Thanks to Nappo Berna and his song Sweet Surrender yang menemani malam ini, ketika mata saya sudah setengah mengantuk. His songs really put me in ease, let my mind floating away with the sound of the trumpet and melody from guitar.
Dan seperti Nappo Berna, saya sendiri in a state of surrender. Surrender to the things that drifting away for past few day. Mungkin karena kekurangan pulsa, atau ada satu hal dan lainnya, misalnya ujian tengah semester, dan lain-lain sebagainya.
Pada sebuah hubungan yang saya berusaha jalani, there is a lot of things that might be you called as a drifting away period. And as a fact this things not only happen to me.
Saya pernah membaca quote dari seseorang kurang lebih seperti ini bunyinya:
“You meet someone and getting close. It’s been great for a while. Then someone stop trying, talk less, and no conversation so the memories start to fade. Then the person you KNOW becone you KNEW. That’s usually it goes, sad isn’t?”
Ada banyaknya hal itu benar, karena sebenarnya relationship, seperti apa yang diajarkan oleh adik saya seperti tetesan air.
“Sekuat apapun batu jika diberikan tetesan air pelan-pelan batu itu akan berlubang juga. Begitu juga wanita, sekeras apapun dia, jika kita bisa memberikan perhatian-perhatian kecil maka niscaya si wanita akan luluh juga.”
Namun pertanyaannya adalah, batu itu bisa berlubang karena sang batu “tidak menolak” tetesan air. Sedangkan jika sang wanita tidak mau menerima perhatian-perhatian kecil yang kita berikan, masihkah dia akan luluh?
Jangan tanya saya, karena saya bukan wanita. Namun jika benar adanya maka satu hal yang pasti she won’t be drifting away right now, right?
Namun muncul kembali pertanyaan sederhana, apa sebenarnya penyebab kita menjadi “jauh” dengan orang yang beberapa waktu lalu “dekat” dengan kita. Apa yang menyebabkan kita mengambil langkah menjauh, apa yang menyebabkan kita menjaga jarak dan interaksi dengan orang tersebut.
Mungkin saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan sempurna, namun paling tidak saya punya theory untuk hal ini, “kenapa kita menjauh?”
Pada dasarnya ketika kita ingin memulai hubungan akan selalu muncul sebuah pertanyaan dalam benak kita.
“Is she/he the right one?”
Pertanyaan ini akan mengundang 2 hal dalam diri kita untuk berunding mencari kesepakatan, kesepahaman. Namanya adalah:
“Hati dan Logika”
Dan dalam ke kompleksitasnya hati dan logika akan beradu pendapat hingga menghasilkan kesimpulan. Saya tidak paham bagaimana cara mengukur nilai dari hati dan logika, variable-variable yang digunakannya sebagai tolak ukur, dll. Namun mungkin jika saya boleh membayangkan maka mungkin saja logika akan bertanya.
“Apakah dia sesempurna mantan kamu? Apakah dia secharming seperti orang yang selalu kau tunggu kedatangannya (oke yang ini mirip lirik lagu Ridho Rhoma)? Apakah dia sekeren orang yang selalu mengantar kamu pulang? Apakah dia selucu orang-orang disekitarmu?”
Dan saya yakin kalau subjectnya saya dengan pertanyaan di atas maka saya yakin sang wanita akan menjawab “tidak” pada semua pertanyaan di atas.
Namun sayangnya itu cuma contoh, saya sendiri tidak tau pasti apa sebenarnya yang dia gunakan untuk bertanya kepada pikiran dan hatinya, apa yang sebenarnya pikiran dan hatinya lakukan saat ini. Sumpah, saya tidak tahu. Jika saya tahu maka tidak mungkin saya menulis.
“I never whis to know about whole world, if I may I wish I knew what is in her heart right now!”
Sekedar untuk menghilangkan curiosity pada diri saya, dan paling tidak dengan mengetahui jawaban sebenarnya saya jadi bisa berpikir jernih dan tidur nyenyak.
Namun semakin saya berusaha menebak, semakin saya bingung dibuatnya, semakin jauh rasanya dia, semakin saya tidak mengerti sebenarnya apa isi hatinya.
Mungkin ini namanya penasaran, seperti yang lagu dangdut katakan.
“sungguh mati aku jadi penasarannnn …”
Sayangnya saya tidak sampai mati memikirkannya. Sama seperti Nappo Berna, I choose to surrender. Jadi instead of think about it I just need to move on.
Namun seperti Nappo Berna, I want to surrender as a sweet surrender. Bukan berarti saya menyerah dengan menggunakan bando dan pita rambut agar terlihat sweet. Tetapi at least in my surrender saya ingin menepati janji saya, yang entah dia ingat atau tidak. Saya ingin memberinya semangat selama UTS, karena saya tahu how fragile she is. So at least I still can make her smile on her tought week.
“Semangat! I’ll keep cheering on you! So do the max gals
“
Mungkin ini yang dinamakan bahwa garis takdir kami berdua belum benar-benar bersinggungan. Namun jika memang Tuhan mengijinkan, maka suatu saat nanti garis takdir kita akan bersinggungan, suatu hari lagi saya dan dia merasa bahwa hubungan kamk spesial. Siapa tahu? Seperti yang Dave Koz mainkan dalam lagunya yang berjudul “Together Again”.
Someday if God will, then we will meet each another again with another story! Hopefully a better one, so we can be together again.
Good night and have a good dream! Thank you Nappo Berna, thank you Dave Koz. Thank you….