggerutu

jadi untuk lebih hormatnya mungkin kita harus mengambil makna terakhir…karena tentu tidak mungkin orang yang memasang tulisan itu adalah binatang, karena setahu saya belum ada binatang yang belajar bahasa inggris secara baik dan benar…kalaupun dia anjing maka kalimat yang dia mengerti hanya “woof” atau “wag”…kecuali anda memiliki kamus Anjing-Manusia.

jika kita menilik dari makna wanita jalang, maka rasanya keterlaluan sekali kalau ada wanita yang suka dirinya di sebut wanita jalang?! bahkan jika hal ini benar maka saya berani bertaruh moralnya jauh lebih rendah di bandingkan rok yang di gunakan oleh para wanita jalang.

jika penggerutu? ahhh…kalau yang ini tidak usah di bahas, toh memang sudah kenyataannya kalau semua makhluk dalam jenis ini memiliki kapabilitas untuk hal yang satu ini, dan ini merupakan bakat alam yang sudah di anugerahkan Tuhan kepada mereka yang berjenis ini.

namun sebenarnya masih ada lagi pengartian yang terakhir. penggunaan tanpa “arti”, dalam artian, mereka menggunakan karena banyak orang yang menggunakan, dan orang yang menggunakan pertama kali tidak mengerti, orang kedua melihat hal itu begitu “keren”, “so cool”, maka dengan serta merta mengikutinya dan melanjutkan hal bodoh satu dengan hal bodoh 2…

menurut kamus yang saya punya, orang bodoh sendiri adalah:

orang yang melakukan hal bodoh, walaupun dia tahu/tidak begitu tahu bahwa dia bisa menjadi bodoh setelah melakukan hal bodoh tersebut.

rupanya bukan intelektual yang mencerminkan kapabilitas manusia terhadap kebodohan, tetapi lebih ke aspek mental dengan di imbangi oleh intelektual, dan di pimpin oleh ke tidak tahuan, yang di sulut oleh rasa malas untuk mencari tahu.

jika saja, orang kedua yang mencontek orang pertama mengambil kamus dan mencari arti kata bitchy, maka dia mungkin bisa menyelamkan beberapa orang lain, dan mengangkat orang 1 dari nistanya post ini…karena ketika dia membuka kamus dan melihat kalau sebenarnya bitch berarti:

anjing perempuan, wanita jalang, penggerutu

maka akan hilang fenomena ini, dan tidak akan di tulis lah post ini, yang kerjanya hanya menggerutu karena tidak bisa pulas tertidur malam ini…

batin saya yang dari tadi diam, lalu bangun sedikit dan berkata:

yang nulis cewe toh?

lalu dengan lugas pikiran saya menjawab

ya iyalah…

lalu si batin menimpali kembali,

ya bagus itu, coba di bayangkan, ada cowo yang nulis kaya begitu di fotonya…trus sampeyan ada di sebelahnya…apa kata dunia?!

[Movie Review] Defiance Januari 28, 2009

Posted by adi martha in moview, review.
add a comment

berdasarkan kisah nyata yang di tulis dalam sebuah novel dengan judul yang sama, film ini di buat. mengambil latar di hutan belarusia, lengkap dengan pohon, ranting, sungai kecil, batu, dan udara sejuk yang seakan bisa di rasakan ketika kita menonton film ini…

1 hal yang patut di acungi jempol dari film berdurasi 2 jam 16 menit ini adalah, Cast! orang-orang yang berperan di dalam film ini, baik Tuvia, Bienski, dkk…punya kualitas akting jempolan. Tuvia sendiri yang di perankan oleh Daniel Craig adalah seorang Agent 007 yang sekarang sedang menyamar di tengah belantara hutan rusia…sayangnya character Tuvia jauh lebih kuat di bandingkan dnegan James Bond yang notabene lebih “mewah” di bandingkan dnegan Tuvia sendiri. selain itu setidaknya Tuvia benar-benar memiliki aksen khas ‘Belarusia’, bukan seorang Hitler dengan aksenAmerika.

alur cerita yang di alirkan cukup pas…walaupun saya cukup bergidik ngeri ketika melihat durasi film ini sampai 2 jam lebih…cuma Batman : The Dark Knight yang bisa membuat saya tahan duduk selama 2 jam untuk menyaksikannya detik demi detik, dan kali ini ada 1 buah film lagi yang bisa membuat saya tahan untuk duduk selama 2 jam lebih menyaksikan kehebatan dari seorang Tuvia.

camera view dan angle yang di tampilkan cukup menarik…walaupun kurang terlihat megah dan mengaksplore keindahan hutan Belarusia secara maksimal, tetapi ada beberapa scene yang cukup menarik, yang paling saya ingat adalah ketika ada beberapa daun maple jatuh ke sungai…sebagai tanda awal di mulainya musim gugur dan menjelang musim dingin.

dari segi cerita yang cukup menarik, dan berbagai macam konflik yang walaupun terlihat datar, namun seperti puncak gunung es, hanya terlihat data atau kecil pada permukaannya, namun sungguh begitu besar sebenarnya konflik yang terjadi pada film ini. salah satunya ketika berhasil menangkap salah seorang tentara Jerman, para pengungsi yang tadinya bisa hidup tenang berubah menjadi serigala yang buas, dan menghajar tentara Jerman itu tanpa rasa belas kasihan. perasaan mereka tentang kehilangan keluarga yang mereka cintai, orang yang mereka sayangi menyeruak, namun di sisi lain Tuvia merasakan sebuah perasaan sedih karena, mereka, para Jewish memiliki hati yang begitu hangat…

tetapi selain itu, ketika saya melihat film ini saya seperti membayangkan seorang Moses pada masa WW2. dan sepertinya memang Moses adalah karakter yang ingin di tonjolkan oleh film ini. Moses adalah seorang Nabi dari 3 agama, yaitu Islam, Kristen (baik itu Protestan ataupun Katolik), dan Yahudi. dan pada film ini di saya rasa Tuvia di gambarkan sebagai seorang Moses.

bagaimana ia ingin membantu orang lain, bagaimana ia tidak di percayai oleh orang lain, bagaimana ketika dia harus marah dan bingung menghadapi semua masalah yang ada…bukankah Moses sendiri pernah melanggar perintah Tuhan ketika dia harus berbicara pada batu untuk mengeluarkan air, namun dengan marahnya ia memukul batu itu hingga pecah dan keluar air…

selain itu saya jadi teringat ketika Moses mengeringkan laut dan membawa pendukung pergi melintasi laut, atau mungkin teringat Nuh yang mengarungi banjir bandang dengan kapal Bahteranya yang konon katanya sekarang terjebak di atas bukit?! karena pada salah satu scene, si Tuvia ini menyusuri rawa dengan memanfaatkan ikat pinggang yang saling sambung satu sama lain.

Defiance adalah sebuah movie yang bagus, jauh lebih bagus di bandingkan Valkrye yang saya pikir bisa menjadi sebuah film yang menggugah saya pada tahun 2009, namun rupanya Defiance datang dan menohok saya tepat di pipi, dan memberikan sebuah sengatan listrik tingkat tinggi hingga saya melupkan Valkrye dan mengangkat Defiance sebagai salah satu film yang patut dan wajib di tonton ketika dia sudah mulai beredar di bioskop anda.

an accoustic distraction… Januari 28, 2009

Posted by adi martha in a pint of milk, my body, my mind, my mind, body, and soul.
add a comment

hari ini sungguh di luar dugaan…di mulai dengan beratnya mata, karena semalaman ber-gadang yang sudah jelas-jelas di haramkan oleh bang haji Rhoma Irama, setelah itu di lanjutkan dengan ujian gila yang memberatkan otak, dengan pengawas super berat berbentuk barong sai. mungkin fenomena Gong Xi Fat Cai tidak hanya berlaku 1 atau 2 hari saja…tetapi bahkan bisa mempengaruhi wajah dosen pengawas ujian hari ini untuk selamanya.

setelah selesai berlumpur ria dengan soal, tenggelam dalam barisan kalimat dan rumus, serta hitungan yang rancu dan tidak jelas logikanya dimana…maka saya pulang ke rumah dengan semangat redup, sama redupnya seperti mata saya yang sudah 5 watt, dan tinggal menunggu lampu di matikan untuk bisa tertidur lelap…

namun sesampai di rumah, saya malah kehilangan selera tidur saya, buktinya mata saya sama sekali tidak bisa terpejam, ada beberapa “gangguan” yang membuat saya setidaknya bisa bangun…misalnya, gerombol “groupies” yang akhir-akhir ini benar-benar mengganggu hidup saya. mereka seperti terkena obsesif kompulsive terhadap suara saya, dan bisa melempar hand phone dengan histeris ketika saya menjawab dengan jawaban yang sama, “maaf, salah sambung mbak’…”, atas pertanyaan yang sama…”reza nya ada? aldi nya ada? ini siapa?”, entah siapa yang mereka kira Reza…entah kenapa mereka menambahkan L pada nama saya…

setelah sibuk melayani orang gila nomor 1 versi saya, maka saya segera meluncur untuk membeli sebuah hadiah kepada adik saya ketika nanti saya bersua dengannya di bali, tanggal 14 nanti…masih lama memang, tetapi setidaknya saya sudah tahu bayangan hadiah yang harus di berikan, sebuah GITAR ACCOUSTIC!

maka saya meluncur ke TKP dan mencari beberapa barang yang benar-benar solid as rock untuk di jadikan sebuah hadiah, sebuah karya seni indah yang jarang sekali di temui, dan parahnya ketika pertama kali tiba saya langsung di sodori sebuah karya artistik gitar akustik…indah sekali….

saya teralihkan sejenak, merasa kalau sebenarnya pikiran saya di bawa ke jalan yang berbeda, saya di buat bingung dan memikirkan kembali keputusan saya untuk menabung uang yang bisa untuk DP sebuah motor ini yang akan di gunakan untuk membeli Effect Gitar…sekarang memiliki orientasi berbeda…di gunakan untuk membeli sebuah gitar accoustic…jujur saya ingin sekali punya gitar accoustic mewah seperti itu…back, ama top body nya cantik sekali, warna natural mahogany nya benar-benar indah….ah saya sekali lagi teralihkan dan saya di buat memikirkan kembali timbunan uang-uang yang sudah saya kumpulkan susah payah…

dan sepertinya saya juga terkena sebuah Accoustic Distraction…sebuah pengalihan terhadap ruang dan space yang ada di dalam diri saya…mungkin benar kata The Secret…

“what you think is what you pull inside!”

ketika saya berpikir kalau saya di ganggu orang gila, maka saya di alihkan untuk membuat saya berpikir bahwa akan ada lebih banyak lagi hal yang akan menggangu pikiran saya…baik itu belajar, ataupun object lain yang sedang saya targetkan…setidaknya sampai saat ini saya tahu bahwa ternyata saya kurang fokus, dan kurang cerah di dalam menuangkan guratan warna niat dan keinginan di dalam hati saya, dan kurang dalam menancapkannya di dalam pikiran saya…

if you think about a human mind, than it can be compared into a MAGNET, and a MAGNET always pull other things into him…

ketika saya menyadari kalimat itu, saya jadi sadar…saya terlalu lemah, sehingga terkena sebuah Accoustic Distraction…dan akhirnya untuk makin memahami dan menggoreskan semuanya, maka saya menuliskannya dalam kumpulan 500 lebih kata…yang tertuang dalam sebuah map digital, sebuah kanvas maya, atau sebuah lembar virtual…

setidaknya ketika saya membaca post ini kembali, saya di ingatkan kembali kalau saya punya beberapa groupies gila, dan saya ingin mempunyai gitar accoustic…

jika masa depan seperti ini?! Januari 27, 2009

Posted by adi martha in my body, my mind, my mind, body, and soul, my soul.
add a comment

hari ini adalah hari terakhir menjelang detik-detik penghabisan esok hari…karena mulai dentang matahari besok, ketika sinarnya masuk ke celah-celah mata, maka perjuangan selanjutnya udah di mulai. dan ketika perjuangan itu di mulai, saya sendiri tidak mengerti, akan siapkah batin saya…akan mampukah pikiran saya…akan kuatkah fisik saya?!

karena apa yang terlihat di depan seperti lawat-lawat pada kabut, pandangan kita menjadi terbatas dan hanya mampu melihat sebatas dengkul, dan begitu juga esok hari yang sama sekali belum menjelang…yang terlihat pada diri dan mata saya hanya sebatas dengkul dan betis, semoga saja itu tidak menandakan betapa cetek dan rendahnya otak saya berada, karena seingat saya, saya masih mengalami migrain di bagian atas, dan belum sampai di bagian dengkul…

ketika saya melirik kembali kertas kisi-kisi, dan materi yang di gunakan untuk ujian besok, maka pikiran saya kembali melayang…jika saja masa depan seperti hari ini, maka saya rasa saya tidak sanggup untuk berdiri tegak, malah mungkin saya akan menggetarkan lutut kecil saya, karena begitu bingung…kira-kira apa yang akan terjadi di kabut depan…

dan ketika saya memutuskan untuk menulis post ini, sebenarnya saya hanya berhadap ada seseorang yang membawakan sebuah senter kecil yang setidaknya mampu membuat saya sedikit berbahagia bisa di temani sedikit cahaya ketika menembus rimba malam, dan padatnya kabut di depan, yang bahkan saya sendiri tidak mengerti sampai dimana ujungnya, dan sampai kapan saya harus berjalan…

temen saya yang melihat saya menulis post ini nyeletuk…

“ya elaaaa…grafkom doank….sp doank….bayar doank…”…

akhirnya saya ikut menimpalinya…

“tinggal ga balik doannnkkkk….”

tertawa itu kadang-kadang tidak sehat… Januari 23, 2009

Posted by adi martha in a pint of milk, my body, my mind, my mind, body, and soul.
add a comment

banyak orang yang mengucapkan fatwa, “tertawa itu sehat”. seperti sebuah hukum tidak tertulis yang di setujui oleh manusia di bumi, sama halnya seperti ketika di beritahu bahwa sebenarnya 1+1=2, tanpa ada penjelasan lebih lanjut dari mana datangnya 2, dan kenapa 1+1 bukan 3?!

tapi terkadang ada beberapa tawa yang tidak sehat sama sekali, baik secara psikis, bilogis, kimiawis, ataupun fisikawis…

contoh gampangnya adalah tertawa terlampau banyak, jika anda melakukan hal ini maka anda akan di cap sebagai orang gila, dan akan segera di daftar kan ke unit tanggap cepat RSJ Grogol, dan ketika anda menyadari kalau anda sedang di bawa menuju lokasi, maka yang bisa saya ucapkan hanyalah, “Selamat Menempuh Tempat yang Baru!”.

nah dari salah satu contoh di atas bisa di tarik sebuah kesimpulan, walaupun belum membentuk simpul yang sempurna, seperti simpul tali sepatu, atau simpul yang sering di gunakan oleh para Praja Muda Karana, alias Pramuka. nah untuk membentuk sebuah simpul hingga menjadi sempurna, maka mari kita coba ambil kesimpulan atau beberapa hal lain untuk di jadikan runutan sehingga nantinya, simpul yang terlihat menyerupai benang kusut ini bisa terlepas dan benar-benar membentuk sebuah simpul yang kuat, erat, dan tidak mudah lepas.

kalau begitu bagaimana kalau menggunakan beberapa teori yang saya buat…

tertawa itu ada 2 jenis, yaitu :

  1. Tertawa Sehat
  2. Tertawa Tidak Sehat

darimana kita mengukur sehat dan tidaknya sebuah tertawa?! kalau saya mengukurnya dari kadar tertawa, spontanitas tertawa, ke-ikhlasan tertawa, dan sumber tertawa….

ada banyak sekali tawa di muka bumi ini, tetapi terkadang hanya sedikit yang memenuhi tertawa sehat, karena umumnya kita tertawa di karenakan sebuah peristiwa, action, atau hal-hal yeng terjadi di dalam hidup kita, dan terkadang hal-hal yang kita tertawai adalah sebuah hal yang memalukan bagi orang lain, bahkan terkadang terlihat keji…mungkin yang bisa di katakan bahwa, “bahkan tertawa pun bisa begitu keji!”.

contoh tertawa sehat yang paling mudah adalah “menonton komedi”, object yang kita tertawai adalah media batu yang tidak mengenal emosi, dan tidak mengenal hati. yang mereka miliki hanya sebuah colokan AC, dan sebuah layar tipis berwarna yang bisa menampilkan kombinasi warna yang membentuk object 1 dengan object lain yang tertampung dalam sebuah kaca, dan ketika si kaca menampilkan sebuah melodi humoria, maka kita akan tertawa, ikhlas, spontan, dan benar-benar tertawa karena ada hal yang patut di tertawakan. hal yang seperti ini di sebut tertawa sehat…

nah lalu apa contoh tertawa yang tidak sehat?! contoh tertawa tidak sehat yang mudah adalah…”mengejek orang”. dan umumnya orang tertawa karena satu hal ini, bahkan mungkin bisa di prediksi bahwa setiap tawa yang terjadi adalah akibat kreativitas seseorang di dalam menghancurkan image orang lain dengan gaya dan bicara komedian, yang bisa mengundang tawa…bedanya kali ini si object tidak di tutupi oleh layar kaca, dan benar-benar ada di hadapan kita.

secara tidak langsung kita telah melukai perasaan orang itu, dan menginjak-injak HAM yang di miliki oleh orang tersebut, dan tanpa sadari di dalam hatinya timbul sedikit luka…mungkin sekarang masih berupa titik, namun lama-kelamaan akan menjadu besar, dan irisan yang panjang, dan ketika terkena air akan terasa perih, dan jangan salahkan jika suatu saat luka itu membesar dan membuatnya pergi meninggalkan anda dan mencari orang lain yang bisa menambal luka yang telah anda buat…

secara tidak langsung dari hasil akhir yang di dapat bisa di simpulkan bahwa tertawa ada yang tidak sehat dan tidak semua tertawa sehat, dan ketika ini apakah semua tertawa yang anda lakukan sudah sehat?!

saya sendiri memang belum bisa untuk selalu tertawa sehat…namun setidaknya saya mencoba untuk mulai memahami bahwa sebenarnya ada begitu banyak perasaan di luar sana yang harus di jaga, dan harus di rawat…karena tidak semua orang bisa menerima bahwa sebenarnya “tertawa itu sehat!”.

jika hidup ini seperti enigma… Januari 20, 2009

Posted by adi martha in missing somewhere!.
add a comment

sudah beberapa hari ini saya bingung menentukan arah mana yang harus saya ambil, apa yang harus saya lakukan, bagaimana cara saya melakukannya. alih-alih bisa melakukan semuanya dengan baik, akhirnya saya malah tertidur di buai mimpi, di ajak bertualang di exosphere…melihat nebula kembali! dan akhirnya saya tidak bisa mengerjakan satu hal pun yang terlintas di pikiran saya…

mungkin memang pikiran saya begitu banyak berlalu-lalang di udara, seperti terbang di atas…melayang sedikit, dan perlu gapaian tangan atau sahutan orang lain untuk bisa sekedar kembali masuk dari kuping kiri, dan melayang sebentar di otak, sebelum keluar kembali melalui kuping kanan dan melayang kembali di atas kepala perlahan…seperti menari…

jika di ibaratkan ENIGMA, maka hidup saya seperti tidak jelas, tidak terarah, dan tidak berubah dari arah sebelumnya. masih tetap sibuk dan mencoba bertahan dengan semua tekanan yang datang, baik dari samping kiri, maupun kanan…ataupun tekanan dari depan yang menekan dada…sakit.

namun seperti ENIGMA yang tersusun dari huruf yang tidak jelas dan tidak berurutan, tanpa ucapan, dan tidak bisa di eja..bahkan jika anda nekat mencari ke kamus terdekat, atau menuliskannya ke google translate, maka yang anda dapatkan hanya sebuah pencarian NULL tanpa hasil karena memang ENIGMA adalah sebuah susunan huruf tanpa makna secara implisit.

namun jika kita mengetahui kuncinya, dan menggunakan mesin yang benar untuk mengejanya maka dengan mudah kita bisa menerka maksud dan tujuan dari susunan kata tersebut…sama mudahnya seperti berbicara, dan menemukan, bahkan sebenarnya dalam sebuah kata yang berantakan ini tersimpan sebuah kata-kata yang mengandung arti…

dan jika hidup ini seperti ENIGMA, maka saya cukup mencari MESIN dan KUNCI yang bisa memecahkan ENIGMA yang ada di dalam diri saya…

mungkin tidak langsung sekarang, mungkin tidak besok pagi, atau mungkin bukan lusa sore saya bisa menemukan kunci dari ENIGMA saya…namun ketika saya mendapati sebuah pelajaran bahwa “tugas” adalah “tanggung jawab” dan tanggung jawab berurusan dengan waktu…dan waktu adalah hal yang berjalan seimbang lurus ke depan, kecuali saya tinggal di bulan, dan setiap tahun harus menambah waktu putar saya terhadap bumi sebanyak 5cm. saya menemukan sebuah kunci kecil untuk memuka sedikit huruf dari ENIGMA yang ada di dalam diri saya…dan kata itu bertuliskan…

Jangan mau bikinin mereka tugas, enak aja…situ yang cape, mereka yang dapet nilai

melihatnya saya hanya bisa tersenyum lalu berkata…

soalnya gw juga mikirin nilai gw NYET! kalo aja ini Individual….bodo dah ama mereka…

sahut saya sambil tersenyum lalu menggulung ENIGMA itu kembali ke dalam lipatan batin saya.

an unperfect day but still happy with that… Januari 13, 2009

Posted by adi martha in a pint of milk, my body, my mind, my mind, body, and soul.
add a comment

ada pepatah kecil yang selalu saya ngiang-ngiangkan di dalam setiap benak saya, dalam setiap lipatan hidup yang saya lalui, selalu saya dengungkan, dan setiap kali bernafas selalu saya hembuskan, setiap kali saya berdoa selalu saya panjatkan, yaitu : “hope this day will be better than any day before…”, bahwa setiap hari yang di lalui selalu semakin baik, dan terus membaik…

namun dalam kenyataannya kita tidak bisa mengatur jalannya hari, apakah dia akan berjalan baik, ataukan akan berbalik dan melawan kita…sama seperti berenang di arus, apakah arus membantu kita, atau malah melawan kita, atau mungkin menenggelamkan kita?!

hari juga begitu…harap dan terus mengharap tentang semakin sempurnanya hari kita di bandingkan dengan hari sebelumnya adalah harapan kosong memang, tetapi setidaknya kalimat kecil dan singkat itu bisa membantu kita untuk lebih optimis menghadapi hari…namun tanpa adanya rasa syukur dan rasa legowo alias lapang dada, setidaknya setiap hari yang “tidak sempurna” bisa menjadi sempurna! :)

walaupun dada saya tidak sebesar lapangan bola, namun setiap hari adalah hal-hal yang baik bagi saya, entah itu saya bernasib buruk, ataupun bernasip baik, ataukah saya beruntung, atau saya buntung…semuanya cuma pelajaran…

sama halnya seperti hari ini ketika saya berlari menyusuri tangga menyusul keterlambatan saya ujian, maka dengan serta merta saya berusaha menyalahkan lingkungan, di mulai dari angkot, lab, ruangan, aslab, hujan, dll…namun pada ujungnya setiap kesalahan akan kembali ke diri sendiri…

dengan lengkapnya kejadian ini maka dengan otomatis saya sudah di tampar 2x…karena sudah 2x saya mengulangi kesalahan yang sama…

mungkin benar, memang cuma keledai yang jatuh ke lubang yang sama 2x berturut-turut, tetapi setidaknya, saya yang merasa lebih kerdil di bandingkan keledai ini selalu belajar, dan selalu berharap bahwa hari ini Tuhan memberikan saya pelajaran terbaik…bukan hari terbaik…karena apa gunanya hari baik tanpa pelajaran…namun apa baiknya hari buruk tanpa pengalaman??!

it’s an unperfect day, but yet I’m still happy with that…

semoga saja kalimat, paragraf, dan tulisan ini bukan excuse bahwa sebenarnya saya seharusnya duduk di bangku lab. untuk melakukan ujian! Amin…

Bertualang di Exosphere… Januari 5, 2009

Posted by adi martha in missing somewhere!.
add a comment

hari ini ketika aku sampai di rumah, maka aku merasakan kalau seluruh tulangku rontok, hanya bersisa kulit, dan tanpa tenaga hingga hanya bisa berbaring pasrah. aku merasakan kalau sudah saatnya aku mengistirahatkan diri setelah lama sekali aku bersua dengan istirahat, rasanya pertemuan ku dengan istirahat kali ini adalah sebuah perjumpaan panjang, seperti penantian terhadap kekasih yang telah pergi, di telan waktu dan jarak…kangen sekali rasanya….

dan ketika aku mempasrahkan diri, aku mulai merasakan kalau kali ini Zeus dan Akash Bhairab, mengajakku untuk berjalan-jalan melihat luasnya ruang angkasa. pertama-tama mereka mengajak ku terbang sedikit, dan memperlihatkan awan-awan Stratokumulus. lapisannya yang tipis dan hangat membuat aku merasa begitu tenang dan nyaman, di bawah aku melihat kumpulan kabut putih yang berwarna pekat, entah itu Stratus yang sedang mengunjungi bumi, atau kumpulan asap pekat yang di hasilkan denting melody kendaraan yang lalu lalang di sekitar jalan raya ibu kota.

setelah itu kami naik perlahan menuju Trofosfer, disini aku bisa melihat birunya samudra, dan liukan gunung dan bukit hijau yang seakan menampilkan deretan tangga nada. dan ketika bumi bernyanyi maka partikel-partikel kecil yang berada di Trofosfer mulai bernyanyi dan menari, seakan mengikuti irama bumi, mereka bergerak selaras dan searah dengan bumi, sebuah gerakan yang anggun, dan baru kali ini aku sadar, kalau ternyata mereka bisa menari…entah sejak kapan?!

setelah itu Zeus dan Akash Bhairab kembali mengajaknya naik sedikit lebih tinggi menuju Stratosfer, disini aku melihat samudra yang luas dalam sekali bentangan mata, dan seakan semuanya berbatas. ternyata di dunia adalah tempat kecil, yang kebetulan hanya aku saja yang malas untuk menemukan batas-batas dunia ini sendiri. aku melihat beberapa pesawat udara berkecepatan tinggi yang bergerak meliuk di antara kami mengantar beberapa orang menuju tempat lain yang jauh, mungkin mereka mencari kerinduan yang hilang akan kerindangan, atau mencari keributan dan kesibukan di tempat lain… melihat itu aku berkata dalam diri, “Ah, masih kurang tinggi!”…lalu aku melongok ke atas dan Zeus serta Akash Bhairab melambaikan tangannya menunggu aku menyusul mereka…

aku segera terbang lebih cepat dan bersama dengan Zeus dan Akash Bhairab aku menembus Mesofer. bumi masih terlihat begitu besar dari sini, walaupun sekarang aku sudah bisa melihat batas samudra dan perlahan bentuk bumi yang datar menjadi bundar, namun aku merasakan kalau aku masih terlalu dekat dengan bumi. namun disini ada banyak sekali meteor yang berjalan turun, seakan ingin bermain-main dengan bumi, mereka saling silih berganti turun bergantian menghujam bumi, seperti seorang anak kecil yang berteriak kegirangan ketika melihat perosotan di kolam berenang, mungkin begitulah perasaan para meteor ketika mereka meluncur menuju bumi. aku melihat bagaimana meteor yang terbakar secara perlahan ketika memasuki atmosphere bumi, lalu tiba-tiba lenyap dan hilang berubah menjadi beberapa serpih debu untuk kembali terbang di angkasa…mungkin mereka batal mengunjungi bumi, karena merasakan bahwa sebenarnya bumi sudah tidak seindah dulu lagi…

setelah itu aku terbang cukup lama hingga akhirnya tiba di Ionosphere, disini pemandangannya lebih indah. aku melihat gerakan magnitude dari biasan magnet yang terkena cahaya. seperti selembar kain sutra yang lembut, dia bergerak perlahan seperti tertiup angin, padahal sudah sejak tadi aku tidak merasakan angin, walaupun udara cukup dingin di atas sini…lembaran tipis itu memiliki struktur warna yang ajaib, terkadang mereka terdiri dari sebuah warna cerah yang tipis dan bergradasi, serta berliuk indah, beberapa memiliki beberapa kombinasi warna yang saling menyapu antara gradasi satu dengan yang lainnya, namun tanpa titik potong yang memisahkan antara satu warna dengan warna lainnya…sungguh sebuah kombinasi dan karya yang indah…dan ketika aku berangkat ke atas aku di beri tahu bahwa lembaran tipis itu bernama Aurora…

sambil berjalan ke atas, aku melihat beberapa Space Shuttle yang bergerak hilir mudik, mereka seakan terbang ke angkasa, namun mereka terikat ke bumi…mereka bergerak selaras dengan bumi, dan tentu saja suatu saat mereka akan kembali ke bumi…bagi mereka mungkin bumi “feel so far, yer so close!”, karena mereka suatu saat menantikan dirinya kembali ke bumi…aku sendiri ingin kembali ke bumi…tetapi tidak sekarang, karena aku melihat bahwa di atas sana masih banyak hal yang lebih menarik untuk di lihat, sebelum aku kembali terbang dan turun menuju bumi…

aku melintasi Karman Line, sebuah batas imajiner yang di gunakan untuk membatasi yang mana masih daerah bumi, dan yang mana merupakan ruang angkasa yang sebenarnya. aku tidak melihat garis di dekat sini, naamun ketika kau melihat ke atas aku tahu kalau aku sudah lepas d ari bumi…

di atasku bergantungan begitu banyak bintang yang saling berkerlap-kerlip seangka mengerlingkan matanya menggoda diriku yang baru pertama kali pergi ke angkasa, mereka sungguh genit sekali! beberapa di antara tampak bergoyang dan menggerakan diri mereka…seperti menari, namun aku tidak menemukan sebuah untaian simfony disini, mungkin karena disini tidak ada instrument musik, seperti knalpot kendaraan bermotor seperti di Bumi…disini tenang sekali…namun kenapa para bintang bisa begitu indahnya menari?

aku memperhatikan sekeliling dan melihat sebuah gambaran komposisi terbesar sepanjang masa. sebuah karya lukis indah yang pernah di ciptakan oleh sang pencipta, hingga ketika aku melihatnya aku terbius dan terdiam, karena begitu indahnya paduan warna yang di berikan, sapuan halus yang menawan, cahaya yang berpendah warna-warni, dan gerakan untaian nya yang lembut, seakan memberikan tempo, simfoni, nada, instrument, dan koreografi kepada bintang untuk mulai menari…dia adalah kondektur dari para seniman di angkasa, sebuah ke ajaiban warna tanpa batas, yang berada jauh di ujung angkasa…mungkin dia menjauh dari bumi, karena tidak ingin warnanya menjadi pudar, atau mungkin dia sudah begitu enggan mengunjungi bumi…nama pemimpin seni itu adalah Nebula

aku lalu melihat turun ke bumi, lalu membayangkan sudah seberapa jauhkah aku dari bumi?? aku melihat…langit begitu luas, dan begitu besar…jika tadi aku hanya bisa terbang ke atas, maka sekarang aku bisa melakukannya di semua sisi. langit seperti tidak bersisi, dan tidak berujung, aku lalu berpikir…kapan perjalanan ini akan berakhir jika aku mencari ujung sebuah langit? apakah perjalanan itu akan berakhir atau tidak akan berhenti…hingga nanti aku tahu, bahwa sebenarnya langit itu tidak berujung?!

aku memandang lekat bumi yang sudah sebesar bola kasti…rasanya aku bisa meremas atau melempar bumi jauh, namun tangan kecil ini ternyata hanya bisa membayangkan namun tidak bisa menjangkau…tiba-tiba aku rindu bumi. aku tersenyum kepada Zeus dan Akash Bhairab, dan mereka membalas senyumku sambil melambaikan tangan…aku segera menuju bumi, turun perlahan…kembali ke tubuhku dan terbangun…

“Ah…jam 8…udah berapa jam Gede tidur?”…

“Lama…se akan kamu itu terbang dan menungjungi angkasa”, sahut tanteku tidak melepas pandangannya dari TV…

aku tersenyum lalu berkata, “Ya…dan ternyata disana indah sekali…”, sahutku sambil berjalan pelan menuju dapur mengatasi rasa lapar yang mendera. ternyata mengunjungi angkasa sangat melelahkan dan sekarang aku benar-benar lapar…

suatu saat nanti aku akan mengunjui Exosphere sekali lagi…bertualang kembali dengan Zeus dan Akash Bhairab…mungkin ke tempat yang lebih jauh di bandingkan Exosphere, mungkin lebih tinggi lagi…dan lebih indah lagi…